Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban Jun13

Tags

Related Posts

Share This

Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, ada pendapat yang mengatakan bahwa kalau sudah masuk pertengahan Sy’aban maka kita tidak boleh lagi melakukan puasa sunnah. Benarkah itu ustadz? katanya ada hadits dari Nabi SAW. yang melarang itu. Mohon penjelasannya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Memang benar ada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan tentang larangan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلا تَصُومُوا

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Jika telah memasuki pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Tirmizi, Abu Daud, Al-Nasa`i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad dan al-Baihaqi).

Tetapi para ulama hadits berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini. Sebagian ulama hadits berpendapat bahwa hadits ini adalah shahih, seperti Tirmizi yang mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits hasan shahih, Ibnu Hibban dengan mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya, Ibnu Qayyim yang mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, al-Thahawi dalam kitabnya Syarh al-ma’ani dan Ibnu Abdulbarri dalam kitabnya al-Istidzkar.

 Sedangkan sebagian ulama lainnya, Abdurrahman bin Mahdi, Imam Ahmad dan Abu Zur’ah melemahkan hadits ini dan mengangap hadits ini adalah hadits munkar. Hal itu adalah karena dua sebab. Pertama, karena hadits ini adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh al-‘Ala bin Abdurrahman, dan ulama hadits berbeda pendapat tentang dia dimana Ibnu hajar mengatakan bahwa dia adalah seorang yang dipercaya tapi dia mungkin berkhayal (صدوق ربما وهم). Imam Ahmad berkata, “Hadits ini bukanlah hadits yang banyak dihafal, dan ketika saya bertanya kepada Ibnu Mahdi tentang hadits ini maka ia tidak menshahihkannya dan tidak meriwayatkannya kepada saya serta ia menjauhi hadits ini. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa al-‘Ala itu perawi yang tsiqoh (diperrcaya) dan tidak dingkari haditsnya kecuali hadits ini. Kedua, karena hadits ini bertentangan dengan hadits yang lebih kuat darinya, yaitu hadits-hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban secara umum.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ، حَتَّى نَقُولَ : لَا يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ : لَا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. berpuasa hingga kami mengatakan; beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan; beliau tidak berpuasa. Dan tidaklah aku melihat Rasulullah SAW. menyempurnakan puasa satu bulan sama sekali kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat beliau dalam satu bulan lebih banyak melakukan puasa daripada berpuasa pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Riwayat Muslim yang lain disebutkan (كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا) yang berarti beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit (hanya beberapa hari saja tidak berpuasa).

عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنَ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ ، قَالَ : ” ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah SAW.: “Ya Rasulullah! saya belum pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan lainnya sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban? Rasulullah SAW. menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang sering dilupakan manusia yaitu antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. Al-Nasa`i).

Dan juga bertentangan dengan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW. melarang untuk mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua sebelumnya kecuali bagi mereka yang memang terbiasa berpuasa seperti yang puasa Daud atau selalu puasa Senin dan Kamis maka dibolehkan puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan itu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ ، إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kalian mendahulukan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

 

Karena perbedaan terhadap kedudukan hadits itu maka para ulama juga berbeda tentang hukum berpuasa setelah pertengahan Sya’ban itu. Jumhur ulama yang menganggap bahwa hadits yang melarang untuk berpuasa setelah pertengahan Sya’ban itu lemah maka mereka berpendapat bahwa puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban itu boleh.

Sedangkan sebagian ulama mazhab Hanbali dan mazhab Syafi’i berdasarkan hadits tersebut berpendapat bahwa makruh hukumnya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Bahkan sebagian ulama mazhab Syafi’i seperti al-Ruyani berpendapat haram hukumnya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban kecuali jika dia memang sudah berpuasa sebelumnya atau terbiasa berpuasa seperti orang yang melakukan puasa Daud atau Senin dan Kamis. Mereka berpendapat bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits lain, tetapi bisa dikumpulkan dan diamalkan kedua-duanya. Yaitu dengan menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini adalah bagi yang sengaja untuk hanya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban bukan karena memang berpuasa dari awal Sya’ban atau memang terrbiasa melakukan puasa sunnah seperti puasa Daud dan puasa Senin Kamis. Sedangkan hadits lain adalan anjuran secara umum untuk memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Oleh karena itu walaupun hadits larangan puasa setelah pertengahan Sya’ban itu shahih (yang pada kenyataannya banyak yang mendhaifkannya) maka hal itu hanya menunjukkan makruh bukan haram, dan itu hanya bagi yang memang sengaja hanya melakukan puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban. Adapun bagi yang sudah melakukan puasa sejak awal Sya’ban atau memang terbiasa selalu melakukan puasa seperti puasa Daud dan puasa Senin Kamis maka hal itu tidak apa-apa karena kuatnya hadits Nabi yang menganjurkan kita untuk memperbanyak ibadah puasa sunat di bulan Sya’ban. Apalagi bagi yang berpuasa untuk membayar puasa yang ditinggalkan pada Ramadhan sebelum yang hukumnya adalah wajib dan tidak boleh diakhirkan hingga masuk Ramadhan lagi kecuali karena ada udzur.

Wallahu a’lam bish shawab..