Ibnu Rawahah Menjemput Rencana Agung Oct02

Tags

Related Posts

Share This

Ibnu Rawahah Menjemput Rencana Agung

camelAQL Islamic Center – Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, engkau pasti akan mati jua!”

Syair itu selalu diucapkan lelaki itu, kala hendak menuju medan laga. Kemudian ia berdiri tegap. Lantas melontarkan syair yang penuh daya:
Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan
Mati syahid di medan perang!

Gema takbir meliputi pasukan Islam yang terus maju ke zona perang Muktah, Syam. Mereka akan berhadapan dengan pasukan yang begitu tenar dengan kedigdayaannya: Romawi. Jumlah tentara lawan pun tak tanggung-tanggung, sekitar 200 ribu personil. Sebuah kekuatan yang berkali lipat dari total tentara Islam.

Saking banyaknya pasukan Romawi, keberadaannya dapat terlihat oleh Muslim dari kejauhan. Jumlah beserta perlengkapan perang yang lengkap sedikit mempengaruhi nyali beberapa personil pasukan Islam.

Resah dan gelisah merayap di benak mereka yang kadar keimanannya masih tipis. Di antara mereka berujar, “Ada baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah untuk memberitakan jumlah musuh yang besar. Siapa tahu kita dapat bantuan tambahan pasukan. Atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi.”

Ungkapan kekhawatiran tersebut sempat meluas hingga mampir ke telinga lelaki yang menyenandungkan syair perjuangan itu, Abdullah Ibnu Rawahah. Di antara barisan pasukan Islam ia berdiri tegak demi menghalau ketakutan dan memberikan spirit perjuangan.

“Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah. Ayo kita maju. Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai: kemenangan atau syahid di jalan Allah.”

Kalimat-kalimat penuh makna itu menggugah semangat jihad. “Allahu akbar…” bersahut-sahutan. Saat lawan sudah berjarak ratusan meter, komandan jihad Zaid bin Haritsah memerintahkan pasukan di garda depan, untuk maju. Pertempuran dahsyat pun tak terelakkan…

Satu, dua, tiga, anggota pasukan Islam menjemput syahid. Begitu juga di pihak pasukan Romawi, satu, dua, hingga puluhan jiwa meregang nyawa. Di tengah kelebatan pedang dan hunusan pedang, Zaid terbunuh setelah menghabisi beberapa lawannya. Bendera perang segera ambil alih Ja’far bin Abi Thalib.

Perlawanan sengit terus berkecamuk. Ja’far dengan kecakapannya memimpin mampu mengarahkan pasukan Islam bersatu padu, menembus barikade tentara Romawi. Namun, dirinya tak kuasa tatkala senjata perang milik Romawi menembus dirinya.

Sebelum panji perang di tangan kanan Ja’far terlepas, Abdullah Ibnu Rawahah segera menyambarnya. Ia mengendalikan pasukan Islam yang tampak kewalahan menahan gempuran serangan tentara Romawi pimpinan Heraklius itu.

Ia mengakui bahwa kekuatan Romawi begitu hebat. Namun, kini sebagai komandan perang ia tak boleh memperlihatkan rasa ngeri dan kecemasan atas lawan yang tampak jor-joran diback up dari komandan pusat.

Sambil mengais sisa-sisa tenaganya, Ibnu Rawahah meneriakkan sebuah syair penggelora semangat jihad.
Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak surga
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh kau pasti kan mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya (Zaid dan Ja’far–red), itulah ksatria sejati

Tak selang lama setelah mendendangkan syair tersebut, lelaki gagah itu pun syahid bersimbah darah. Ia telah memenuhi cita-cita mulia ini sejak memegang komitmen setia kepada Rasulullah pada baiat Aqabah kedua.

Cita-cita itu telah ditapakinya dengan sempurna. Ia berupaya merealisasikan sehingga ia tak pernah absen dalam kafilah jihad baik di perang Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiyah, dan Khaibar.

Tatkala Rasulullah di Madinah mendengar kabar syahidnya Ibnu Rawahah, Zaid, serta Ja’far, matanya berkaca-kaca. Lalu berujar, “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke surga…” Ibnu Rawahah telah mendapatkan cita-cita agungnya. Syahid! (misroji, islampos/arya)