“Kami Rindu Abi Bachtiar…” Sep02

Tags

Related Posts

Share This

“Kami Rindu Abi Bachtiar…”

Abi Bachtiar (tengah: berpeci) saat dikerumuni pelajar seusai memberi "Ceramah Jum'at" di Banda Aceh. Tampak Wakil Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal (kiri: jilbab putih) ikut berfoto.

Abi Bachtiar (tengah: berpeci) saat dikerumuni pelajar seusai memberi “Ceramah Jum’at” di Taman Sari, depan Kantor Balaikota Banda Aceh. Tampak Wakil Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal (kiri: jilbab putih) ikut berfoto.

AQL Islamic Center — 29 Agustus 2013:

RASA jengkel sempat menghampiri perasaan kami. Ketika seorang operator di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta mengumumkan penundaaan keberangkatan pesawat kami menuju Aceh.

Pesawat Garuda Indonesia Airway nomor penerbangan GA 146, yang semula dijadwalkan lepas landas tepat pukul 12:00 WIB, katanya, terpaksa ditunda tiga puluh menit. “Karena ada keterlampatan kedatangan pesawat tersebut dari Balikpapan, Kalimantan Timur,” tambahnya.

Namun kejengkelan itu pun mulai mereda. Ketika cahaya matahari sore di langit Banda Aceh menembus celah jendela pesawat, yang menerpa wajah kami hingga membangunkan kami dari tidur sekitar dua setengah jam di dalam pesawat.

Terlebih, kejengkelan kami pun benar-benar sirna seketika, saat sejumlah senyuman menyambut kami di pintu keluar Bandara. Senyuman dan pelukan penuh makna itu datang dari sejumlah calon Pengurus Wilayah MIUMI Aceh, yang dipimpin M. Yusran Hadi, yang khas dengan janggut lebatnya mirip pejuang Thaliban.

Ya, kami berempat memang rombongan Pengurus MIUMI Pusat, yang esok lusa (31 Agustus 2013) akan melantik Pengurus Wilayah MIUMI Aceh periode 2013-2016. Kami terdiri dari Sekjend MIUMI Pusat Ust. Bachtiar Nasir, Wakil Sekjend MIUMI Pusat Ust. Fahmi Salim, Anggota Dewan Pimpinan MIUMI Pusat Adnin Armas, serta penulis mewakili tim AQL Multimedia. [Baca juga: MIIUMI Diminta Luruskan Penegakkan Syariah Islam di Aceh]

Dari bandara kami pun diantar panitia menuju Hotel Kuala Radja, Banda Aceh, untuk beristirahat dan mandi sore.

***

Usai shalat magrib di Masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh, Ust. Bachtiar Nasir dijadwalkan mengisi “Pengajian Ba’da Magrib”. Pengajian ini adalah salah satu tradisi para ulama Aceh yang masih bertahan hingga kini.

Dimana sebagian besar masyarakat Aceh, lelaki dan perempuan; anak-anak, remaja, dan orangtua; selepas shalat magrib, tak boleh melakukan kegiatan lain selain membaca Al Qur’an atau mendengarkan pengajian yang dibimbing seorang ustadz atau ulama.

Saat pengajian magrib itu hendak dimulai, agaknya sebagian besar jamaah belum mahfum siapa ustadz yang akan memberikan materi yang disebutkan dari Jakarta. Namun, ketika pembawa acara menyebutkan bahwa ia adalah sang “Abi Bachtiar”, barulah mereka mengangguk-anggukkan kepala pertanda mereka baru tahu siapa sosok ustdz berpeci hitam dan berjas coklat di hadapan mereka itu. Memang terkadang sosok seseorang di layar kaca, terkesan “pangling (berbeda)” bila terlihat di tampilan keseharian.

Jamaah tampak antusias mendengarkan tausiyah yang berlangsung hingga menjelang shalat isya. Terlebih suara khas Abi Bachtiar begitu lembut menuturkan petuah dan begitu semangat menjelaskan kandungan makna Al Qur’an yang ditadabburinya.

Sebutan Abi Bachtiar untuk sapaan akrab Ust. Bachtiar Nasir, memang belakangan kian populer selepas pada bulan Ramadhan 1434H lalu. Ia adalah salah satu juri pada program “Tahfiz Indonesia” di RCTI.

Dan kepopuleran nama itu benar-benar dirasakan oleh anak-anak dan para orangtua, khususnya ibu-ibu, yang sepanjang bulan Ramadhan lalu, di sore hari —menjelang berbuka— tak lepas menyaksikan acara yang cukup fenomenal tersebut.

Sampai-sampai, seusai shalat isya, saat dilakukan perkenalan Pengurus MIUMI Pusat dengan para tokoh ulama, tokoh masyarakat, aktivis ormas Islam dan sejumlah masyarakat muslim, seorang bapak –layak disebut kakek– ketika ingin memulai pertanyaannya di sesi tanya-jawab, tiba-tiba berkata:

“Maaf, sebelum saya mengajukan perertanyaan, saya mau bertanya dahulu: apakah bapak ini adalah orang yang menjadi hakim di acara Tahfidz Indonesia itu?”

Setelah Abi Bachtiar membenarkannya dengan senyuman, sang penanya yang ternyata tokoh Ketua Forum Kristologi & Spilisme Drs. H. Rusydi, SH, MA itu, kembali berkata: “Alhamdulillah… Jujur, saya tidak pernah tidak menangis menyaksikan acara anak-anak penghafal Al Qur’an di RCTI itu,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

***

30 Agustus 2013:

Kepopuleran nama Abi Bachtiar di hari kedua lawatannya di kota Banda Aceh kian terasa. Ini terlihat dari begitu antusiasnya para pelajar, serta sejumlah pimpinan dan jajaran pegawai Pemkot Banda Aceh yang  menghadiri “Ceramah Jum’at” di Taman Sari, seberang Gedung Balai Kota Banda Aceh.

“Ceramah Jum’at” yang dilakukan setiap Jumat pagi (Pkl. 09:00-11:00 WIB) ini adalah kegiatan rutin yang digagas Wakil Walikota Banda Aceh ibu Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE. Dakwah mingguan ini, merupakan salah satu kegiatan untuk menggalakkan penerapan penegakkan Syariat Islam di kota Banda Aceh, yang wajib dihadiri sejumlah sekolah di kota Serambi Mekah itu.

“Baru kali ini, acara Ceramah Jum’at ini begitu meriah. Ini karena yang memberikan materi Abi Bachtiar,” ungkap ibu Wakil Walikota.

Memang acara yang berlangsung di bawah tenda besar untuk memayungi terik matahari Aceh yang menyengat itu, berlangsung cukup meriah. Bukan hanya karena pesertanya yang membludak untuk menyaksikan Abi Bachtiar. Tetapi, ketika menyinggung tentang pentingnya rasa kebersamaan sesama muslim, Abi Bachtiar mampu mengajak para pelajar untuk melakukan gerakan Tari Saman secara serempak.

Keceriaan dan tawa menyeruak ke seluruh peserta. Tak terkecuali senyuman pun mengembang dibibir ibu Wakil Walikota dan Walikota Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc..

“Itulah Tari Saman dari Tanah Aceh sendiri, yang mencerminkan pentingnya rasa kebersatuan dan kekompakan masyarakat Aceh. Masing-masing punya perannya sendiri. Jika salah satu saja tidak kompak melakukan gerakan, maka semuanya akan berantakan,” ungkap Abi Bachtiar mengilustrasikan.

Tak ayal, seusai acara, Abi Bachtiar pun diserbu para pelajar, guru, dan ibu-ibu, termasuk ibu Wakil Walikota yang ingin berfoto bareng. Dan dengan keramahannya yang khas, Abi Bachtiar melayaninya dengan sabar. Sampai-sampai tak terasa sudah lebih dari tiga puluh menit foto sesion itu berlangsung.

Akhirnya menjelang Pkl. 11.30 WIB, Abi Bachtiar dan rombongan pun bergegas pergi menuju Masjid Kampus Universitas Syah Kuala, Banda Aceh. Pasalnya ia sudah dijadwalkan memberi Khutbah Jum’at di salah satu universitas negeri di Aceh, yang saat ini tengah menggelar ospek mahasiswa baru.

Di masjid kampus ini pun ada kejutan kecil. Seusai menyampaikan khutbah dan shalat Jum’at –ketika jamaah mulai sepi–, empat orang anak usia Sekolah Dasar dari arah belakang menghampiri Abi Bachtiar. Ketika baru saja melaksanakan shalat sunah ba’diyah, Abi Bachtiar langsung disalami keempat anak itu dengan menciumi tangannya.

Saat mencapai tangga keluar masjid, keempat anak yang berpapasan dengan penulis, tampak tersenyum lega. Salah satu di antara mereka berkata: “Yes…! akhirnya awak bisa berjumpa dengan Abi Bachtiar.” “Awak juga…!” ujar yang lain.

***

31 Agustus 2013:

Kebahagiaan bisa bertatap muka langsung dengan Abi Bachtiar ternyata juga dirasakan seorang ibu asal Medan, Sumatera Utara, yang kebetulan sama-sama menginap di Hotel Kuala Raja. Ibu berusia di atas 50 tahunan ini adalah pegawai Kementrian Agama yang sedang ditugaskan di Banda Aceh.

“Alhamdulillah nak… do’a ibu dikabulkan Allah untuk bisa bertemu dengan Abi Bachtiar,” ujarnya berkaca-kaca kepada penulis. “Ibu rindu nian sama beliau…, yang tadinya cuma bisa ibu lihat di layar tivi,” sambungnya.

Menurutnya, ia tak pernah lepas menyaksikan acara Tahfiz Indonesia di RCTI selama bulan Ramadhan lalu. Ia sangat terharu dan sering menagis ketika melihat anak-anak cilik yang tampil menghafal Al Qur’an.

“Apalagi kalau Abi Bachtiar sudah memberikan penilaian kepada peserta dengan tutur katanya yang lembut. Petuahnya juga membuat hati ibu tersayat-sayat,” katanya.  “Ibu benar-benar rindu sama beliau walau belum pernah jumpa sebelumnya… Tapi Allah sudah membayar kerinduan ibu,” tuturnya lagi sambil mengusap air matanya yang mulai meleleh di pipinya.

Abi Bachtiar pun berjajnji, akan kembali lagi ke Bumi Serambi Mekah lain waktu. Selain banyak jenis makanan khas Aceh yang membuat ia rindu untuk kembali ke sana, juga ia ingin sekali audisi Tahfiz Indonesia tahun depan bisa dilakukan secara meriah di Tanah Syariat islam itu. Insya Allah… ***

Oleh: Abu Lanang