SYI’AH BUKAN ISLAM Oct24

Tags

Related Posts

Share This

SYI’AH BUKAN ISLAM

Kelas Syiah 1

AQL Islamic Center — AQL Islamic Center membuka kelas kajian “Kesesatan Syi’ah”. Kelas perdana yang dilangsungkan Ahad (13/10)  dihadiri sekitar 50 jamaah.

Kordinator AQL Islamic Center Ust. Khusyeiri menyampaikan, dibukanya kelas kajian “Kesesatan Syi’ah”  tersebut mengingat besarnya minat jamaah yang secara serius ingin mengetahui secara praktis bagaimana mengenali penyimpangan ajaran agama Majusi Persia yang mengaku bagian dari Islam.

Menurutnya, tujuannya penyelenggaraan kelas kajaian ini bukan sekadar “menuntut ilmu untuk ilmu”. Jika hanya untuk ilmu, cukup dengan membaca buku saja. Selain itu, juga bukan untuk memperbandingkan mana ajaran yang lebih enak ibadahnya untuk dijalani.

“Tetapi ilmu yang didapat di kelas ini harus diamalkan dan didakwahkan. Sehingga kita mampu berdialog secara kritis dengan penganut Syi’ah. Sekaligus untuk melindungi diri, keluarga dan orang sekitar dari pengaruh kesesatan Syi’ah.” tambahnya.

Kelas kajian “Kesesatan Syi’ah” ini dibagi menjadi enam kali pertemuan, dimana setiap pertemuan di hari Ahad diisi dengan dua sesi pemateri. Peserta mendapatkan modul  dan buku-buku tentang “Kesesatan Syi’ah” secara gratis.

Pada sesi pertama dengan pemateri Ust. Amrullah, dijelaskan tentang perkembangan Syi’ah di Indonesia, yang berbasis di Bandung, Jogjakarta, dan Makasar, yang diklaim sudah memcapai sekitar dua juta orang.  Akan tetapi menurut sumber yang layak dipercaya, penganut Syi’ah saat ini baru mencapai 25.000 jamaah.

Dipaparkan bahwa Syi’ah di Indonesia sudah ada sejak 1979, namun masih pasif. Awalnya mereka ada di Bangil, Pekalongan, kemudian pada tahun 2000 mereka baru membentuk Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Selain IJABI ada pula ABI (Ahlul Bait Indonesia).

IJABI merupakan organisasi Syi’ah terbesar di Indonesia, yang pernah menyelenggarakan sebuah acara di Jakarta, yang dihadiri sekitar 500 sampai 1500 orang.

Syi’ah Bukan Islam

Materi berikutnya disampaikan Ust. Reza. Ia menyampaikan bahwa kebiasaan penganut Sy’iah adalah selalu menyelisihi sunnah Rasulullah. Karenanya ajaran Syi’ah bukan sebagai mahzab ke lima dalam Islam, seperti yang mereka klaia]m.

“Karena sumber rujukan hukum Syi’ah berbeda dengan Islam. Orang Syi’ah meringkas shalat lima waktu sehari menjadi tiga kali sehari,” ungkapnya.

Dalam shalatnya, lanjut Ust. Reza, mereka juga menggunakan turbah, sebuah batu kecil yang digunakan untuk alas sujud. Makin tinggi kasta imam mereka, maka makin tinggi tingkatan turbah yang dipakai.

Saat mereka shalat berjamaah, tambahnya, ada seseorang yang memegangi microphone untuk imam.  Jamaahnya pun bergerak lebih cepat dari imam. Syahadat dan adzan mereka juga berbeda, dengan tambahan  menyebut nama Imam Ali (Ali bin Abi Thalib).

Semua tuntunan ibadah mereka itu, jelas Ust. Reza, jelas menyalahi tuntutan dan syariat Islam yang dianut ahlusunnah wajamaah. Sehingga ajaran Syi’ah sangat layak untuk dinyatakan telah keluar dari Islam, atau bukan bagian dari Islam.

Oleh: Mimin