UMI: GAYA HIDUP HALAL & TOYIB ADALAH KEHARUSAN Oct24

Tags

Related Posts

Share This

UMI: GAYA HIDUP HALAL & TOYIB ADALAH KEHARUSAN

AQL Islamic Center – Bergaya hidup halal dan toyib adalah sebuah keharusan bagi umat muslim di tengah budaya materialisme dan pragmatisme dewasa ini. Karena kehalalan dalam semua aspek kehidupan sangat menentukan kualitas hidup seseorang sebagai hamba Allah dalam Islam.

Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam Seminar “Bergaya Hidup Halal” yang diselenggarakan Ummahatul Mu’minin Indonesia (UMI) pada Kamis (24/2013). Kegiatan ini digagas UMI sebagai langkah awal dari Gerakan Bergaya Hidup Halal & Toyib untuk membentuk individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang memahami pentingnya bergaya hidup halal.

Dalam sesi hari itu yang bertema “Kuliner Halal & Toyib”  tampil sebagai pembicara antara lain, Pimp. AQl Islamic Center Ust. Bachtiar Nasir, Kabid Sosial & Promosi LPPOM MUI Lia Amelia, Pimp. Rumah Sehat Indonesia Ust. Fatahillah, Pendiri Rumah Fiqih Indonesia Ust. Ahmad Sarwat, dan Pendiri Halal Corner Aisha Maharanie.

Saat membuka seminar, Ust. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa mengkonsumsi makanan halal lagi baik, adalah salah satu bentuk kesyukuran dan ibadah kepada Allah SWT. yang menjadi tugas utama mansuia di dunia.

Yang dimaksud halalan, jelas Ust. Bachtiar, yang halal dimakan karena bukan dari hasil mencuri atau korupsi, dan juga tidak didapat dari cara mu’amalah yang haram. “Atau ikut andil dalam mu’amalah yang haram, seperti ikut serta adalam usaha riba,” katanya.

Sedangkan yang dimaksud thayiban, lanjut Ust. Bachtiar, bukan makanan yang buruk, menjijikan, dan membahayakan kesehatan tubuh, seperti bangkai, darah, nanah, dagung babi.

Ia menambahkan, masalah halal haram ini merupakan batasan-batasan langsung dari Allah (hududullah) bagi manusia sebebagai bentuk ujian keimanan dan penghambaan diri kepada Allah semata. Para ulama menjelaskan, tambahnya, setelah rukun iman dan rukun Islam, tidak ada urusan yang yang lebih penting bagi seorang muslim, kecuali masalah halal dan haram dalam kehidupannya.

Dalam sesi selanjutnya, Kabid Sosial & Promosi LPPOM MUI Lia Amelia memaparkan bahwa makanan hahal tidak akan membuat manusia berbuat dosa di dunia dan tidak mendapatkan siksa di akhirat. “Karena salah satu makna halal, adalah sesuatu yang bebas dari bahaya di dunia dan akhirat,” jelasnya.

Dari definisi makanan yang thayib (baik), Lia Amelia menjelaskan ada tiga jenis. Yaitu makanan yang sehat, proporsional, dan aman. Makanan sehat adalah makanan yang cukup dan seimbang gizinya. Makanan proprsional adalah makanan yang sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan, tidak kekurangan, dan tidak melampau batas yang wajar.

“Sedangkan makanan yang aman, adalah makanan yang tidak berbahaya bagi kesehtan tubuh dan menyebabkan penyakit,” ujarnya.

Menyinggung makanan yang berasal dari hewan, menurut Lia Amelia, harus berasal dari hewan yang halal dan dengan proses penyembelihan yang  sesuai syariat Islam. Jika suatu makanan diproduksi secara microbial, seperti keju misalnya, maka harus jelas media yang digunakan untuk pertumbuhan dan produksinya.

Sedangkan untuk jenis makanan dari produk pangan olahan dari hewan, lanjut Lia Amelia, selain asal hewan, proses penyembelihan sesuai syariat Islam, bahan tambahan lainnya harus halal, juga proses pembuatannya harus dilakukan menggunakan fasilitas yang halal.

Di akhir sesi, Ust. Ahmad Sarwad menginatkan, meski cukup banyak makanan di Indonesia yang meragukan unsur kehalalannya, namun selayaknya tidak menjadikan umat muslim di Indonesia menjadi paranoid atau mengeneralisir suatu jenis makanan tertentu, sudah pasti halal.

“Jika saat membeli makanan itu kita sudah diinfromasikan bahwa makanan itu halal, namun ternyata belakangan diketahui haram, maka yang berdosa penjualnya, karena telah menyembunyikan keharaman makanan itu,” tuturnya.

Cukup mengherankan memang, tambah Ust. Ahmad Sarwad, ketika ia ke sebuah negara bukan muslim, disana label status kehalalalan makanan sangat jelas dituliskan. “Jadi saya tidak ragu memakannya. Tetapi justru di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, malah status kehalalan makananya masih banyak yang meragukan,” katanya.

Sementara itu, Aisha Maharanie yang juga tampil bersama Ust. Ahmad Sarwad, memotivasi peserta untuk selalu loyal pada jenis makanan yang halal dan thayib. “Karena salah satu penyebab tertolaknya do’a, salah satunya penyebabnya  dari makanan haram yang kita konsumsi,” tandasnya.

Oleh: Abu Lanang