Dr. H. Fahmy Zarkasyi: Partai Islam Perlu Ngaji Fiqih

Hamid_Zarkasi_voaAQL Islamic Center – Para politikus dari partai-partai Islam harus ngaji lagi tentang ajaran Islam, terutama persoalan fiqih. Banyak para politikus muslim saat sudah mendapat kekuasaan lalu kelakuannya jauh dari ajaran Islam. Demikian kritik yang disampaikan Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, intelektual muda Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) dalam dialog Nasional “Bekerja dan Bekerjasama untuk Islam dalam memenangkan kepemimpinan nasional 2014″ di aula Serba Guna AQL Islamic Center, Tebet Jakarta selatan , Rabu (11/12/2013) siang tadi.

“Partai Islam perlu ngaji fiqih, agar tahu bagaimana ia berpolitik, bagaimana tuntunan fiqih siyasah,” Ujarnya.

Selain fikih, menurut ketua umum MIUMI ini, politikus muslim juga harus memahami persoalan aqidah agar memilliki kepekaan terhadap merebaknya paham menyimpang di masyarakat.

Kemudian putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini mencontohkan salah satunya paham Islam liberal yang penyimpangannya sudah pada tingkatan kufur. Namun beliau tidak melihat respon lebih dari para politikus senayan yang dari partai Islam. Ini beliau rasakan saat menolak Undag-undang gender di komisi III DPR RI, “Tidak ada pembelaan dari partai-partai Islam,”tandasnya menyayangkan kepekaan partai Islam terhadap urusan akidah yang sangat lemah.

Ustadz Fahmi mengkritisi kerja partai Islam yang ada sekarang ini, partai-partai islam hanya bekerja untuk pemilu. “Bekerja hanya untuk kekuasaan,” tuturnya.

Padahal seharusnya, menurut beliau, partai Islam haruslah membangun peradaban Islam. Jika ini yang dilakukan akan bisa bertemu dan bekerjasama.

Dialog Nasional diselenggarakan oleh Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center pimpinan Ust Bachtiar Nasir, Lc, MM dalam momen perayaan 5 tahun perjalanan dakwahnya.

Sejumlah tokoh Nsional turut hadir dalam dialog terebut, antara lain: Dr. Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Lc, Bambag Widjoyanto (KPK), Ust. Syuhada Bahri (DDII), Ust. Yusuf Mansur, Ust. Fadlan Garamatan, Ust. Muhammad Zaitun Rasmin, dan lainnya.

Sedangkan KH. Hasyim Muzadi Dr.Ir. H. Nur Mahmudi Ismail (walikota Depok), dan Fuad Bawazier yang turut diundang tak terlihat di forum.

Dalam sambutannya, Ust. Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN menyampaikan target dari dialog tersebut. Pertama, sebagai sarana silaturahim. Dari pertemuan para tokoh islam tersebut diharapkan terjadinya syura (musyawarah) untuk kemajuan Islam. Dari perbincangan dan musyawarah tersebut lahirnya kerjasama untuk Islam.

Dengan pertemuan dan kerjasama antar elemen umat Islam ini maka pertolongan Allah akan turun dan keberkahan akan datang, demikian harapan yang disampaikan Ustadz yang juga menjabat Sekjen MIUMI ini.

Tentang AQL Islamic Centre

AQL Islamic Center adalah organisasi dakwah Islam yang bertujuan untuk membangun peradaban Al-Quran.

“Kami bercita-cita membangun karakter umat Islam yang mampu menjiwai nilai-nilai Al-Quran dengan benar, serta mampu mewujudkannya dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Kalimat dalam Press Release yang sampai ke redaksi.

Misi kami adalah bekerjasama untuk memenangkan Islam dan menjayakan umat Islam. Kami berusaha mewujudkan misi tersebut dengan membentuk unit-unit dakwah yang secara fokus membangun peradaban Al Quran sesuai konteks demografis dan misi perjuangan.

AQL Islamic Center kini mempunyai belasan unit yang memberikan pembelajaran nilai-nilai Al Qur’an kepada Remaja (Quranic Generation/Q-Gen), Pemuda (Young Islamic Leaders/YI Lead), Pendidikan Pra-nikah (Ar-Rahman Pre-Wedding Academy/APWA), Perempuan Muslimah (Ummahatul Mukminin Indonesia/UMI), Eksekutif (Khalifah Club), Perjuangan Bumi Syam (Spirit of Aqsa), Penyaluran dana zakat dan infak (LAZIS Ar-Rahman), Bantuan Sosial (Ar-Rahman Peduli), Kajian Ilmu Islam (Dewan Kemakmuran Mesjid / DKM AQLIC), dan lain-lain.

Lembaga Dakwah Islam yang dimotori Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM ini, kini telah memiliki jamaah mencapai 10.000 orang, yang tersebar di Jabodetabek, Pulau Jawa, Bali, Sumbawa, Makassar, dan Batam. [PurWD/voa-islam.com]