Tags

Related Posts

Share This

Pesan Delisa Tuk Korban Banjir

Delisa

Delisa

AQL Islamic Center -” Kaki Delisa ?”
” Kaki Delisa mana ?”

” Kaki Delisa terbawa air ?”

” Kaki yang satunya bisa digerakkan ! “

Itulah ungkapan Delisa dalam Hafalan Shalat Delisa. Ungkapan sarat makna dari seorang anak kecil.

Ketika dia mengetahui bahwa kaki kanannya tidak ada, dia hanya sedikit kaget , matanya agak terbelalak dan dia menelan ludah. Itulah yang digambarkan dalam film Delisa. Dia hanya mengucapkan, ” Kaki Delisa ? Kaki Delisa mana ? “

” Kaki Delisa terbawa air ?”

Dia tidak berteriak histeris dan bahkan tidak menangis sama sekali.

Di saat dia mengetahui bahwa kakinya masih bisa digerakkan, dia berujar, ” Kaki yang satunya bisa digerakkan !”

Setelah menyadari bahwa kaki kirinya masih utuh dan normal bisa digerakkan, dia sudah lupa dangan kaki kanannya ‘ yang terbawa air’.

Saya tidak tahu apakah kisah Delisa yang di tulisa oleh Tere Liye ini merupakan kisah nyata atau tidak. Akan tetapi biar bagaimana pun, andaikan itu hanya sebuah kisah fiksi, tapi pesan yang disampaikan dalam kisah ini teramat dalam.

Ada sebuah kisah lain yang memiliki pesan yang serupa.

Ada seorang sahabat Ibnu Abbas ra yang bernama Abu Qalabah al-Jurmiy. Abu Qalabah adalah seorang pria tanpa tangan dan kaki. Selain itu, dia juga tuli, buta dan seluruh anggota tubuh lainnya tidak berfungsi secara normal. Hanya mulutnya saja yang dapat berfungsi  secara normal .

Suatu ketika, Abdullah bin Muhammad mendengar Abu Qalabah berujar, ” Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk selalu memujiMu sebagai ungkapan rasa syukur ku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku.”

Seseorang yang tidak memiliki tangan dan kaki, lalu juga tuli, buta dan seluruh anggota tubuh lainnya tidak berfungsi dapat berdo’a seperti ini. Mungkin orang yang mendengar akan terkejut. Terkejut pada ungkapan, “sebagai ungkapan rasa syukurku atas segala nikamt dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku. ” Bisa jadi orang itu akan bertanya, ” Nikmat apa yang dia telah terima ?”

Abdullah Bin Muhammad adalah orang yang mendengar do’a dari Abu Qalabah ini. Dia pun merasa heran dan bertanya, ” Aku baru saja mendengar do’amu tadi. Tapi, yang membuatku heran adalah nikmat apakah yang telah dianugerahkan Allah kepadamu hingga engkau harus memujiNya ? Anugerah apa pula yang engkau hendak bersyukur kepada-Nya ?”

Abu Qalabah menjawab, ” Memangnya ada yang aneh dengan apa yang diperbuat oleh Tuhanku ? Sungguh meskipun Allah mengutus langit agar menurunkan sebuah bara api untuk membakarku, memerintahkan gunung untuk membinasakanku, menyuruh lautan untuk menenggelamkanku dan menyuruh bumi untuk menelanku, niscaya aku akan semakin menambah rasa syukurku kepadaNya , atas nikmat yang telah diberikanNya kepadaku, yaitu mulutku ini.” ( Dikutip dari buku Lilin Yang Tak Pernah Padam )

Sebenarnya ada satu nikmat lagi yang dimiliki Abu Qalabah selain mulutnya. Yaitu dia bisa berkomunikasi dengan orang lain, walau telinganya tuli dan matanya buta.

Coba bayangkan … bagaimana orang bisa mendengar percakapan atau ucapan orang lain, kalau dia tuli. Mungkin orang akan menjawab , bisa dengan bahasa isyarat tangan. Bisa juga, dia membaca dari mulut orang yang berbicara. Tapi bagaimana mungkin dia dapat melihat isyarat tangan, bagaimana bisa dia membaca mulut orang lain, kalau dia buta ?

Tapi itulah yang tertulis dalam buku. Kekurangan dan cobaan yang diterimanya menjadikan sarana untuk mengumpulkan pundi – pundi keutamaan demi ridha Allah.

Delisa dan Abu Qalabah telah mencontohkan sikap sabar. Dan hal ini membuat mereka menjadi sosok yang bersyukur. Karena mereka tidak lagi memikirkan, memberatkan hati dan pikiran dengan bencana, musibah atau cobaan yang menimpa. Akan tetapi mereka terima dengan ikhlas dan lapang dada musibah dan cobaan yang menimpa.

Kondisi inilah yang membuat mata terbuka dan dapat melihat karunia dan nikmat Allah yang lain, yang jumlahnya lebih banyak dari musibah yang meimpanya.

Kondisi inilah yang membuat mata terbuka dan dapat melihat karunia dan nikmat Allah yang lain, yang jumlahnya lebih banyak dari musibah yang menimpanya.

Semoga saudara – saudara kita yang ditimpa musibah banjir , tanah longsor dan letusan gunung merapi dapat bersabar. Dapat menerima semuanya ini dengan lapang dada dan ikhlas, sehingga membuat mereka dapat bersyukur.

Sehingga merak yang terendam banjir akan dapat melihat nikmat Allah yang lain, yang jumlahnya lebih banyak dari musibah yang menimpanya. Mereka akan bersyukur karena masih dapat menghirup udara. Mereka bersyukur dapat tinggal di penampungan dan rumahnya masih ada. Mereka InsyaAllah akan bersyukur ternyata banjir yang menimpa mereka tidak sedahsyat banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh.

 

Semoga bermanfat…

 

 

[ Arya Noor Amarsyah ]