Apa Alasan Anda untuk Menunda atau Segera Menikah? (2) Oct28

Tags

Related Posts

Share This

Apa Alasan Anda untuk Menunda atau Segera Menikah? (2)

Jangan menikah karena mengejar ketepatan waktu, tapi menikahlah pada waktu yang tepat!”

Jangan menikah karena mengejar ketepatan waktu, tapi menikahlah pada waktu yang tepat!”

Lanjutan dari ARTIKEL pertama

Menikahlah di Saat yang Tepat

Jika kita mentadabburi firman Allah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).

Kenapa wanita didahulukan penyebutannya dari pada anak-anak, harta dan lainnya? Sampai-sampai Rasulullah mengatakan, “Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya.” (HR. Al-Hakim). Jikalau setan sudah kewalahan menggoda manusia, maka ia akan masuk dari godaan wanita.

Begitupun firmanNya, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.”(Q.S. al-Maidah: 38). Bandingkanlah, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk).“(QS. An-Nûr:2). Dalam hal pencurian, laki-laki lebih dulu disebutkan kemudian wanita. Namun mengapa wanita lebih dahulu disebutkan dalam hal perzinahan?

Sebab inilah kunci utama dari munculnya fitnah syahwat. Fitnah terbesar itu, fitnah wanita. Ketika wanita tidak lagi menjaga kehormatan dirinya, tidak lagi menutup auratnya dan jauh dari syariatnya. Inilah fitnah godaan terdahsyat. “Sesungguhnya tipu daya kamu (wanita) adalah besar.” (QS. Yusuf: 28).

Karena wanitalah juga Bani Israil pertama kali dibinasakan. “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Berhati-hatilah dari fitnah dunia dan waspadalah terhadap wanita. Karena cobaan pertama yang melanda Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim). Dibalik kelembutannya ternyata tersimpan seribu bahaya. Tentu berbeda halnya dengan, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim).

Itulah hikmah mengapa dien ini mensyariatkan namanya menutup aurat, menjaga pandangan, pernikahan, poligami dan lainnya. Agar menjaga dari fitnah ini. Sekalian, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi).

Sebab ini akan lebih menjaga kehormatan diri. Kalau masih singgle mungkin pikirannya selalu saja melayang tidak menentu. Seolah semua wanita memikat, menarik perhatian. Maka setelah menikah akan lebih fokus. Tidak lagi kesana-kemari. Karena  menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.

Kalau menunda pernikahan karena alasan finansial, belum mapan, ini keliru. Tidak-kah kita percaya dan ragu-ragu dengan janji Allah yang pasti?

“Jika mereka (orang yang akan menikah) miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya...” (QS. An-Nur: 32).  Tidak perlu menunggu kaya baru menikah. Tapi menikahlah Allah akan mengkayan anda. Abu Bakar as-Shiddiq –radiallahu ‘anhu- ketika turun ayat ini langsung mengatakan, “Sungguh aku heran, takjub pada seseorang yang tidak mencari kekayaan dengan menikah!

Begitupula, “Apabila seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka bertaqwalah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” (HR At-Thabrani).

Bukankah menikah merupakan bagian dari ketaqwaan, kenapa penyebutannya harus dipisahkan? Menunjukkan betapa agungnya yang namanya pernikahan. Sungguh benar, kita yang belum menikah masih termasuk kategori orang miskin, pengangguran, kenapa? Jika saja yang sudah menikah sudah disebut menyempurnakan separuh dari dien, lantas bagaimana yang belum menikah, seper berapa yang kita punya? Belum tentu juga bertaqwa. Pengangguran, sebab kita masih selalu memikirkan bagaimana bisa mengajukan lamaran.

Dan jika memang sudah punya tekad yang bulat. Mintalah petunjuk, pertolongan dari Allah. Sebab, “Ada 3 kelompok manusia yang pasti ditolong Allah, salah satunya adalah pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan dirinya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Jika ada yang bertanya pada Anda, “Kapan menikah?” Maka,  “Jangan menikah karena mengejar ketepatan waktu, tapi menikahlah pada waktu yang tepat! (Hidayatullah/Mimin)