Rasulullah Mengubah Dunia dengan Singkat

1521543_10152111028344831_198079862_nAQL Islamic Center – Nabi Ibrahim melahirkan dua orang putra yang juga didaulat oleh Allah sebagai nabi dan rasul, maka dengan sendirinya mereka bahu-membahu mengajar dan mendakwahkan ajaran monoteis ‘tawhid’ pada dua komunitas dan teritorial berbeda: Ismail ‘alaihissalam (as) di Mekkah dan Ishak as di Yerussalem. Mereka bersinergi dalam berdakwah sekitar tujuh puluh tahun sebelum akhirnya Nabi Ibrahim tutup usia. Setelah itu tak banyak bahkan nyaris tak ada berita tentang keadaan dakwah kedua penerusnya yang berbeda tempat dan suku bangsa itu.
Garis keturunan Nabi Ishak, disebut dengan jelas dalam Alquran seperti Israil atau  Ya’qub as. Setidaknya ada dua keturunannya yang mendapat porsi cerita yang banyak dalam Alquran: Yusuf dan Isa. Namun keturunannya yang lain juga tetap mendapat tempat yang banyak dalam kitab samawi, baik Injil, Taurat, apalagi Alquran. Keturunan Ya’qub lebih terkenal dengan sebutan Bani Israil.
Kendati demikian, ajaran Ibrahim yang monoteis itu tetap menjadi amalan utama Bani Israil dalam beribadah dan juga mayoritas gereja aliran Timur. Berbeda dengan Bani Israil yang hampir tiap generasi mendapatkan utusan nabi dan rasul, masyarakat Arab yang tinggal di Mekkah dan kota-kota yang berhampiran dengannya, mereka seakan-akan terabaikan dari sentuhan dakwah para wakil Allah. Semenjak kepergian Ibrahim dan Ismail tak pernah lagi ada rasul yang diutus untuk mereka.
Sementara itu, penyelewengan ajaran ibrahimi yang monoteis itu telah dirusak oleh anak cucunya  sendiri. Ibnu Hisyam rahimahullah yang merupakan rujukan utama dalam penulisan sejarah NabiMuhammad menulis dengan jelas bahwa manusia pertama yang merusak ajaran tawhid Ibrahim as adalah Amru bin Luhai. Berawal ketika Luhai melakukan perjalanan dari Mekkah ke Syam –kini Palestina, Lebanon, dan Jordan—sesampai di Syam, ia menemukan sebuah perkampungan bernama Maak, dihuni oleh keturunan Nabi Nuh yang dikenal dengan suku Amlik.
Ketika Amru bin Luhai menyaksikan para penduduk Maak menyembah berhala, ia bertanya. “Untuk apa kalian menyembah berhala-berhala itu?” Mereka menjawab. “Dengan memuja berhala, ketika musim kemarau tiba maka hujan tiba-tiba turun. Jika terjadi peperangan, kami menyembah berhala, maka mereka menolong kami, lalu menang!”
Karena Mekkah selalu dilanda kemarau panjang dan perang antarsuku adalah rutinitas tahunan. Maka ide konyolnya pun muncul, Luhai ingin mendapat hujan dalam kemarau dan kemenangan dalam peperangan. Ia pun memboyong berhala sekembalinya ke Mekkah. Berhala itu diletakkan di depan kakbah, lalu mengumpulkan segenap penghuni kota. Beliau menceritakan dengan rinci fungsi dan keutamaan berhala tersebut. Dan penduduk Mekkah menerima dengan sempurna. Lama-kelamaan, setiap orang yang keluar lalu kembali ke Makkah selalu membawa berhala, termasuk para peziarah yang datang mengunjungi kakbah. Ada sekitar 360 berhala menghiasi kakbah ketika Abdul Muthalib menjadi juru kunci.
Kendati demikian, kakbah masih tetap memikat untuk dikunjungi oleh para peziarah dari segenap penjuru mata angin, tak terkecuali orang Yahudi dan Keristen. Ibadah haji, tawaf, dan qurban juga tetap jalan dengan metode dan tujuan berbeda. Jika ajaran ibrahimi menjadikan segenap ibadah haji itu hanya ditujukan kepada Allah, maka kini telah bergeser, mereka melakukan rangkaian ritual untuk berhala dan roh-roh yang mereka yakini.
Cara tawaf misalnya, sebagaimana yang ditulis Nik Aziz dalam “Sirah Nabawiyah, Insan Teladan Sepanjang Zaman” bahwa kaum Quraisy melakukan tawaf dalam keadaan telanjang bulat, yang dibagi menjadi dua waktu. Kaum lelaki di siang hari dan  perempuan di malam hari. Mereka telanjang karena berkeyakinan bahwa pakaian yang mereka kenakan dalam melakukan perbuatan dosa juga ikut berdosa. Untuk itu, mereka tidak mau mengenakan pakaian jika beribadah, karena pakaiannya berlumuran dengan dosa-dosa. Jika mereka berhaji, juga mengucapkan ‘talbiyah’ dengan menyelipkan kata-kata yang tak sepantasnya bagi Allah. Talbiah mereka adalah, “Tiada sekutu bagi Allah, kecuali sekutu yang Engkau sendiri pilih, Engkau miliknya, tapi dia tidak mempunyai milik.”
Untungnya, tetap saja terdapat sebagian kecil yang konsisten dengan ajaran monoteis, tak terpengaruh dengan ajaran khurafat mayoritas penduduk Mekkah. Satu di antaranya bernama Waraqah bin Nawfal yang memiliki seorang saudara perempuan, Qutaylah. Sering ia berdiskusi dengan adiknya prihal kedatangan seorang nabi yang mungkin datang pada zamannya karena melihat fenomena yang berlaku di tengah masyarakat Arab yang benar-benar akut, mereka membutuhkan nabi. Termasuk bercerita tentang ciri-ciri nabi misterius itu dengan gamblang. Qutaylah sangat memahami.
Nabi datang
Ketika Abdul Muthalib berusia 70 tahun lebih dan Abdullah anaknya 25 tahun. Ia berhasrat mencarikan pendamping bagi putra kesayangannya itu, dan pilihannya jatuh pada gadis cantik bernama Aminah, putri Wahab seorang kepala kabilah yang telah meninggal beberapa tahun silang. Kini Aminah diasuh oleh pamamnya, Wuhaib. Sang paman sendiri memiliki anak gadis bernama Halah. Ketika Abdul Muthalib melamar Aminah untuk Abdullah, beliau sekaligus melamar Halah untuk dirinya.
Abdullah adalah pemuda paling tampan pada masanya, dan Abdul Muthalib, kendati sudah berumur namun dia tetap gagah dan memiliki segala-galanya. Kedudukan, reputasi, dan kekayaan. Maka pernikahan ini merupakan pesta termeriah di zamannya. Ketika hari pernikahan telah tiba, Abdul Muthalib menggandeng putranya diiringi oleh segenap penduduk kota. Dalam perjalanan menuju rumah mempelai wanita, mereka harus melewati rumah Qutaylah, adik Waraqah. Ia bediri di depan pintu dan perhatiannya tersita oleh seorang lelaki yang sedang diarak menuju pelaminan. Ketika mendekat Qutaylah memperhatikan Abdullah dengan seksama, tiba-tiba ia memanggil. “Hey Abdullah!” mendengar itu, sang ayah melepas genggaman sebagai isyarat bahwa ia boleh menemui Qutaylah yang masih sepupunya itu. “Kamu mau ke mana?” ia bertanya sekadar untuk basa-basi. “Tetaplah di sini, nikahi aku niscaya engkau akan memiliki kekayan dariku!” Abdullah menjawab. “Aku harus menuruti ayahku, tak mungkin melanggar keputusannya.” Sebagaimana yang telah diwartakan Waraqah padanya tentang ciri nabi akhir zaman itu, Qutaylah yakin dengan tanda-tanda yang dimiliki Abdullah, dia akan menjadi seorang nabi atau dari keturunannya.
Pernikahan pun terlaksana, dan Abdullah berdiam beberapa hari di rumah Aminah, istrinya. Ketika ia keluar hendak mengambil sesuatu di rumahnya sendiri, kembali dia bertemu dengan Qutaylah. Mata Qutaylah menatap dengan sempurna wajah Abdullah. Abdullah berharap agar Qutaylah mengucapkan lagi kata-kata ‘tawaran’ beberapa hari lalu. Namun wanita itu diam saja, Abdullah pun mempertanyakan sikap sepupunya yang telah berubah. “Cahaya yang ada padamu kemarin telah lenyap, dan hari ini engkau tak dapat memenuhi harapanku lagi.” Tegas Qutaylah.
Beberapa saat setelah menikah dengan Aminah, Abdullah melakukan perjalan ke Syam untuk berdagang. Dalam perjalanan pulang ia jatuh sakit dan tinggal di rumah neneknya di Yatsrib. Kafilah melanjutkan perjalanan pulang ke Mekkah tanpa Abdullah. Sesampainya, Abdul Muthalib langsung mengirim Harits dengan maksud jika anaknya telah sembuh agar lekas kembali. Namun ketika harits sampai di Yatsrib, yang ia peroleh hanyalah ucapan belasungkawa. Ia pun mengerti jika Abdullah telah maninggal.
Wafatnya Abdullah menjadi berita duka bagi segenap penduduk Mekkah. Namun pelipur lara juga datang. Aminah rupanya sudah mengandung benih Abdullah, dan kandungannya kian hari kian membesar, dan menunggu waktu untuk melahirkan. Ia merasakan jika terdapat cahaya ajaib yang memancar dari dalam dirinya. Pada suatu malam ia bermimpi melihat cahaya terang-benderang, dengan cahaya itu tanpak jelas baginya kastil-kastil Bostra di Syiria. Lalu mendengar suara, Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia. Jika ia lahir, katakan, Aku menyerahkan anakku kepada Tuhan Yang Esa dari segala kejahatan orang-orang yang jahat, dan namailah Muhammad. Beberapa minggu kemudian, Aminah melahirkan bayi lelaki yang ia namai Muhammad.
Michel Hart menempatkan Muhammad saw sebagai 100 manusia paling berpengaruh yang pernah terlahir di bumi, di antara alasannya, Nabi mampu merubah dunia dengan jangka masa yang singkat; keberlangsungan ajaran berkat kesuksesannya mendidik para pelanjut dakwahnya dari sahaba-sahabatnya; serta pengikutnya masih tetap loyal dan bertambah hingga saat ini. Termasuk umat Islam Indonesia yang sedang merasakan suasana kelahiran (maulid) Nabi Muhammad. Wallahu a’lam!
Ilham Kadir, Peneliti MIUMI dan Pengurus BKPRMI Sulsel