Merasakan Kasih Sayang Allah Mar17

Tags

Related Posts

Share This

Merasakan Kasih Sayang Allah

IMG-20140315-WA0005AQL Islamic Center – Majelis Tadabbur Al Qur’an (MataQu) telah diselenggarakan pada hari  Sabtu (15/3) . Dengan tema ‘Merasakan Kasih Sayang Allah’ (Tadabbur Asma Arrahman Arrahim). Ratusan jama’ah se-Jabodetabek telah memenuhi masjid Baitul Ihsan, Jakarta Pusat.

Ustadz Bachtiar Nasir memberikan dua kalimat pamungkas agar doa diijabah oleh Allah.

Kalimat pertama, Wa Ilaahukum ilaahum Waahidum laa ilaaha illaa huwar rahmaanurrahiim. Dalam kalimat tersebut terdapat kata Arrahmaan yang bermakna maha pengasih dan Arrahim yang bermakna Maha Penyayang.

Ustadz Bachtiar meminta para jamaah untuk menghafal kalimat pertama tersebut dengan waktu lima menit, karena kalimat tersebut beliau nilai akan sangat membantu para jamaah menghadapi kesulitan hidup. Para jamaah tak sungkan untuk menghafal kalimat tersebut.

Setelah para jamaah sudah hafal dengan kalimat pertama tersebut, Ustadz Bachtiar pun melanjutkan dengan kalimat pamungkas terakhir sebagai pengawal doa.

Kalimat kedua, Alif laam miim, allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum

Ustadz Bachtiar menjelaskan kalimat kedua tersebut merupakan awalan Surat Ali Imran. Di akhir kajian, beliau meminta para jamaah untuk yakin atas pertolongan Allah dalam membaca dua kalimat pengawal doa tersebut.

“Karena intinya kita berdoa adalah yakin bahwa Allah itu mendengar dan akan mengabulkan doa kita. Sebelum kita berdoa kepada Allah, harus kita awali dengan dua kalimat tersebut,” ungkap ustadz yang juga menjabat sebagai ketua Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) tersebut. (TOM/UL/bumisyam)

Ustadz Bachtiar Nasir juga mencermati fenomena kepemimpinan saat ini. Pemimpin berjiwa merdeka, pasti menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Namun jika jiwanya tidak merdeka, dia tidak akan tunduk aturan Allah.

Pimpinan Arrahman Quranic Learning Islamic Center (AQL-IC) itu melihat contoh sosok seorang Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sebagai pemilik jiwa merdeka.

Perempuan yang pernah dinobatkan sebagai Wali Kota terbaik dunia asal Indonesia itu berhasil menutup empat lokalisasi di Surabaya. Sepak terjangnya selalu diukur dari keridhaan Allah. Kekhawatiran terhadap pertanggungjawabannya kelak di akhirat, membuatnya menutup lokalisasi.

Ustadz Bachtiar juga melihat sosok pemimpin berjiwa merdeka di negeri Malaysia. Menurutnya, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad pernah menyatakan,  “Silahkan bawa masuk uang, asal jangan pernah bawa Syiah masuk Malaysia!” Menurutnya, sinyalemen ini menjadikan para aparat pemerintahan di sana konsisten menghalau pertumbuhan aliran sesat.

“Seperti thawaf, kenapa Allah memerintahkan thawaf dengan menempatkan Ka’bah di sisi kiri badan? Kalau Allah menempatkan Ka’bah di sebelah kanan kita, pulang-pulang, banyak jamaah yang gila karena perputaran sel-sel tubuh sesuai dengan thawaf,” ujar Ketua Lembaga Tadabbur Quran Indonesia (LaTaQia) itu menjelaskan.

Sama halnya jika seorang pemimpin hanya tunduk pada kekuasaan manusia lainnya. Ia akan mengalami kerusakan orientasi kehidupan

“Dan kita, akan menjadi orang gila kalau kita tidak menuruti aturan Allah yang telah menciptakan kita di dunia ini!” tukas lulusan Universitas Islam Madinah itu.

Selanjutnya, Ustadz Bachtiar menghimbau jamaah untuk tidak tergiur pada berbagai janji dan jargon kampanye peserta Pemilu 2014.

“Kalau sudah meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, kalaupun partai Islam, tinggalkan! Yang tidak bekerja untuk Islam, tinggalkan! Yang ragu bersama Islam, tinggalkan! Karena berjuang untuk hal seperti itu hanya bekerja untuk pepesan kosong,” ucapnya tegas

(Rias/Hidayatullah)