Angkat Topi pada Erdogan

Erdogan - dari berbagai sumber

Erdogan – dari berbagai sumber

AQL Islamic Center – MAU tidak mau, suka tidak suka, kita memang harus angkat topi, sekali lagi kepada PM Turki Reccep Tayyip Erdogan. Perdana menteri Turki itu lagi-lagi maju terdepan membela pembantaian kaum muslimin.

Dan teranyar adalah aksi Erdogan mengecam keras pembantaian 14 Agustus 2013 di Mesir, dengan mencetus simbol 4 Jari sebagai perlawanan Mesir.

Bahkan ia berhasil meredam kekisruhan demonstrasi anti Syariah Islam di negaranya yang dilakukan sebagian rakyat Istanbul di Gezi Square sekitar bulan Juni lalu.

Kini terbukti akibat penerapan syariat tersebut, tak ada gereja yang dibakar, tak ada kebebasan umat non Muslim yang diganggu, tak ada umat Islam yang dibuat merana seperti perlakuan rezim militer Mesir kepada rakyatnya saat ini, kecuali yang terganggu hanya penjualan industri minuman keras yang semula marak di Turki, namun kini menjadi haram.

Erdogan juga yang terdepan dalam mengutuk pembantaian relawan kapal bantuan untuk rakyat Palestina Mavi Marmara pada tahun 2010 lalu. Ia dengan tegas mengecam tindakan brutal Israel yang menyerbu kapal tersebut di laut Tepi Barat, dan menewaskan 19 orang relawan, sebagian besar berasal dari Turki.

Dengan tegas Erdogan meninggalkan forum pertemuan pemimpin ekonomi dunia di Davos Swiss pada 29 Januari 2009, akibat tersinggung dengan ucapan santai Presiden Israel Shimon Peres yang membenarkan isolasi Gaza yang membuat penduduk Palestina di wilayah itu menderita.

Sikap tegas kembali ditunjukkannya ketika berpidato di depan Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 22 September 2011.

Perdana Menteri Turki tersebut mengingatkan bahwa Israel masih mengingkari Resolusi 98 yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB.

Tegas, tak takut embargo, padahal Turki adalah negara Islam satu-satunya yang menjadi anggota NATO.

Berarti dibandingkan negara-negara Teluk kaya minyak seperti Arab Saudi, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, dan lainnya yang selama ini dianggap pengikut setia kebijakan Amerika Serikat meskipun itu kebijakan yang anti Islam, harus diakui, Turki lah negara Islam yang paling dekat hubungannya dengan Amerika Serikat dan sekutu nya.

Saat ini pun, negara-negara Teluk tersebut, menjadi pendukung kuat rezim militer pimpinan Jendral Abdel El Fatah El Sisi, yang tercatat telah lebih dari dua kali membantai jamaah sholat Subuh demonstran pendukung Mursi.

Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan mengimbau Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa segera turun tangan menyikapi pertumpahan darah di Mesir ini. “Mereka yang diam melihat pembantaian ini sama bersalahnya dengan yang melakukan pembantaian,” kata Erdogan.

Ya, lagi-lagi Erdogan yang maju terdepan membela pembantaian kaum muslimin.

“Saya menyerukan negara-negara Barat. Kalian diam di Gaza, juga diam di Suriah … Kalian masih diam pula di Mesir. Jadi bagaimana kalian bisa bicara mengenai demokrasi, kebebasan, nilai-nilai global dan hak asasi manusia!” kata Erdogan.

Lalu jangan tanya soal Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang bergelar Haji, baru kemarin tanggal 15 Agustus 2013 berkomentar prihatin, ya hanya sebatas prihatin, bahwa tindakan militer Mesir adalah kejahatan HAM.

Bahkan SBY masih belum berani menarik Dubes RI dari Mesir, menarik pulang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir atau menyerukan agar mereka ikut membantu menjadi relawan. (Islampos/Abu Ibrahim)

Oleh: Andhika Heru