Intropeksi kasus Penyadapan : Mempertanyakan Kedaulatan NKRI Nov22

Tags

Related Posts

Share This

Intropeksi kasus Penyadapan : Mempertanyakan Kedaulatan NKRI

Bismillaah..

Beberapa hari ini, saya mengamati isu yang sedang berkembang dalam negeri ini. Menarik bahwa ada penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap pejabat-pejabat di Indonesia. Bahkan hingga presiden SBY beserta istrinya pun menjadi sasaran penyadapan. Alhasil, kasus yang terbongkar ini telah mengganggu hubungan diplomatic ke dua negara yang berdaulat.

Konsep kedaulatan adalah sebuah privasi, kehormatan, identitas. Buah dari kedaulatan adalah kehormatan dan penghormatan. Hormat, menghargai, menjaga privasi, jati diri dan identitas adalah bentuk sosial hubungan baik antar kedaulatan.

Oleh karena itu, berkaitan dengan kasus penyadapan, jelas bahwa tindakan Australia ini adalah bentuk pelecehan kedaulatan terhadap suatu negara. Sekali lagi, ini adalah bentuk pelecehan kedaulatan oleh Australia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini pasti menciderai hubungan diplomatik antar kedua negera. Tuntutan kami selaku pemuda Indonesia adalah Australia secara resmi dan langsung meminta maaf kepada pemerintah Indonesia atas tindakan tidak sopan tersebut.

Kami juga meminta SBY untuk tegas meminta pertanggungjawaban dari perdana menteri Australia, Tony Abott.

Sepakat dengan pimpinan CIIA, Ust. Hartits Abu Ulya, Pemerintah Indonesia harus melakukan kontra intelejen. Pemerintah harus berani dan tegas dengan mengambil keputusan-keputusan politik keamanan, politik ekounomi, maupun aspek lain yang menjadikan negara RI punya kedaulatan seutuhnya bukan lagi menjadi negara sahabat (‘manut wae’) yang sejatinya adalah negara “satelit” mengorbit sesuai kepentingan negara kapitalis seperti Australia maupun sekutunya seperti Amerika. Pemanggilan Duta Besar RI untuk Australia oleh Menlu Marty Natalegawa adalah langkah yang tepat.

Di sisi lain, ada hikmah besar yang bisa kita ambil untuk bahan evaluasi pemerintah.

Pertama, aneh bahwa SBY marah kepada Australia saja. Padahal pelaku pembocoran data, Edward Snowden adalah mantan anggota CIA, yang notabene adalah tangan-tangan Amerika. Jika kita bahasa hubungan Indonesia – USA, dan Indonesia – Australia,tentu akan berbeda kepentingan politiknya, sehingga akan paham kenapa sikap SBY seperti itu.

Kedua, kemarahan SBY adalah indikasi adanya hal sensitif selain menyinggung kedaulatan bangsa. Pandangan kritis saya, ada kemungkinan kekhawatiran terbongkarnya kasus-kasus penting yang melibatkan kroni-kroni penguasa. Sebut saja salah satunya adalah kasus mega korupsi Century.  Hal ini berkorelasi dengan data, daftar pejabat penting kabinet SBY yang disadap.

Ketiga, dari sudut pandang agama, menanggapi pernyataan SBY pertemanan Indonesia – Australia. Indonesia adalah negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Secara kuantitas, tentu muslim sebanyak 200 juta jiwa lebih ini sebuah potensi yang besar. Secara kualitas, muslim yang besar ini akan menjadi ancaman bagi orang-orang kafir. Maka kita harus berhati-hati dalam bersosial dengan orang kafir.

Hal itu dipertegas oleh Hugh White, seorang profesor studi strategis di Australian National University dan visiting fellow di Lowy Institute. White pernah menulis sebuah artikel di sebuah media berpengaruh di Australia, The Age, dengan judul Indonesia’s rise is the big story we’re missing: Can Australia handle having a stronger, richer neighbour?

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu” [Ali-Imran : 118]

Allah juga mengabarkan, jika sebagian kaum mukmin tidak menjadi penolong sebagian lainnya, sementara sebagian kaum kafir menjadi penolong sebagian lainnya, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi. Maka seorang mukmin sama sekali tidak boleh mempercayai non-mukmin walaupun ia menampakkan kecintaan dan loyalitas, karena tentang mereka Allah telah berfirman.

Diriwayatkan dari Abu Sai’d dari Nabi bahwa Beliau bersabda, “Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Tirmizi dan Abu Daud).

Konsep hubungan diplomatik, adalah hubungan kerjasama yang tidak melibatkan hal prinsip dan akidah. Sikap sebagai mukmin tentu harus tetap adil kepada orang kafir sekalipun, tentu dengan batasan-batasan yang jelas.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah :  8)

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah :  8)

“Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah :  7)

Keempat, negara lain berani ‘tidak sopan’ dengan negara kita membuktikan negara tersebut memandang remeh kita. Bisa jadi karena kita sendiri yang tidak bisa membangun identitas diri menjadi negara yang diperhitungkan. Mereka tidak cukup segan atau takut kepada negara kita karena tahu kita lemah.

Ini juga tak luput dengan  perilaku-perilaku para pejabat negara yang kurang berkualitas yang terbongkar dan tersebar luas di media. Perilaku korup, hambur-hambur uang rakyat dengan alasan studi banding tapi fakta jalan-jalan, tidak serius mengurus undang-undang, tidak serius dalam menangani kedaulatan dan urusan dalam sistem negara. Wakil rakyat malah sibuk dengan urusan partai atau kelompoknya.

Mereka menunjukkan sikap merampok negara sendiri dengan cenderung ‘manut wae’  atas kebijakan-kebijakan internasional, asal menguntungkan dirinya dan kelompoknya meski harus mengorbankan asset negara dan rakyat.

Tidak serius dalam menangani kedaulatan dan urusan negara, adalah bentuk tidak menghargai negara kita sendiri. Jika kita saja kurang bisa menghargai negara kita, bagaimana dengan negara lain.

Ini pelajaran berharga betapa rendahnya perwajahan Indonesia di mata negara lain akibat perilaku diri kita sendiri. Tak peduli mereka kafir atau bukan, hal terbesar dari bangsa kita adalah saatnya berbenah. Kita harus intropeksi dan memperbaiki semua  sisi secara bersama.

Jika kita bisa bangga mengharumkan nama bangsa dengan kualitas dan capaian prestasi di mata dunia, maka seharusnya juga diiringi rasa malu dan hina apabila karena kebobrokan perilaku kita membuat NKRI dilecehkan. (youngislamicleaders.org/Foto:au.news.yahoo)

Oleh :
Agastya Harjunadhi

Sekjen YI-Lead (Young Islamic Leaders)

Presiden APII (Aliansi Pemuda Islam Indonesia)