Tauhid adalah Essensi Nabi Muhammad Sebagai Rahmatan lil ‘alamien Jun10

Tags

Related Posts

Share This

Tauhid adalah Essensi Nabi Muhammad Sebagai Rahmatan lil ‘alamien

Allah SWT. berfirman:

وَمَا أَرْ‌سَلْنَاكَ إِلَّا رَ‌حْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. al-Anbiya` [21]: 107).

Dalam ayat di atas, Allah SWT. menegaskan bahwa risalah kenabian yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT. menjadikan Nabi SAW. sebagai rahmat-Nya kepada seluruh alam. Barangsiapa yang menerima dan mensyukuri rahmat itu maka ia akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat, sebaliknya barangsiapa yang menolak dan mengingkarinya maka ia merugi di dunia dan akhirat.

Diutusnya Muhammad sebagai rasul juga merupakan rahmat bagi orang-orang kafir karena mereka tidak akan dimusnahkan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini, dimana beliau menjelaskan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka Allah SWT. telah menetapkan rahmat baginya di dunia dan akhirat, sedangkan yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan dikenakan azab yang memusnahkan sebagaimana yang menimpa umat-umat sebelumnya.

Objek utama dari diutusnya Nabi Muhammad SAW. sebagai rahmatan lil ‘alamien adalah manusia, yaitu agar manusia mengenal dan mengikrarkan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Yang Maha Esa. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kelanjutan ayat di atas, yaitu:

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (QS. al-Anbiya` [21]: 108).

Jadi essensi Nabi Muhammad SAW. sebagai  rahmatan lil ‘alamien adalah membawa manusia kepada kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

Dalam ayat lain, Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْ‌سَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرً‌ا وَنَذِيرً‌ا ﴿٤٥ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّـهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَ‌اجًا مُّنِيرً‌ا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. al-Ahzab [45-46).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan fungsi risalah kenabian yang diamanahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pertama, sebagai saksi atas segala amal perbuatan yang kita lakukan yang baik maupun yang buruk.

Kedua, sebagai pembara kabar gembira agar kita senantiasa konsisten dalam keimanan dan ketaqwaan.

Ketiga, sebagai pemberi peringatan agar kita berhenti dari kezaliman, kejahiliyyahan dan kebodohan kita.

Keempat, sebagai penyeru manusia untuk kembali kepada Allah SWT.

Kelima, sebagai pelita yang menerangi jalan manusia di tengah kegelapan hawa nafsu mereka dan fitnah kesenangan dunia yang sangat menggoda.