Asma’ul Husna Aug31

Tags

Related Posts

Share This

Asma’ul Husna

 

Gambar dari berbagai sumber

AQL Islamic Center – Firman Allah SWT.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf: 180)

Allah adalah nama yang hanya dimiliki Yang Haq Subhânah wa ta’ala. Dia menjadikannya sebagai nama-Nya yang pertama, dan menisbatkan semua nama kepada nama ini. Dia tidak menisbatkan nama ini kepada nama selainnya. Seluruh nama Allah yang berada di dereten sesudah nama (الله) menjadi kata sifat bagi nama tersebut. Dari segi kandungan makna (definisi)nama ini menunjukkan Al-Ilâh Al-Haqq (Sesembahan Yang Haq). Dan dari segi cakupan, nama ini menunjukkan seluruh nama Ilahi.

Di samping itu, nama Allâh ini mempunyai karakteristik yang tidak terdapat pada nama-nama Allah Ta‘ala lainnya:

Pertama, apabila lafazh (الله) Allâh dihilangkan huruf alif-nya, maka ia berbunyi (لله) lillâh / bagi Allah, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Fath [48]: 7)

Apabila huruf lam-nya yang pertama dihilangkan, maka ia berbunyi (له) lahû / bagi-Nya,sebagaimana terdapat dalam firman Allah:

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: “Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (az-Zumar [39]: 63)

Dan bila huruf lam-nya yang terakhir dihilangkan, maka ia berbunyi (هُوَ) huwa / Dia. Kata ini juga menunjuk kepada Allah Ta‘ala, sebagaimana di dalam firman-Nya:

قُلْ هُوَاللهُ أَحَدُ

Artinya: “Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa.” (al-Ikhlas [111]: 1)

Huruf wawu pada kata huwa adalah tambahan, dengan bukti bahwa ia dihilangkan pada bentuk tatsniyah dan jama‘, semisal kata (هما) humâ  / keduanya dan (هم) hum / mereka,dimana tidak ada huruf wawu di dalam kedua kata ini. Keistimewaan ini hanya ada pada lafazh Allah, dan tidak ada pada nama-nama lain.

Kedua, kalimat syahadat—yaitu kalimat yang bila diucapkan maka orang kafir berpindah dari kufur kepada Islam—tidak sah kecuali dengan menyebut nama ini. Seandainya orang yang kafir mengatakan, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Ar-Rahmân Ar-Rahîm”, maka ia belum keluar dari kekufuran dan memasuki Islam.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa dari segi cakupan makna nama Allah itu mencakupi seluruh nama-nama Allah yang lain, yaitu nama-nama yang keseluruhannya menunjukkan kesempurnaan, keagungan dan keindahan. Dan dalam kamus bahasa Arab Allah itu berarti yang disembah yaitu satu-satunya yang berhak disembah dalam arti hanya kepada Dia lah kita beribadah. Sebagaimana di dalam firman-Nya:

وَهُوَ ٱللَّهُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَفِى ٱلْأَرْضِ

Artinya: Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi”. (al-An’am [6]: 3).

Maka makna nama Allah mencakupi dua maksud besar yang saling berkaitan, yaitu:

Pertama, Tuhan yang mempunyai semua sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan keindahan.

Kedua, Dialah sesembahan yang seseorangpun tidak berhak disembah selain Dia.