Pangeran Arnat (2) Berharap bisa Hancurkan Makam Rasulullah

thumbAQL Islamic Center – PADA awal tahun 1187, setahun sebelum terjadinya Pertempuran Hattin, Reynald dan orang-orangnya merampok dan menahan rombongan pedagang Muslim yang melintas di kawasan itu. Ketika itu Kesultanan Shalahuddin dan Kerajaan Yerusalem masih terikat perjanjian damai.Namun bagi Reynald, perjanjian dengan pihak Muslim bukanlah sesuatu yang perlu dijagaatau ditepati.

Shalahuddin yang marah mengirim utusannya pada Reynald dan Raja Guy, meminta agar para pedagang Muslim dan barang-barang dagangan mereka dilepaskan.Tapi Reynald menjawab dengan nada mengejek, “Mintalah kepada Muhammad (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pen.)untuk membebaskan mereka.”

Kejadian ini membuat Shalahuddin bersumpah untuk membunuh Reynald dengan tangannya sendiri jika ia mendapat kesempatan untuk itu.

Upaya Serangan ke Hijaz

Mengganggu jalur perdagangan dan menjarah desa-desa Muslim rupanya belumc ukup memuaskan bagi Reynald. Ia juga pernah berhasrat dan berupaya menyerang dua tempat paling suci bagi ummat Islam, yaitu Makkah dan Madinah. Ia ingin “menghancurkan makam (Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.) di Madinah dan meratakan Ka’bah di Makkah”, tulis Stanley Lane-Poole dalam Saladin and the Fall of the Kingdom of Jerusalem.

Ini adalah sebuah rencana nekad dan gila, tapi mungkin sangat agung bagi seorang fanatik seperti Reynald.Hal ini menjadi alasan lainnya, selain yang telah disebutkan di atas, mengapa Shalahuddin bersumpah untuk menghukum mati Reynald.

Percobaan pertama dilakukan pada tahun 1181, ketika Shalahuddin sedang berada di Mesir.Tidak ada benteng pertahanan Muslim yang membatasi antara al-Karak dan Hijaz, yang ada hanya padang pasir dan Laut Merah. Reynald membawa pasukannya bergerak menuju Tayma’ di utara Jazirah Arab, dan dari sana ia berencana untuk terus ke Madinah.

Bagaimanapun, rencananya cepat diketahui. Keponakan Shalahuddin yang memimpin Damaskus, Farrukhsyah, segera membawa pasukannya ke perbatasan al-Karak.

Jika Reynald meneruskan perjalanannya, maka Farrukhsyah dan pasukannya sudah siap untuk mengejar dan menyerang pasukan Reynald serta mengacaukan wilayah al-Karak.

Farrukhsyah masih belia, tapi ia terlalu matang dan sigap untuk dipandang sebelah mata oleh Reynald. Reynald menunggu dan berharap Farrukhsyah meninggalkan perbatasan al-Karak dan kembali ke Damaskus.Namun, Farrukhsyah dan pasukannya tidak mau kembali ke Damaskus sebelum memastikan pasukan Frank kembali pulang.Reynald menyerah.Iapulang dan membatalkan rencana itu, tapi tidak melupakannya.

Dua tahun kemudian, Reynald kembali berusaha menyerang Hijaz.Ketika itu Shalahuddin sedang berada di utara Suriah dan Farrukhsyah telah meninggal dunia karena sakit. Kali ini Reynald tidak menempuh jalur darat, ia memutuskan untuk pergi melalui Laut Merah. Reynald dan pasukannya berangkat secara diam-diam ke Teluk Ayla (Aqabah) di ujung utara Laut Merah.Mereka membawa potongan-potongan badan kapal yang siap untuk dIraqit setibanya di Laut Merah.

Saat tiba di Teluk Ayla, pasukan Frank langsung dibagi dua. Sebagian mengepung benteng Ayla dan selebihnya menyiapkan kapal dan berlayar ke Laut Merah. Sebelum itu dapat dikatakan tidak ada orang Frank yang melayari Laut Merah, baik sebagai pedagang atau pelancong, apalagi sebagai tentara. Dapat dibayangkan seperti apa kegemparan dunia Islam saat mendengar kapal-kapal Frank berhasil mencapai dan menjarah pelabuhan Aydhab dan beberapa pelabuhan lainnya di Laut Merah.

Saat mengetahui gerakan orang-orang Frank ini, adik Shalahuddin yang memimpin Mesir, al-Adil, segera mengutus pimpinan Angkatan Laut Mesir, Husamuddin Lu’lu’, untuk berangkat dan mengambil tindakan.Husamuddin dan pasukannya bergerak cepat.Kapal-kapal yang dipimpinnya berusaha mencegah keberangkatan kapal-kapal Frank dari Ayla. Saat mengetahui kapal-kapal Frank itu sudah berangkat, ia memerintahkan sebagian pasukannya  untuk menolong pasukan Muslim yang bertahan di Ayla, sementara ia sendiri membawa pasukan selebihnya mengejar para petualang Frank di Laut Merah. Husamuddin berhasil menyusul kapal-kapal Frank itu di kawasan Hawra’.

Saat melihat kapal-kapal Muslim, orang-orang Frank segera mendaratkan kapal-kapalnya dan melarikan diri.Husamuddin dan pasukannya berhasil mengejar mereka di darat.Sebagian orang-orang Frank itu mati terbunuh dalam pertempuran dan sisanya menjadi tawanan. Sebagian tawanan dibawa ke Mina dan dihukum mati secara terbuka di sana, sementara sebagian tawanan lainnya dibawa ke Mesir. Reynald yang tampaknya tidak ikut menyertai pelayaran di Laut Merah berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Muslim dan kembali ke benteng al-Karak.

Saat Shalahuddin mendengar kabar ini, ia merasa sangat marah dan memerintahkan agar seluruh tawanan Frank yang menyertai perjalanan itu dihukum mati. “Syari`ah tidak memberi ruang pengampunan bagi mereka,” kata Shalahuddin.Apa yang dilakukan oleh Reynald dan pasukannya ini memang sangat keterlaluan. Tentang ini, Abul Hasan Nadwi menulis, “Belum pernah terjadi sejak berlakunya peristiwa riddah (kemurtadan) setelah wafatnya Nabi, Islam terekspos dengan bahaya yang sedemikian besarnya.”

Setelah kejadian itu, Shalahuddin beberapa kali melakukan serangan dan pengepungan terhadap benteng al-Karak sebagai balasan terhadap tindakan Reynald. Namun, ia tidak berhasil menguasai al-Karak karena kuatnya pertahanan kota itu. Shalahuddin baru berhasil memenuhi sumpahnya setelah kemenangannya di Pertempuran Hattin dan tertangkapnya Reynald bersama para pemimpin Frank lainnya.

Shalahuddin tidak pernah lupa dengan kata-kata Reynald saat menangkap para pedagang Muslim beberapa bulan sebelumnya dan menantang kaum Muslimin untuk meminta pertolongan pada Muhammad (shallallahu alaihi wasallam). Pada Hari Hattin, Shalahuddin berkata pada Reynald, “Inilah saya yang mengharapkan pertolongan melalui Muhammad, dan Allah memberi saya kemenangan atas kalian.”Sebagian sumber sejarah menyebutkan bahwa Shalahuddin menawarkan Islam pada Reynald.Ketika yang terakhir ini menolak, Shalahuddinlangsung mengeksekusinya dan, meminjam kata-kata Ibn Shaddad, “mengirim jiwanya dengan cepat ke dalam Neraka”.

Demikianlah kisah petualangan politik Pangeran Arnat, gangguan-gangguannya terhadap kaum Muslimin, serta akhir perjalanan hidupnya. Melalui tangan Shalahuddin dan kesultanannya yang baik, Allah menjaga kemuliaan Tanah Haram serta tempat pembaringan terakhir Nabi yang mulia dari tangan-tangan keji yang berusaha merusaknya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan salam dan shalawat kepada Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang senantiasa berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti sunnahnya.*/Kuala Lumpur, 29 safar 1435/ 1 Januari 2014

Oleh: Alwi Alatas

Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia