Jihad Versus Terorisme Oct24

Tags

Related Posts

Share This

Jihad Versus Terorisme

jihad vs terorAQL Islamic Center – Istilah ‘jihad’ dan ‘teroris’ begitu populer pasca peristiwa pengeboman  menara kembar World Trade Center (WTC), Menhattan, New York dan Gedung Pentagon, Washinton DC, pada 11 September 2001. WTC adalah simbol supremasi ekonomi Amerika Serikat, sementara Pentagon adalan ikon keperkasaan militernya. Tak pelak lagi, tindakan di atas menimbulkan banyak problem dan dampak psikologis, mulai dari sisi ekonomi, politik, budaya, hingga agama. Barat yang diwakili oleh Amerika memandang bahwa tindakan penyerangan kedua ikon keperkasaan Amerika di atas sebagai teror oleh terorisme yang di latar belakangi oleh pemahaman teologis, dalam hal ini Islam. Masalahnya, benarkah jihad sama dengan terorisme?
Penting untuk merumuskan kembali makna jihad secara benar dan proporsional, dan mendudukkan tindakan teroris sebagai bagian dari permusuhan terhadap umat dan ajaran Islam sendiri. Perdebatan tentang terorisme dan jihad makin eksis ketika para pakar terorisme, media massa dan yang dianggap teroris sendiri terutama –sekali lagi yang dianggap—sebagai kalangan muslim fundamentalis memberikan argumentasi yang kontroversial tentang paradigma jihad dan terorisme.
Salah satu karya yang dipandang komprehensif terkait diskursus jihad dan terorisme adalah karya Dr. Kasjim Salenda, yang berjudul, “Terorisme dan Jihad dalam Perspektif Hukum Islam, 2011” buku ini pada awalnya merupakan disertasi doktoral Salenda di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2008. Bagi Salenda, kajian jihad dan terorisme dalam buku ini terinspirasi oleh aksi kekerasan yang terjadi sepanjang peradaban umat manusia khususnya di dunia Islam. Misalnya, dalam sejarah Islam dikenal kaum Khawarij, pengikut khalifah Ali bin Abi Thalib yang keluar dari golongan Ali karena kecewa atas penyelesaian sengketa antara Ali bin Abi Thalib r.a. dan Muawiayah bin Abi Sofyan r.a. dengan cara Arbitase (tahkim). Kaum Khawarij mengkafirkan Ali dan Muawiyah serta semua orang yang menyetujui arbitase tersebut, dengan konsekwensi kehalalan darah mereka untuk dibunuh, (hlm. 2).
Selain itu –lanjut Alumni Gontor 1981 ini—yang tidak kalah ekstrim adalah sekte ‘Assasin’ yang merupakan sempalan dari sekte Syiah Isma’iliyah yang dipimpin oleh Hasan al-Shabah. Sekte ini membolehkan membunuh lawan politik mereka dari Bani Saljuq pada abad ke-11 dan ke-13. Bahkan kekerasan ‘teror’ juga terjadi pada masa dinasti Abbasiyah, khusunya Khalifah Al-Ma’mun (813-833 H), Al-Mu’tasim (833-824 H), dan Al-Watsiq (842-824 H). Ketika itu, kaum Mu’tazilah di Bagdad memaksakan paham mereka mengenai kemakhlukan Alquran yang dikenal dengan istilah mihnah atau inqusition (pengujian). Bagi yang tak sepaham dengan penguasa tentang kemakhlukan Alquran akan mendapat siksaan, dicambuk hingga dipenjara sebagaimana yang dialami oleh Ahmad bin Hambar, pengasas Madzhab Hambali. Demikianlah aksi-aksi teror yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban Islam. (hlm. 3).
Teror di era Modern
Tahun 1993, jaringan Islam radikal disinyalir mengebom lantai dasarWorld Trade Center (WTC),  dan pada tanggal 7 Agustus tahun 1998 Al-Qaeda bertanggungjawab terhadap pengeboman Kedutaan Besar Amerika di Nairobi, Kenya dan Tanzania yang menewaskan sekitas 200 jiwa serta melukai lebih dari 4.000 orang. Puncaknya, pada tanggal 11 September 2011, Al-Qaeda disinyalir kembali melakukan aksi pengeboman yang menyebabkan ambruknya gedung WTC dan Pentagon, (hlm. 4).
Di Indonesia juga demikin, pada tanggal 12 Oktober 2002, kelompok radikal Islam Indonesia yang diwakili Imam Samudra dkk, mengaku melakukan pengeboman di Sari Club dan Paddy’s Pub, Legian, Kuta, Bali. Pada tanggal 20 September 2008, pengeboman juga terjadi di Hotel Marriot Islamabad (Pakistan), 60 jiwa melayang secara paksa, termasuk Duta Besar Republik Cekoslovakia, Ivo Zdare, dan ratusan lainnya cedera. (hlm. 5).
Mencermati beberapa peristiwa yang kian menjadi preseden buruk bagi kelompok radikal secara khusus dan umat Islam secara umum, maka diperlukan kajian secara komprehensif tentang makna jihad yang sebenarnya, karena tindakan-tindakan di atas jelas-jelas bertentangan dengan jihad jika dilihat dari perspektif sejarah, hukum, rukun, syarat, dan adab-adabnya.
Jihad dalam Islam
Menurut Sayyid Sabiq dalam “Fiqh as-Sunnah”, ‘jihad’ berasal dari kata ‘juhd’, artinya upaya, usaha, kerja keras dan perjuangan. Seseorang dikatakan berjihad apabila ia berusaha mati-matian dengan mengarahkan segenap kemampuan fisik maupun materil dalam memerangi dan melawan musuh agama. (Sayyid Sabiq, 2002, III: 79). Pendapat ini menunjukkan bahwa jihad adalah sama dengan qital, seperti dimaksud dalam imperatif ini: jahidil kuffar wal-munafiqin (QS. 9:73, dan 66:9). Hadis yang berpendapat bahwa perang melawan hawa nafsu adalah jihad, sebagaimana diriwayatkan  Imam Bayhaqi dan Al-Bagdadi, maka sebagain ulama ahli hadis seperti Az-Zayn Al-Iraqi dan Ibn Hajar Al-‘Atsqalani menilai sebagai hadis lemah. (Syamsuddin Arif, 2008: 271).
Dalam sejarah Islam, perintah jihad dalam arti qital baru turun di Madinah pada tahun ke-2 Hijriah, atau sekitar 14 tahun setelah Rasulullah SAW berdakwah mengajak kepada Islam, memperkenalkan dan mengajarkannya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan (sirran wa jahran). Selama lebih dari satu dekade di Makkah, Nabi  diperintahkan untuk menghindari konfrontasi dengan kaum pagan. Beliau diperintahkan bersabar dan memaafkan mereka yang tak henti-hentinya melakukan intimidasi dan teror.
Teroris-teroris semacam Abu Jahal Ibn Hisyam dan Abu Lahab, tidak hanya menolak, tapi juga merintangi dan berusaha melumpuhkan dakwah Islam, seringkali bahkan dengan kekerasan dan penyiksaan (torture). Namun Allah berfirman, fashfah ‘anhum wa qul salam, maafkan mereka dan katakan salam perdamaian (QS. 43: 89). Waktu itu, umat Islam juga dilarang membalas kekerasan dengan kekerasan. Mereka dipuji karena mampu bersabar dan membalas kejahatan dengan kebaikan, wa yadra’una bil-hasanatis sayyi’ah (QS. 13: 22).
Penindasan, kezaliman, dan teror kaum kafir Quraisy terhadap komunitas muslim mencapai klimaksnya ketika Nabi dan para pengikutnya mulai dipersekusi. Saat itu di Makkah hampir tidak ada lagi ruang tersisa untuk kaum muslimin menghirup kebebasan beragama. Sejumlah petinggi-petinggi Quraisy telah berkonspirasi untuk menghabisi Nabi, once and for all. Hanya dua pilihan, bertahan di Makkah atau keluar dari Islam, atau bertahan dalam Islam namun keluar dari Makkah. Dan Rasulullah beserta kaum muslimin memilih yang kedua. Hijrah ke Madinah, (Ibnu Katsir, 1978, II: 213-266).
Di Madinah, Rasulullah melakukan penataan ke dalam dan perluasan sayap dakwah Islam ke luar. Kaum muslimin yang dipimpin Nabi mendirikan masjid, memimpin salat Jumat, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (perantau) dan Anshar (tuan rumah), melakukan diplomasi, negosiasi, dan ekspedisi dakwah baik dalam komunitas lokal seperti Yahudi dengan membuat Piagam Madinah, maupun komunitas internasional dengan kepala negara di sekelilingnya. Lalu turun perintah adzan untuk salat berjamaah, dan perintah berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan tidak lama kemudian turunlah perintah berjihad (QS. 22: 39-41; 2: 190-193, dan 2: 216-218).
Dalam ayat jihad dijelaskan dengan rinci, mengapa dan untuk apa jihad dilakukan. Yaitu: apabila orang Islam diperangi, dizalimi, dihalau dari kampung halamannya sendiri, semata-mata karena agama yang diyakininya itu. Jihad diizinkan apabila dakwah disekat, kaum muslim dimusuhi dan diserang, dijajah dan dirampas hak-hak asasinya. Apabila orang kafir melancarkan ‘udwanmuqatalah, zulm dan fitnah terhadap Islam dan umat Islam.
Maka tujuan jihad jelas, untuk mempertahankan diri dan menangkis serangan lawan, menegakkan agama Allah, melepaskan umat Islam dari belenggu penindasan, menjamin dan melindungi hak-hak mereka, mengakhiri kezaliman dan permusuhan demi terciptanya perdamaian. Musuh jangan dicari, namun kalau bertemu musuh pantang lari. Begitulah prinsip yang diajarkan Alquran (QS. 8: 15 dan 47: 4). Ibarat lebah, umat Islam selalu mengambil yang baik-baik (bunga) dan menghasilkan yang lebih baik (madu) dan ketika singgah atau bermukim di mana pun selalu menjaga kedamaian, namun jika diganggu, maka ia akan melawan sampai tetes darah penghabisan.
Dalam konteks Indonesia dan negara-negara muslim lainnya, di mana Islam belum secara total direalisasikan, para tokoh gerakan Islam sepakat, dan umumnya berpendapat bahwa agenda utama yang mesti didahulukan saat ini adalah meningkatkan kualitas individu dan organisasi muslim serta membangun kekuatan umat di segala lini.
Dengan jihad saja belum waktunya, apalagi harus melakukan aksi-aksi teror yang justru dapat merugikan diri sendiri serta umat secara keseluruhan. Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin pernah menasihati pengikutnya yang menggebu-gebu untuk pergi berjihad, katanya, “Mati di jalan Allah itu bagus, namun akan lebih mulia jika dapat hidup di jalan Allah!”
Ala kulli hal, buku Karya Kasjim Salenda ini sangat bermanfaat, kaya akan informasi tentang terorisme serta kajian jihad secara mendalam. Ini dapat dimaklumi karena yang bersangkutan sangat menguasai literatur, baik  bahasa Arab maupun Inggris. Semoga bermanfaat! (telah dimuat di Majalah Panji Umat, Media Informasi MUI Sulsel. Edisi Nomor 2/Thn.I/Ramadhan-Syawal 1434 H).
Ilham Kadir, Alumni Pascasarjana UMI, Peneliti LPPI Indonesia Timur.