Tauhid Asma wa Shifat (2) Sep04

Tags

Related Posts

Share This

Tauhid Asma wa Shifat (2)

Ilustrasi

Ilustrasi

AQL Islamic Center – 

Metode Yang Benar Berkenaan Dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Dalam masalah ini metode yang benar ialah meyakini dan membenarkan secara sempurna dan tanpa keraguan sedikitpun terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya, baik yang ada di dalam al-Quran maupun as-Sunnah, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menyerupakan, dan mengilustrasikan hakikat keadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut.

Mengubah nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menggantinya dengan bentuk lain. Terdapat dua bentuk pengubahan berkenaan nama-nama atau sifat-sifat Allah:

1. Mengubah secara lafadz, yaitu menambah atau mengurangi huruf atau mengubah harokat yang ada pada lafadz-lafadz yang berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Seperti menambah huruf ‘lam’ pada lafadz ‘istawa’ yang terdapat di dalam al-Quran surat Thahaa ayat 20, sehingga lafadz itu menjadi ‘istaula’

2. Mengubah secara makna. Yaitu menafsirkan lafadz-lafadz yang berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah secara tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti menafsirkan kata ‘al-yadu’ bagi Allah ‘azza wa jalla yang maknanya adalah tangan, menjadi ‘al-quwwah’ (kekuatan) atau ‘an-ni’mah’(anugerah).

Meniadakan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menafikan sifat-sifat Allah atau tidak meyakini keberadaan sifat-sifat tersebut. Seperti orang yang mengatakan “Allah tidak mendengar atau melihat” atau yang semisalnya.

Menyerupakan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menyerupakan nama-nama atau sifat-sifat tersebut dengan makhluk. Seperti orang yang mengatakan “Allah mempunyai pendengaran seperti pendengaran kita”, atau “Allah punya wajah seperti wajah kita” dan yang semisalnya.

Mengilustrasikan hakikat keadaan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu membayangkan sifat-sifat itu dengan bentuk-bentuk tertentu. Seperti mengilustrasikan bahwa tangan Allah keadaannya adalah demikian dan demikian, atau Allah berada di atas ‘Arsy-Nya dengan keadaan begini dan begitu, dan yang semisalnya. Sungguh perkara ini adalah batil, karena tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan sifat-sifat Allah kecuali Allah sendiri. Seluruh makhluk sama sekali tidak ada yang mengetahui hal itu. Mereka tidak mampu untuk mencapainya.

Metode ini terangkum dalam tiga perkara. Barangsiapa merealisasikan tiga perkara ini, ia akan selamat dari penyimpangan dalam masalah ini. Tiga perkara itu adalah:

  1. Mensucikan Allah ‘azza wa jalla dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk. Karena Allah berfirman

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 yang artinya “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 74)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

 “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

 dan “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS.al-Ikhlash: 4).

  1. Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaih wa sallam sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Subhaanahu wa ta’ala. Allah berfirman

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيم هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

yang artinya: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hasyr: 22-24)

  1. Menghilangkan keinginan untuk mengetahui hakikat keadaan sifat-sifat Allah ta’ala. Karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil bagi makhluk. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

 yang artinya: “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaaha: 110)

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 yang artinya“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An’am: 103)  (Buletin As-Sunnah)