Abi Bachtiar dan Tamu Tak Diundang… Sep06

Tags

Related Posts

Share This

Abi Bachtiar dan Tamu Tak Diundang…

ubn & pemabuk#1

AQL Islamic Center – Bulan Syawal masih di pertengahan. Atmosfir Hari Raya masih kental terasa di badan. Nuansa silaturrahim pun masih belum cair menghilang.

Kesibukan di “rumah” kami: AQL Islamic Center, masih terasa lengang. Lelah urat-urat tubuh sehabis mudik “Lebaran” tengah diregangkan.

Shalat Isya pun baru saja kami laksanakan. Kalimat salam baru saja kami ucapkan…

Saat dzikir dan do’a hendak kami panjatkan… sontak muncul suasana ketegangan. Suara gaduh terdengar dari arah tempat wudhu ikhwan. Suasana khusyuk seketika buyar…

Tampak dari pandangan, sesosok tubuh melangkah gontai. Ia baru bangun dari jatuhnya.

Ternyata, ia seorang pemabuk yang baru saja masuk ke dalam “rumah” kami. Rupanya, kami kedatangan seorang “tamu tak diundang”!

“Tadi dia mau kencing di tempat wudhu, tapi saya larang…,” kata seorang jamaah yang sedang berwudhu kala tamu tak diundang itu masuk. “Saya suruh saja dia masuk ke toilet ikhwan, eh dia malah terjatuh,” imbuhnya lagi.

Suara tubuh pemabuk itu terjatuhlah, yang tadi membuat suasana menjadi heboh. Apalagi ia terus saja berteriak-teriak dengan artikulasi suara tak jelas. Yang jelas, hanya bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya yang tak henti-hentinya berkicau.

Kami pun berusaha menghampiri untuk menolongnya. Namun malah makian dan lontaran kalimat tak senonoh yang kami terima.

Kami mencoba bersabar. Sampai seseorang yang mengaku teman si pemabuk, ikut menghampirinya. Tapi kalimat makian dan kosa kata tak sopan, tetap saja terlontar.

Melihat suasana belum terkendali, akhirnya Abi Bachtiar –panggilan populer Ust. Bachtiar Nasir— yang juga baru selesai shalat Isya bersama kami, menghampiri TKP (tempat kejadian perkara).

Menyaksikan sosok berpeci hitam dan berbaju gamis itu menghampirinya, sontak sang pemabuk meraih tangan ustadz dan menciumnya. Abi Bachtiar pun menyambutnya dengan pelukan hangat. Dipeluknya tubuh gontai itu dengan sepenuh hati. Seketika tangisan pun pecah tak terkendali…

“Ustaaadzzz… gua mau tobaaat…! Tapi pasti Allah nggak mau ampunin gua…,” katanya setengah berteriak di hadapan Abi Bachtiar. “Karena gua pernah nyolong… gebukin orang… Gua juga pernah nggorok leher orang… Jadi Allah nggak bakal ampunin gua…,” tangisnya kembali meledak.

“Kata siapa Allah nggak mau maapin looo…?!” sahut Abi Bachtiar dengan gaya dan bahasa yang tak seperti biasanya. Ia mencoba berorientasi dengan siapa ia berbicara.

“Gua jamin Allah pasti maapin looo… Orang yang sudah pernah membunuh 99 kali seperti yang diceritain Rasulullah aja masih diterima tobatnya sama Allah,” kata Abi Bachtiar.

“Nggak mungkin Ustadz… Allah nggak bakal terima tobat gua…! Lo nggak tau si taaadz… Hidup gua udah kacau tau…!,” sanggah sang pemabuk.

Tiba-tiba suasana kembali tak terkendali ketika seseorang yang mengaku kenal si pemabuk menghampirinya untuk membawanya keluar dari “rumah” kami. Agaknya, si pemabuk tak mau diganggu. Ia kontan marah dan meronta, jika ada orang lain menganggu “curhatnya” ke Abi Bachtiar.

Melihat gelagat itu, akhirnya Abi Bachtiar meminta orang-orang yang berada di sekitar mereka berdua untuk menjauh. Ia pun kembali merangkul si pemabuk. Dan pemabuk itu menerima rangkulan itu sambil menjabat dan mencium tangan Abi Bachtiar.

Akhirnya mereka berdua pun ngobrol. Layaknya teman akrab yang sedang melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Mereka duduk di lantai depan pintu toilet ikhwan. Tanpa mempedulikan kotornya lantai yang mereka duduki, atau menggubris bau tak sedap yang sesekali lewat dari arah toilet itu.

Mereka tampak akrab. Kadang sang pemabuk tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Abi Bachtiar, yang dibalas dengan tepukan yang sama. Entah apa yang mereka bincangkan, karena kami hanya bisa mengintip dari balik jendela ruang kelas utama.

Kadang pula si pemabuk kembali berontak sampai hendak membanting botol minuman keras yang masih digenggamnya. Untung saja Abi Bachtiar kembali bisa menenangkannya dan merebut botol miuman keras itu, dengan pendekatan yang bersahaja. Sampai Abi Bachtiar bisa merayu si pemabuk untuk berwudhu.

Rasa mabuk sang preman itu memang belum reda benar. Langkah kakinya masih gontai. Kalimat serapah dan ucapan seronok masih terlontar dari mulutnya. Namun Abi Bachtiar kemudian bisa mengajaknya keluar AQL Islamic Center.

Ketika Abi Bachtiar ingin menyerahkan si pemabuk kepada keluarganya, ia malah menolak. “Gua masih mau ngobrol sama ustadz..,” katanya sambil kembali mengajak Abi Bachtiar masuk ke pekarangan AQL Islamic Center.

Dengan rangkulan yang akrab, mereka kembali terlibat perbincangan di teras “rumah” kami. Terungkap bahwa sang preman rupanya ingin pulang ke Kerawang, Jawa Barat, untuk menemui istri dan tiga anaknya.

Itulah rupanya yang membuat preman itu menenggak minuman keras. Ia merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan anak dan istrinya di Hari Raya Iedul Fitri 1434 H lalu. Sementara, rasa bersalah semakin bertumpuk, dengan keadaan dirinya yang belum bisa bertobat.

Melihat kesungguhannya ingin menjumpai keluarga di Kerawang, kemudian Abi Bachtiar memberinya sejumlah uang untuk ongkosnya pulang. Si pemabuk semula menolak pemberian itu. Ia mau menerima uang tersebut, jika Abi Bachtiar mau menerima handphonenya sebagai barang gadaian.

Tentunya saja Abi Bachtiar menolak. “Kalo handphoe ini lo kasih gua…, trus nanti gimana caranya kalo lo mau kasih tau keluarga lo kalo lo mau pulang?” tanya Abi Bachtiar.

Kali ini logika itu diterima sang pemabuk. “Udah lo kantongin aja uang ini untuk ongkos pulang, ya…?!” tambah Abi Bachtiar, yang disambut jabat tangan dan ciuman ditangan.

Abi Bachtiar pun kembali mengantarkan sang pemabuk keluar dari halaman AQL Islamic Center. Kendati tak mudah memang ia melepaskan diri dari rangkulan si pemabuk itu. Karena preman itu masih ingin ditemani “nongkrong” di trotoar pinggiran jalan bersama Abi Bachtiar.

Ajakan itu semula masih diikuti Abi Bachtiar. Namun larutnya malam, memaksanya untuk berpisah dengan “sahabat dekat” yang muncul sebagai “tamu tak diundang “itu…

Itulah sisi lain dari kehidupan keseharian Abi Bachtiar, sang guru ngaji kami. Ia tak memilih-milih siapa obyek yang hendak didakwahinya.

Namun tentu saja, perhatian dan kesabaran Abi Bachtiar ini, belum seberapa jika dibandingkan dengan kerendahan hati dan kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Nabi kita Muhammad SAW –sang teladan seluruh umat manusiia itu– masih mau menyuapi pengemis tua yahudi yang buta, walau setiap hari ia dimaki dan dihina di pasar yang selalu dilaluinya.

Tentu kisah keteladanan Rasulullah itu, yang telah menginspirasi kesabaran dan kebersahajaan Abi Bachtiar sebagai seorang guru ngaji… ***

Oleh Abu Lanang