Keutaamaan Hari Arafah dan Kondisi Ulama’ Salaf pada Hari Tersebut Oct14

Tags

Related Posts

Share This

Keutaamaan Hari Arafah dan Kondisi Ulama’ Salaf pada Hari Tersebut

Keutaamaan Hari Arafah dan Kondisi Ulama’ Salaf pada Hari Tersebut

arafah matahari Hari Arafah merupakan hari di antara hari-hari yang istemewa dan utama, hari dikabulkan doa-doa, diampunkan dosa-dosa, dan hari dimana Allah membanggakan orang-orang yang berwukuf  di Arafah di hadapan para malaikat.

Hari Arafah merupakan hari yang diagungkan oleh Allah dan ditinggikan derajatnya atas hari-hari yang lainnya,  hari dimana Allah telah sempurnakan agama dan nikmat-Nya, hari pengampunan dosa, dan hari pembebasan dari api neraka.

Pada hari seperti ini orang yang melaksanakan ibadah haji, seyogyanya mengetahui tentang keutamaan dan keistimewaannya disbanding hari-hari lainnya, dan mengetahui bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghabiskan waktunya pada hari tersebut.

Keutamaan hari Arafah

-      Hari disempurnakannya agama dan nikmat Allah kepada hamba-Nya.

Dalam riwayat shahih Bukhari, dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْيَهُودِ قَالَ لَهُ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ أَيُّ آيَةٍ قَالَ : )الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا( قَالَ عُمَرُ : قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ. [رواه البخاري]

Ada seorang laki-laki Yahudi berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami Kaum Yahudi, tentulah kami jadikan (hari diturunkannya ayat itu) sebagai hari raya (‘ied). Maka Umar bin Al Khaththab berkata: “Ayat apakah itu?” (Orang Yahudi itu) berkata: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian”. (QS. Al Maidah ayat 3). Umar bin Al Khaththab pun menjawab: “Kami tahu hari tersebut dan dimana tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada hari Jum’at ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di ‘Arafah.

-      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

»يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ« [رواه أبو داود، وصححه الألباني]

“Hari ‘Arafah dan Hari Qurban, serta hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita, orang-orang Islam. Hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.”

Dan diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Ayat (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ) diturunkan pada hari Jum’at di hari Arafah.”

-      Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersumpah atas Hari tersebut. Dzat yang Maha Agung tidak bersumpah kecuali atas sesuatu yang Agung. Hari tersebut merupakan al-yaum al-masyhud (hari yang disaksikan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

)وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ [البروج : 3]

Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

»الْيَوْمُ الْمَوْعُودُ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَالْيَوْمُ الْمَشْهُودُ يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّاهِدُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَمَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَلَا غَرَبَتْ عَلَى يَوْمٍ أَفْضَلَ مِنْهُ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يَدْعُو اللَّهَ بِخَيْرٍ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ وَلَا يَسْتَعِيذُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا أَعَاذَهُ اللَّهُ مِنْهُ« [رواه الترمذي، وحسنه الألباني]

“Hari yang dijanjikan” adalah Hari Kiamat, dan MASYHUUD adalah Hari Arafah sedangkan SYAHID adalah Hari Jum’at, dan matahari tidak terbit dan tidak pula terbenam pada suatu hari yang lebih baik daripada hari Jum’at, padanya terdapat waktu, tidaklah seorang hamba mukmin tepat pada waktu itu berdoa kepada Allah dengan kebaikan melainkan Allah akan mengabulkan baginya, dan tidaklah ia berlindung dari sesuatu melainkan Allah melindunginya dari sesuatu tersebut.”

Ada yang berpendapat bahwa alwitr  dalam firman Allah :

)وَالشَّفْعِ وَالْوَتْر( [الفجر: 3]

Dan demi yang genap dan yang ganjil.

Adalah hari Arafah.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yang genap adalah hari Adha, sedang yang ganjil adalah hari Arafah.” Ini adalah pendapat Ikrimah dan al-Dhahhaak.

-      Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun. Dari Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai puasa hari Arafah. Beliau menjawab :

»يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ« [رواه مسلم]

“Puasa itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.”
puasa hari Arafah tidak disunnahkan bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melaksanakan puasa pada hari tersebut ketika berhaji. Dan diriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa hari Arafah bagi orang yang berada di Arafah.

-      Hari Arafah adalah hari dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil kesaksian terhadap anak cucu Adam alaihis salam. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

»أَخَذَ اللَّهُ الْمِيثَاقَ مِنْ ظَهْرِ آدَمَ بِنَعْمَانَ يَعْنِي عَرَفَةَ فَأَخْرَجَ مِنْ صُلْبِهِ كُلَّ ذُرِّيَّةٍ ذَرَأَهَا فَنَثَرَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَالذَّرِّ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ قِبَلًا قَالَ : )أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ( « [رواه أحمد وصححه الألباني]

“Allah telah mengambil perjanjian (kesaksian) dari punggung Adam di Na’man, yakni Arafah. Lalu Dia mengeluarkan keturunannya dari tulang rusuknya, lalu menebarkan mereka di hadapanNya seperti benih. Kemudian Dia berkata kepada mereka secara langsung, (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku Ini Tuhanmu? ‘ mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? ‘).”

Sungguh agung hari tersebut!. Sungguh agung kesaksian tersebut!

-      Hari Arafah merupakan hari pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka, serta hari di mana Allah membanggakan orang yang berwukuf di Arafah di hadapan para malaikat. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda :

»مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ« [رواه مسلم]

“Tidak ada satu hari pun yang di hari itu Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka daripada hari ‘Arafah, sebab pada hari itu Dia turun kemudian membangga-banggakan mereka di depan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan? ‘”

Dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

»إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا« [رواه أحمد وصححه الألباني]

“Sesungguhnya pada malam ‘Arafah Allah membanggakan orang-orang (yang sedang wukuf) di ‘Arafah kepada para malaikat-Nya seraya berkata: “Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dengan rambut yang kusut dan badan penuh dengan debu.”

Para jamaah haji hendaknya selalu menjaga amalan yang menyebabkannya mendapatkan pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Di antara amalan tersebut adalah sebagai berikut :

-      Menjaga tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan pada hari tersebut. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata :

»كَانَ فُلَانٌ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ قَالَ فَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ النِّسَاءَ وَيَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ قَالَ وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَهُ بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ مِرَارًا قَالَ وَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ إِلَيْهِنَّ قَالَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنَ أَخِي إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَلِسَانَهُ غُفِرَ لَهُ« [رواه أحمد]

Fulan dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Arafah, dia berkata; Laki-laki itu memperhatikan para wanita dan memandangi mereka. Ia (Ibnu Abbas) berkata; lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan wajahnya dengan tangannya dari belakangnya berkali-kali namun pemuda itu kembali memperhatikan mereka, ia melanjutkan; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya pada hari ini, barangsiapa yang mampu menahan pendengaran, pandangan dan lisannya, niscaya ia diampuni.”

-      Memperbanyak bertahlil, bertasbih, dan bertakbir pada hari tersebut. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu :

»كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَدَاةِ عَرَفَةَ فَمِنَّا الْمُكَبِّرُ وَمِنَّا الْمُهَلِّلُ« [رواه مسلم]

Pagi hari di Arafah, kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara rombongan kami ada yang bertakbir dan ada juga yang bertahlil.

-      Memperbanyak doa meminta ampunan dan pembebasan dari api neraka pada hari tersebut, Karena pada hari tersebut berdoa pada hari tersebut diharapkan agar dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

»خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ« [رواه الترمذي وحسنه الألباني]

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku katakan adalah “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR (Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Maha menguasai atas segala sesuatu).”

Dan seyogyanya bagi seorang muslim untuk menghabiskan waktunya untuk berdzikir, berdoa, dan beristighfar pada hari yang agung tersebut. Dan hendaknya dia berdoa untuk dirinya dan mendoakan kedua orang tuanya, keluarganya dan semua umat Islam. Dan hendaknya tidak melakukan kedzaliman, tidak melambatkan terkabulnya doa, dan terus-menerus berdoa. Sungguh beruntung bagi seorang hamba yang faham doa di waktu terkabulnya doa-doa.

Saudaraku yang sedang beribadah haji, hendaklah kalian waspada terhadap dosa yang dapat menghalangi seseorang mendapat ampunan pada hari tersebut, seperti terus-menerus melakukan dosa besar seperti; sombong, berbohong, namimah, ghibah, dan lain sebagainya.  Bagaimana bisa Anda mengharapkan pembebasan dari api neraka sedangkan Anda terus-menerus melakukan dosa? Bagaimana Anda mengharapkan pengampunan sedangkan Anda menantang Allah dengan melakukan perbuatan maksiat pada hari agung tersebut?

Dan di antara adab dalam berdoa pada hari agung tersebut adalah menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, berendah diri di hadapan-Nya, mengakui kelalaiannya, dan bertekad untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya.

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Arafah

Ibnu Qayyim berkata, “Ketika terbit matahari pada hari kesembelan pada bulan Dzulhijjah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dari Mina menuju ke Arafah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut bersama dengan shahabat-shahabatnya. Di antara mereka ada yang bertalbiyah dan ada yang bertakbir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar apa yang diucapkan oleh para shahabatnya tersebut dan tidak mengingkari apa yang telah mereka lakukan. Lalu Nabi singgah di Nimrah. Ketika matahari sudah tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki untanya dan melanjutkan perjalanan. Kemudian beliau berjalan lagi hingga berada di lembah di daerah ‘Aranah, lalu beliau berkhutbah sedangkan beliau sendiri masih menaiki untanya. Nabi berkhutbah dengan khuthbah yang penuh makna dan berisikan tentang dasar-dasar Islam, penghancuran dasar-dasar kemusyrikan, dan menekankan tentang hal-hal yang diharamkan, yang mana semua agama pun mengharamkannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan sekali khutbah, dan ketika selesai berkhutbah beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan kemuidian iqamah. Lalu beliau shalat Dzuhur dua rakaat dan tidak mengeraskan bacaannya. Lalu iqamah lagi kemudian shalat Ashar dua rakaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan kedua shalat tersebut bersamaan dengan penduduk Makkah yang juga shalat qashar dan jama’ bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan mereka untuk menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat dan tidak juga melarang mereka menjama’ shalat.

Ketika selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kembali kendaraannya hingga sampai di tempat wukuf. Beliau melaksanakan wukuf di ujung bukit di antara bebatuan besar. Beliau kemudian menghadap kiblat, dan para shahabat yang berjalan kaki berada di depannya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri masih berada di atas kendaraannya. Setelah itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, berserah diri, dan berdoa dengan sepenuh hati hingga terbenamnya matahari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan orang-orang untuk keluar dari wilayah ‘Aranah dan menjelaskan bahwa Arafah tidak terbatas pada tempat yang beliau tempati. Beliau bersabda, “Aku melakukan wukuf di sini, dan semua tanah Arafah adalah tempat untuk melaksanakan wukuf.”

Nabi kemudian memerintahkan orang-orang agar meneruskan ibadahnya dan berwukuf di tempatnya kembali, karena hal tersebut merupkan warisan dari Ibrahim alaihis salam. Dan disana beliau menghadapi orang Najd, dan merekapun bertanya kepada beliau tentang Haji.beliau menjawab, “Inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang datang sebelum waktu Shubuh pada malam Jum’at, maka hajinya telah sah. Hari-hari di Mina adalah tiga hari. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa mengangkat kedua tangannya hingga dadanya, lalu beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik doa adalah doa yang dipanjatkan pada haru Arafah.

Ketika matahari sudah terbenam dengan sempurna, yakni ketika cahaya kuningnya telah hilang, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertolak dari Arafah dan membonceng Usamah bin Zaid di belakangnya. Beliau bertolak dari Arafah dengan tenang dan tubuhnya terhimpun dengan tali kekang untanya, hingga digambarkan bahwa kepala beliau menyentuh ujung kendaraannya, lalu beliau bersabda, “Wahai manusia, tenanglah kalian semua. Kebaikan tidak harus dilakukan dengan tergesa-gesa.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama perjalanannya dari Arafah terus menerus bertalbiyah dan tidak putus-putus mengucapkannya. Ketika beliau berada di tengah perjalanan, beliau turun dari kendaraannya untuk buang air kecil. Kemudian beliau berwudhu secara singkat. Usamah berkata kepada beliau, “Shalat, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Shalat –atau tempat shalat- ada di depanmu.”

Nabi melakukan perjalanannya hingga sampai Muzdalifah, lalu beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau memerintahkan agar dikumandangkan adzan, lalu seseorang mengumandangkan adzan. Setelah iqamat beliau melaksanakan shalat Maghrib sebelum menghentikan kendaraan mereka dan sebelum unta-unta didekamkan. Setelah mereka semua menghentikan kendaraannya, beliau memerintahkan agar dikumandangkan iqamat, lalu beliau melaksanakan shalat Isya hanya dengan iqamat tanpa adzan. Beliau tidak melaksanakan shalat di antara Maghrib dan Isya’.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian tidur hingga waktu shubuh. Beliau tidak menghidupkan malam tersebut dan tidak ada dalil yang shahih yang menjelaskan bahwa beliau menghidupkan dua malam hari raya.

Di antara kondisi ulama’ salaf ketika di Arafah

kondisi ulama salaf ketika berada di Arafah bermacam-macam :

-      Ada yang menghabiskan waktunya dengan rasa takut dan malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mutharrif bin Abdullah dan Bakr al-Muzani telah melakukan wukuf di Arafah, salah satu dari keduanya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau menolak orang-orang yang berwukuf dikarenakan aku .” Dan yang lainnya berkata, “Sungguh tempat wukuf yang mulia dan paling diharapkan dari Rabb, dan seandainya saya termasuk dari mereka.”

-      Ada di antara mereka yang terus-menerus berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Saya mendatangi Sufyan al-Tsauri pada sore di hari Arafah sedang beliau dalam keadaan duduk di atas kedua lututnya, dan mata beliau mengalirkan air mata. Lalu saya menghampirinya dan berkata kepadanya, “Siapakah di antara orang yang bekumpul di sini yang paling buruk keadaannya?” beliau menjawab, “Orang yang menyangka bahwa Rabbnya tidak mengampuni dosa-dosanya.”

Seorang Hamba di antara dua hal

Wahai saudaraku yang sedang melaksanakan ibadah haji! jika Anda sudah mengetahui kondisi dan amalan ulama salaf pada hari tersebut, maka ketahuilah bahwa keadaanmu harus sama dengan mereka antara rasa takut yang benar dan pengharapan yang terpuji sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama salaf.

Rasa takut yang benar adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. dan jika melebihi dari hal tersebut, maka akan ditakutkan membuatnya berputus asa.

Dan pengharapan yang terpuji adalah pengharapan seorang hamba yang beramal karena ketaatan kepada Allah dengan cahaya dan petunjuk dari Allah. Dia mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. atau apabila seorang hamba melakukan dosa lalu dia bersegera bertaubat kepada Allah, Kemudian dia mengharapkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

)إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ( [البقرة : 218]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wahai Anda yang sedang melaksanakan ibadah haji, hendaknya kalian yang berada di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia untuk mengumpulan dua hal penting; al-khauf wa al-raja’ (takut dan pengharapan). Anda merasa takut dari azab dan siksa-Nya dan  mengharapkan pengampunan dan pahala dari-Nya.

Selamat bagi Anda yang sedang berwukuf di Arafah

Selamat bagi Anda yang sedang melaksanakan ibadah haji, wahai orang yang diberi rizki oleh Allah untuk melakasanakan ibadah wukuf di Arafah dan berada di antara hamba Allah yang dekat dengan-Nya yang qalbunya terbakar dan air matanya meleleh.

Sungguh banyak orang yang takut kepada Allah yang khawatir dengan rasa takutnya. Sungguh banyak orang yang mencintai Allah dibakar rasa rindu yang telah membakarnya. Sungguh banyak orang yang mempunyai pengharapan kepada Allah telah berhusnudzan dengan janji Allah. Sungguh banyak orang yang bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Sungguh banyak orang yang pergi untuk mengetuk pintu Allah. Sungguh banyak orang yang berhak atas api neraka dibebaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. sungguh banyak orang-orang yang banyak melakukan dosa dimaafkan oleh Allah.

Dan pada saat itu Dzat yang Maha Pengampun menghampiri mereka, lalu Allah membanggakan orang yang wukuf di hadapan para Malaikat dan berfirman, “Apa yang diinginkan oleh mereka?” dan kami telah menolong mereka ketika mereka berada dalam kedaan kekurangan dan memberikan mereka permintaan yang mereka panjatkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah.