Arab Badui yang membenarkan janji Allah SWT. Sep10

Tags

Related Posts

Share This

Arab Badui yang membenarkan janji Allah SWT.

AQL Islamic Center – Dalam hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh al-Nasa`i, Baihaqi dan Hakim disebutkan bahwa Syadad bin al-Hadi (seorang sahabat Nabi SAW) meriwayatkan bahwa seorang laki-laki badui datang menemui Nabi SAW., lalu dia beriman dan mengikuti beliau. Kemudian dia berkata, “Aku akan berhijrah bersama engkau?” Maka beliau menitipkan lelaki badui  tersebut kepada sebagian sahabat beliau.

Setelah terjadi suatu peperangan, Nabi  SAW. mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang). Beliau pun kemudian membagikan  harta rampasan tersebut untuk para mujahidin yang ikut dalam peperangan itu, termasuk untuk lelaki badui itu. Karena lelaki badui tidak ada pada waktu pembagian, maka Rasulullah SAW. menitipkan bagiannya kepada para sahabat. Setelah dia datang, para sahabat pun memberikan bagian itu kepadanya.

Tetapi, dengan wajah keheranan, lelaki badui itu pun berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Bagian yang telah Nabi  SAW. bagikan untukmu.” Kemudian dia mengambilnya dan membawanya menemui Nabi SAW., lalu ia pun bertanya kepada beliau, “Apa ini?” Rasulullah menjawab, “Aku telah membaginya untukmu.” Dia berkata, “Bukan untuk hal ini aku mengikuti engkau. Tetapi aku mengikuti engkau agar aku dilempari panah ke sini -dia menunjuk ke tenggorokannya dengan anak panah- sampai aku mati dan aku masuk surga.” Beliau bersabda, “Jika kamu jujur kepada Allah, niscaya Allah akan jujur kepadamu.”

Tidak lama kemudian, Nabi SAW. dan para sahabat kembali berperang melawan musuh. Setelah perang selesai orang badui tersebut dibawa ke tempat Nabi  SAW. dengan cara diangkat, dia terkena anak panah tepat di bagian leher yang dulu ia tunjukkan kepada Nabi SAW. Maka Nabi  SAW. bertanya, “Apakah dia orangnya?”. Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Dia telah membenarkan janjinya kepada Allah dan Allah pun memenuhi janji-Nya.”

Kemudian Nabi  SAW. mengkafaninya dengan jubah beliau. Beliau meletakkannya di depan dan menshalatkannya. Di antara bacaan yang kedengaran dalam shalat beliau adalah, “Ya Allah, inilah hamba-Mu, Dia telah keluar berhijrah di jalan-Mu. Lalu dia terbunuh dalam keadaan syahid, dan aku menjadi saksi atas hal tersebut.”

Harta rampasan perang adalah sesuatu yang halal untuk diterima dan dinikmati oleh setiap mujahidin di jalan Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW. sendiri yang membagikan harta rampasan itu, dan para sahabat Nabi SAW. terkemuka lainnya seperti Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab menerima dan mengambil manfaat dari harta rampasan itu.

Mungkin sebagian kita menganggap aneh perilaku Arab badui ini, bahkan mungkin kita menganggapnya sebagai bentuk berlebih-lebihan dalam beragama. Tetapi, melihat respon Rasulullah SAW. terhadap hal itu tentu kita yakin bahwa perbuatan itu bukanlah bentuk berlebih-lebihan dalam beragama yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana juga Abu bakar menginfaqkan seluruh harta kekayaan untuk membiayai perjuangan di jalan Allah SWT. dan ketika ditanya oleh Nabi SAW. apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya di rumah, dengan penuh keyakinan Abu Bakar menegaskan bahwa ia meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.

Tiada lain, ini adalah hasil dari pemahaman yang benar dan tujuan yang jelas dari kehidupan ini. Ini adalah buah dari keyakinan yang kuat akan kebenaran semua janji-janji Allah SWT. yang ditegaskan dalam al-Qur`an dan disebutkan Rasulullah dalam haditsnya. Hanya dengan pemahaman yang benar dan keyakinan yang kuat itu seseorang mampu menghadapi apapun bentuk ujian dan cobaan di dunia ini demi kebahagiaan hakiki nan abadi yang dijanjikan Allah SWT. untuk hamba-hambanya yang membenarkan janji-janji-Nya.

Seorang Arab badui yang sederhana, meskipun keislamannya belum terlalu lama, tetapi dia punya pemahaman yang kuat dan tujuan yang jelas. Keyakinannnya akan kebenaran janji Allah SWT. dan Rasul-Nya membuatnya melihat dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT. sehingga dia takut mengambil sesuatu yang akan membuatnya lalai dalam berjihad di jalan Allah SWT. Dia juga takut niatnya akan berubah. Mungkin pada awalnya niatnya tulus untuk berjihad karena Allah SWT. namun ia takut ketika melihat harta dan kepentingan dunia lainnya akan membuat niatnya berubah, padahal ia menyadari bahwa Allah SWT. hanya akan menerima ibadah hamba-Nya yang dilandasi keikhlasan hanya karena Allah SWT. semata.