PEMUDA INGGRIS MASUK ISLAM DI MALAM 911 Sep12

Tags

Related Posts

Share This

PEMUDA INGGRIS MASUK ISLAM DI MALAM 911

Kay Norfolk masuk islam berterpatan dengan peringatan 911

Kay Norfolk masuk islam berterpatan dengan peringatan 911

AQL Islamic Center – Tepat di malam peringatan “911” (Hari Darurat Amerika), seorang pemuda Inggeris, Kay Norfolk (27), pada 9 September 2013, justru memilih masuk Islam, sebagai agama “rahmatan lil ‘alamiin”.

Pembacaan dua kalimat syahadat pria kelahiran Portmuth, 3 Oktober 1986 ini sebagai mualaf, dibimbing lansgung oleh Pimpinan AQL Islamic Center Ust. Bachtiar Nasir. Malam itu, unit organisasi Young Islamic Leader (YI Lead) tengah menggelar acara seminar “Refleksi Dunia Islam Dalam Perspektif Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamain”

“Jika ‘Peristiwa 911’ yang biasa dilekatkan kepada umat Islam sebagai ‘Hari Terorisme Internasional’ ini hanya dilalui dengan peristiwa yang biasa-biasa saja, tentu kurang menarik,” ujar Bachtiar Nasir yang juga Sekjend Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia.

Karena itu, lanjutnya, akan menjadi istimewa jika pada hari tersebut, ada seorang “bule” calon Doktor Pendidikan asal Inggeris yang justru memilih masuk Islam. “Ini baru seru!” tegasnya lagi seraya menambahkan, “agar dunia tahu bahwa Islam adalah benar-benar agama yang membawa rahmat bagi alam semesta.”

Sebelum membimbing pembacaan dua kalimat syahadat, Abi Bachtiar –sapaan akrab Ust. Bachtiar Nasir–, terlebih dulu meminta Kay Norfolk untuk membacakan definisi “Lima Rukun Iman” dan Enam Rukun Islam”. Karena kedua rukun tersebut, harus benar-benar diketahui dan dipahami lebih dahulu oleh setiap orang yang ingin memeluk agama Islam.

Monoteisme 

Dihadapan sekitar seratus jamaah AQL Islamic Senter yang menyaksikan langsung pembacaan dua kalimat syahadat itu, Kay Norfolk mengungkapkan, ketertarikannya pada Islam dikarenakan faham monoteisme (percaya pada satu Tuhan) yang ia yakini. “Monoteisme adalah sebuah jalan untuk memahami Tuhan dengan cara yang lebih baik,” katanya.

Ia ingin mengetahui Islam lebih jauh, tambahnya, karena telah memiliki ketertarikan pada agama itu sendiri. “Meningkatnya agnostisisme dan ateisme, adalah bukan sesuatu yang tepat,” tegas Kay.

Pakar Policentrik Education ini menjelaskan, kecenderungan banyak orang di negaranya dan di sebagian besar bangsa Barat yang mulai menjauh dari agama, justru membuatnya ingin semakin mengenal Tuhan. Dan ia berharap dapat menemukan agama yang dapat membantunya lebih memahami Tuhan itu sendiri.

Lebih jauh ia memaparkan bahwa yang sedang berlangsung di dunia Barat sekarang adalah, semakin menghilangnya kebersamaan dalam sebuah komunitas agama. “Kebersamaan dalam sebuah agama di negara saya sudah hampir musnah,” tandasnya.

Menyinggung sekularisme yang justru tumbuh subur di Barat, Kay menambahkan, itu bukan sebuah faham yang tepat buat pengganti agama itu sendiri. “Bahkan, faham itu justru yang semakin mendekatkan manusia pada materialism dan tindakan amoral,” katanya.

Tentang pilihannya untuk menjadi mualaf, Kay menjelaskan lebih dikarenakan pada cara yang metodis. “Saya sudah mempelajari banyak agama, dan saya benar-benar meyakini monoteisme,” tuturnya.

Namun, katanya lagi, rata-rata agama yang pernah ia pelajari tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap keyakinan hanya pada satu Tuhan. “Padahal itulah yang ingin saya pahami lebih jauh,” tandasnya.

Hingga akhirnya, ia tertarik pada konsep moneteisme (tauhid) Islam melalui pembicaraan dan diskusi yang panjang dengan tunangannya. Dan ketika ia ditawarkan untuk membacakan dua kalimat syahadat di AQL Islamic Center tepat pada peringatan peritiwa 911, ia langsung menyambutnya dengan gembira.

Oleh: Abu Lanang