Pantaskan Diri Karena Allah #1 Nov06

Tags

Related Posts

Share This

Pantaskan Diri Karena Allah #1

Dari Berbagai Sumber

Dari Berbagai Sumber

Beberapa hari yang lalu (29/10), Ustadz @Bachtiarnasir ngetweet tentang memantaskan diri.  Beliau mengingatkan bahwa jodoh idaman tak selalu sesuai dengan keinginan kita, sebaliknya diri kitalah yang harus jadi pilihan para pencari pasangan. Pantaskan diri dulu!

Saudari Nita alumni KPNI batch 6 berbagi kisah menarik tentang memantaskan diri.  Menurutnya cara memantaskan diri berbeda dengan siap nikah.   Amalan siap nikah antara lain menuntut ilmu nikah, mencari pasangan yang tepat, menyiapkan harta sampai siap lahir dan batin.  Sedangkan memantaskan diri berhubungan langsung dengan Allah.  Jadi pantaskan diri karena Allah.

Akhir bulan Desember 2012, Nita bertemu seorang pakar pernikahan.  Nita dinilai belum siap menikah.

“Dari mulutmu sepertinya siap banget untuk menikah, tapi hatimu belum siap menikah. Kamu masih takut melangkah untuk menikah.”

Jleb! Nita merasakan ada sesuatu menghujam kalbu. Dia tidak menyangka pakar pernikahan itu bisa menebak bagaimana sifat dan karakternya dalam waktu singkat, yakni sepuluh menit.

“Rubahlah sifatmu, Mbak.  Jika kamu pengin jodoh seperti apa, maka pantaskan seperti apa yang kamu inginkan.

Mengacalah pada cermin dan bertanya dalam hati.  Jika jodoh itu seperti kamu sekarang. Kamu mau gak mendapatkan orang sepertimu? Jika kamu begini-begini aja, bagaimana Allah mau memantaskan kamu untuk segera menikah. “ Pakar pernikahan itu mengakhiri kata-katanya.

Sejak pertemuan itu, Nita berusaha memantaskan diri karena Allah. Mulai memaafkan diri sendiri. Lalu meminta maaf pada orang tua dan kakak-kakaknya.  Ia ciumi tangan mereka sambil meminta maaf dengan tulus.  Ia memohon doa restu mereka. Ia mohon agar azzam menikah semakin kuat. Ia juga minta maafpada teman-temannya.

Nita juga belajar dari seorang kawan yang memantaskan diri. Kawannya menikah pada bulan April 2013. Ketika adzan datang, ia sudah di tempat shalat.  Ketika ada seruan “Marilah kita shalat” ia siap melafazkan doa setelah adzan sembari bilang ke Allah “saya sudah di sini siap shalat. Kabulkan permohonanku, Ya Allah.”  Kalau kita ingin Allah mengabulkan doa kita dengan cepat, maka kita harus lebih mengutamakan keinginan Allah.

Nita ingat banget dengan hadits riwayat Muslim ini “Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil”

Nita pun mencoba cara kawannya selama tiga bulan. Saat itu ia merasa benar-benar berada di  titik nol.  Ia tidak menggebu-gebu lagi dalam mencari jodoh.  Dalam hati ia bilang ke Allah “Terserah Allah aja mau kasih jodoh kapan, Nita pasrah.”

Setelah proses memantaskan itu, banyak kemudahan yang dirasakan. Ia menemukan skenario Allah.  Ketika ia tidak lagi memikirkan siapa jodohnya.  Ketika ia merasa tidak siap, Allah justru kasih jalan.  Ada ikhwan yang mau ta’aruf dengannya.  Tentu saja ia kaget karena selama tiga bulan itu ia tidak pernah menaruh proposal pada siapapun.

Ternyata ada seorang Ustadz yang kenal dengan kakaknya.  Merekalah yang membantu ta’aruf.  Proses ta’aruf berlangsung selama 40 menit.  Dan tidak ada pertanyaan aneh-aneh selama ta’aruf.  Dua minggu lagi Ustadz minta kepastian jawaban. Namun hanya dalam waktu lima hari, Si Ikhwan sudah memberi jawaban mau lanjut ta’aruf.

Bersambung in syaa Allah