Mahasiswa, Agent Of Change! Jan31

Tags

Related Posts

Share This

Mahasiswa, Agent Of Change!

imagesAQL Islamic Center – Tulisan ini terinspirasi dari ide seorang kawan yang saat ini sedang menempuh studi strata dua di jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada.  Ide tentang bagaimana ospek sebaiknya dijalankan. Banyaknya fenomena negatif  tentang ospek di berbagai perguruan tinggi dan pengalaman-nya yang dulu saat mengikuti ospek bagaikan anggota militer cukup membuat nyali ini ciut, hingga saya berkali-kali mengatakan lebih baik bohong dengan alasan sakit daripada harus ikut ospek yang menyiksa. Dan juga karena pengalaman lapangan-nya saat penelitian di desa Sangiran, menyaksikan masjid kampung yang hampir roboh dan tak terurus, sehingga  muncul ide untuk mengganti ospek yang terkesan kejam dan tidak manusiawi dengan terjun lagsung ke lapangan semacam KKN agar para calon mahasiswa faham dan mengerti tujuan mereka apa saat menentukan jurusan studi di sebuah Universitas.

 

Kebetulan juga beberapa hari yang lalu salah seorang guru saya Bapak Yuni Prihadi Utomo yang dulu juga sebagai pembimbing tunggal dalam penyelesaian skripsi memberikan “ide” kepada saya untuk menggali Pembangunan Ekonomi dari persepektif Islam (dan memang seharusnya dari perspektif Islam, karena Islam telah ada pada setiap lini kehidupan manusia). Ya membangun Ekonomi, Ekonomi adalah kekuatan untuk menggerakkan sebuah perjuangan, Ekonomi kuat, perjuangan semakin kuat. Dan salah satu indikator sebuah perdababan maju adalah ekonomi rakyat maju. Tidak ada rakyat miskin, tidak ada pengemis dan anak-anak jalanan yang setiap saat sibuk di perempatan lampu merah.

 

Dalam sebuah catatannya,  Huntington pernah menyatakan “If Malaysia and Indonesia continue their Economic Progress, they might provide an “Islamic Model” for development to compete with the Western and Asian Models”. Memang ke-islamophobia-an Huttington sangat terlihat dengan pernyataannya tersebut, Indonesia dan Malaysia dengan penduduk muslim terbesar di dunia jika mampu mengembangkan Ekonomi dengan maksimal maka kendali peradaban dunia akan kembali lagi pada tangan-tangan muslim.

 

Mahasiswa bukanlah anak SMA lagi, kematangan berfikir, perumusan hidup memang harus segera difahamkan atau ditanamkan kepada manusia yang namanya mahasiswa sejak dini. Karena mereka-mereka inilah yang kelak akan meneruskan estafet perjuangan, mereka yang akan turut serta untuk membentuk kebijakan-kebijakan yang ada pada sistem sebuah Negara.

 

Saya yang dulunya sempat belajar di jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Surakarta ingin sedikit berbagi tentang bagaimana sebuah ospek sebaiknya dijalankan, dan ini bukan berarti ospek atau PPA di Fakultas Ekonomi selama ini buruk, karena dari cerita beberapa rekan yang pernah mengikuti ospek di perguruan tinggi lain, ospek di fakultas Ekonomi UMS cukup aman karena tidak banyak adegan ala militer. Saya hanya mencoba turut mengusulkan bagaimana jika mahasiswa baru yang masuk jurusan Ekonomi Pembangunan kita terjunkan ke masyarakat barang 1 atau 2 hari. Kita bawa mereka pada masyarakat yang terbelakang kehidupannya, atau justru pada masyarakat pedesaan yang maju perekonomiannya maju dengan home industri-nya atau produk lokal serta kegiatan sosial yang lain. Dan ini pun saya kira juga bisa diaplikasikan pada jurusan-jurusan yang lain. Lalu karena Universitas Muhammadiyah Surakarta yang notabene adalah kampus Islam yang berdiri di bawah Yayasan besar Muhammadiyah yang sangat terkenal dengan kegiatan amal usahanya maka sudah sangat selayaknya kita juga turut andil memasukkan atau mengintegrasikan Islam dan Ekonomi Pembangunan dalam gerak nyata. Sehingga Islam dan Ekonomi bukan ajaran yang dikotomis, utopis dan elitis yang asik berdiri di menara gading tanpa tahu apa yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa ekonomi, sebagai pegiat Ekonomi, dan atau sebagai pengamat ekonomi.

 

Penanaman tujuan kuliah atau tujuan hidup mesti ditanamkan sejak awal agar tak ada keraguan lagi saat mereka menempuh studi. Agar dalam setiap pekan perkenalan mahasiswa tidak ada lagi pesan yang menyatakan rajinlah belajar, rajin kuliah, cepet lulus dengan ipk tinggi, lalu bekerja dan menikah dan selesai. Sehingga hanya tersirat bagaimana nanti setelah lulus kuliah bisa mendapat pekerjaan yang keren, membeli moblil keren, rumah keren dan berbagai macam model pikiran materialistis nan hedonis. Namun bagaimana dalam diri seorang mahasiswa itu terpikir, apa yang bisa saya  perbuat untuk umat dan untuk bangsa ini sehingga tidak ada lagi kemiskinan di Negeri tercinta ini, sehingga tidak ada lagi anak-anak jalanan yang sibuk di perempatan lampu merah di saat anak-anak yang lain sibuk belajar. Sejarah Rasulullah, sahabat dan para ulama terdahulu telah mengajarkan banyak hal bagaimana  ekonomi sebuah bangsa itu maju.

 

Mahasiswa adalah ikon intelektual dan ikon perubahan dalam sebuah bangsa, sekarang sudah berapa banyak sarjanan ekonomi yang dihasilkan (termasuk saya sendiri) namun Indonesia tercinta masih seperti ini-ini saja. Ini PR kita bersama, ini pekerjaan kita bersama. Setidaknya menanamkan sebuah ide segar untuk berkembang akan membuat para mahasiswa  lebih bersemangat belajar karena mereka menjadi faham betul apa yang dilakukan setelah mereka lulus atau bahkan saat mereka belum lulus. Dan jika masih banyak orang tua yang menuntut anak-anaknya cepat lulus dengan ipk tinggi, bekerja lalu menikah maka si anak itu insyaAllah bisa menjelaskan dengan sangat baik pada orang  tua apa tujuan sebenarnya dari sebuah pendidikan? Karena  dari seorang mahasiswa pula perubahan itu ada. They are Agents of Change . Allahu A’lam Bisshawwab…

 

Ditulis oleh: Nurul Ummatun Kamal

Wisma Lir Ilir, Solo. Ahad, 10 Rabiul Awal 1435 H / 12 Januari 2014