Langit Adalah Batasnya Oct11

Tags

Related Posts

Share This

Langit Adalah Batasnya

langitAQL Islamic Center – Seorang Direktris perusahaan logistik ketika ditanya mau sampai kapan ia bekerja membesarkan perusahannya, Ia menjawab: “Saya tidak tahu sampai kapan. The sky is the limit.” Begitu katanya.  Perempuan cantik dengan penampilan khas wanita karier metropolitan itu kembali menjelaskan. “Ketika kita ingin mengejar sesuatu yang kita yakini benar, maka kejarlah! Segala hambatan dalam berbisnis menjadi hal yang biasa dihadapi oleh semua pelakunya,”ucapnya tentang filosofi hidupnya.

Bisnis logistik diidentikkan dengan bisnis-nya laki-laki. Ditengah dominasi pria, perempuan itu menunjukkan taring yang tidak bisa dianggap remeh. Ia menunjukkan kinerja yang memukau. Performa perusahaanya tahun demi tahun meningkat. Jatuh bangun pada tahun-tahun pertama dianggapnya sebagai pembelajaran. Ia tidak menyerah dan terus bersemangat, bekerja ekstra keras. Tahun berikutnya laba mulai bisa dibukukan.

Ambisi sang Direktris bisa kita terapkan dalam memperjuangkan ditegakkannya panji-panji Allah. Dari perempuan itu ada sebuah pembelajaran tentang ketangguhan dan konsistensi. The sky is the limit adalah acuan kita untuk konsisten terhadap target yang ingin dikejar. Dalam perjalanan dakwah akan ditemukan beragam pertanyaan, penolakan bahkan sampai pada kekerasan fisik.

Ada masa-nya pikiran ini letih menghadapi itu semua. Kemudian muncul pertanyaan: “Mau sampai kapan?” The sky is the limit  adalah visi kita tentang surga dan keridhoan Allah. Jika sudah begitu, maka kelelahan hati dan pikiran akan terobati. Rintangan didepan mata akhirnya hanya akan menjadi kerikil kecil yang mewarnai kehidupan. Visi besar yang terpatri didada akan menyemangati kita bahwa kerja belumlah selesai hingga ajal menjemput.

Terus berbuat kebaikan dan berkontribusi untuk umat salah satunya bisa kita lihat melalui kisah Yudi Ramadhani. Dalam wawancara disebuah majalah, ia menceritakan kisahnya mengasuh anak-anak TKI. Saat ini Yudi penanggungjawab Rumah Peduli Anak (RPA) TKI.

Ada banyak laporan tentang bayi-bayi TKI, baik hasil perkosaan ataupun hubungan gelap yang dibuang begitu saja. Atau ada juga TKI yang kebingungan membawa anaknya. Dikampung asalnya, para TKI ini mungkin sudah mempunyai suami atau bisa jadi keluarga tidak mau menerima bayi itu.

Sebelum RPA TKI ini berdiri, marak terjadi jual beli bayi. Tidak ada payung yang melindungi mereka. Ada banyak TKI yang menitipkan anak-anaknya pada orang lain. Kalau sudah begitu, mereka akan meninggalkannya dan tidak lagi berkomunikasi untuk sekadar menanyakan kabar anaknya. Hubungan antara orangtua dan anak terputus. “Bagaimana jika nanti kondisi TKI mulai membaik dan Allah berikan hidayah sehingga mau melihat anaknya lagi, tapi tidak tahu harus kemana?”tutur Yudi mengenai alasannya menerima tawaran sebagai penanggungjawab disana.

Yudi yang sebelumnya sudah terbiasa mendidik anak-anak yatim dan dhuafa, sering berkunjung ke tempat para TKI itu berasal. Kebanyakan keluarga mereka tidak tahu perihal anak yang dilahirkan pada masa bertugas di luar negeri. Yudi pernah mengaku sebagai petugas bandara saat menemui keluarga TKI yang ditemuinya. “Saat saya ngobrol dengan TKI ini, suaminya datang. Tubuhnya besar dan bertato. Tiba-tiba Ia memukul saya karena mengira saya selinggkuhan isterinya,”tutur Yudi.

Demi kebaikan, ia bilang bahwa ia menemukan paspor isterinya dan hendak mengembalikannya. “Memang benar paspor dia ada di saya. Tapi itu paspor sekali jalan dari penjara Arab Saudi dan tidak bisa digunakan lagi,”ungkapnya. Jika Ia bilang tentang anak itu ke suaminya, ia akan dicerai. Tapi sebelum dicerai pasti dipukuli dulu.

Tanggapan sinis dan ancaman fisik tidak menyurutkan langkahnya untuk memperjuangkan hak bayi-bayi yang tak berdosa. Yudi pernah menerima bayi dalam kondisi cacat. Bayi itu diserahkan saat usianya baru berumur seminggu. Saat itu kecacatannya belum terlihat. Begitu tahu kondisi sebenarnya, Yudi   bersama tim sempat mengejar orangtua bayi itu ke Cianjur, Jawa Barat. Dari Jakarta, Ia sudah menghubungi ibu si bayi. Tapi sampai di Cianjur, Ibu itu sudah  tidak dapat dihubungi. Yudi tidak tahu harus kemana mencari alamat. “Saya sampai tidur di terminal karena mau menginap di hotel, uang tidak cukup. Hanya pas untuk pulang ke Jakarta,”ucapnya.

Tiga hari kemudian, si Ibu menelpon Yudi dan minta maaf. Akhirnya Yudi bertemu Ibu ini di imigrasi sebelum keberangkatannya kembali menjadi TKI. Yudi menduga penyebab kecacatan itu karena Ibunya pada saat hamIl sering meminum obat aborsi. “Dulu ketika tahu dirinya hamil, tiap pagi dan sore dia naik-turun tangga agar janinnya keguguran,”Yudi menambahkan. Menurutnya, hingga bayi itu berumur 2,5 tahun, ibunya tak pernah menanyakan perihal anaknya yang dirawat di RPA.

Ada juga seorang bayi yang diletakkan begitu saja di bangku ruang tunggu terminal 4 bandara. Tubuhnya ditutupi kain dari wajah hingga kaki. Mungkin karena tangannya bergerak-gerak berontak, ada salah satu petugas bandara yang menemukan. Wajah anak itu nyaris membiru. Alhamdulillah dengan cepat bisa diselamatkan. Setelah dilacak, akhirnya ketahuan siapa yang tega meninggalkan anaknya di bandara. Namun ibu si anak itu tidak ditemukan karena alamat yang dia berikan fiktif.

Keterbatasan materi tidaklah menyurutkan langkah Yudi untuk tetap memperjuangkan anak-anak TKI itu. RPA TKI bukan lembaga milik pemerintah. Mereka yang menitipkan anak disana tidak dikenakan biaya sedikitpun. Pengurus RPA TKI dilarang menerima uang dari TKI. Dana untuk anak-anak ini datang dari banyak pihak yang juga peduli terhadap anak-anak ini. “Saya tidak kenal para TKI ini. Tapi ini amanah.  Anak-anak ini tidak berdosa dan perlu ditolong. Mungkin kalau anak-anak ini bisa bicara, dia akan minta pada Ibunya agar bisa disayangi seperti anak-anak yang lain,”ungkap Yudi penuh keharuan.

Kisah Yudi hanyalah segelintir kisah para dai dan daiyah dimuka bumi. Banyak pejuang seperti Yudi lainnya yang jauh dari sorotan kamera dan ulasan artikel para kuli tinta. Walaupun mereka tidak terkenal di bumi, tapi nama mereka insya Allah harum dilangit.

Allah SWT sudah menjanjikan pahala bagi para pejuang yang bergerak dijalan-Nya. Segala kebaikan, walaupun terlihat kecil oleh manusia tapi dalam pandangannya-Nya, merupakan sesuatu yang berarti. Pahala surga yang menjadi tujuan akhir, mampu melejitkan diri mencapai potensi maksmimal. Inilah yang dimaknai sebagai the sky is the limit.

Oleh: Rias Andriati