UBN: Hapus Dikotomi Istilah Ulama & Umaro Jun16

Tags

Related Posts

Share This

UBN: Hapus Dikotomi Istilah Ulama & Umaro

RUSDIAQL Islamic Center-AQC Megamendung: Pimpinan AQL Islamic Center Ust. Bachtiar Nasir meminta kepada umat Islam untuk menghapus dikotomi yang memisahkan antara istilah Ulama (orang berilmu) dan Umaro (pemerintah). Karena pemisahan kedua unsur tersebut merupakan penyebab terjadinya sekularisasi yang telah menjauhkan antara ajaran agama dan urusan keduniaan.

“Jadi kita jangan terpaku dengan cara pandang ulama sekarang, dimana ada istilah ulama dan umaro. Ini pendikotomian yang salah,” tandasnya seraya menambahkan, “kedua istilah tersebut sebenarnya tidak berlaku dalam kalimat ‘ulil amri’ dalam Al Qur’an”.

Penegasan tersebut diungkapan Ust. Bachtiar dalam sambutannya pada acara Silaturrahim Akbar yang diikuti para santri dan alumni Pesantren Arrahman Qur’anic College (AQC) di desa Cirimpak, Megamendung, Bogor, (16/6/2014). Hadir pula dalam kesempatan itu Pengurus Ummahatul Mukminin Indonesia (UMI), Pengusrus Masjid Pondok Indah, yang menggelar kegiatan pengobatan gratis dan pembagian sembako gratis kepada masyarakat sekitar.

Ust. Bachtiar yang juga pimpinan Pesantren AQC ini menjabarkan, tafsir pada kalimat “wa ulul amri minkum” yang tertuang dalam Al Qur’an, menjelaskan sebenarnya para “amir” (pelaksana negara/pemerintah) yang dintunjuk pada masa sahabat Rasulullah itu adalah para ulama (alim: orang berilmu). Sehingga pemahamannya, orang yang menguasai ilmu agama adalah yang layak menjadi pemimpin Negara sebagai pelaksana sebuah pemerintahan.

Pada awalnya, menurut Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) ini, tafsir dalam ayat tersebut harus dilihat pada sosok para khalifah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Seperti Abu Bakar Ashidiq, Umar bin Khatab, dan lainnya. Mereka adalah para pemimpin negara yang sekaligus ulama (pemimpin umat).

Bersatunya antara pemimpin pemerintahan dan pemimpin umat pasca era kekahlifahan, lanjut Ust. Bachtiar, berlangsung juga pada era dinasti Abbasiyah, Umawiyah, bahkan sebagian dinasti Utsmaniyah.

Sekolah Ulama

BACOBerkaitan dengan keberadaan AQC yang tahun ini melepas 13 mahasantri yang baru lulus untuk mengikuti program pengabdian masyarakat untuk disebar ke beberapa pelosok desa di Indonesia, Ust. Bachtiar mengungkapkan kegiatan ini merupakan proses awal kaderisasi pembentukan para calon ulama.

“Alhamdulillah pesantren AQC ini sudah berjalan lima tahun. Ada sebuah program besar yang harus segera kita persiapkan. Karena di Indonesia hingga kini belum punya universitas yang khusus melahirkan ulama,” katanya.

Untuk itu, kepada para alumni Pesantren AQC yang telah mendapat beasiswa kuliah di beberapa negara Arab, seperti di Universitas Islam Madinah, di Yaman, bahkan di Gaza, Palestina, dihimbau agar mereka terus belajar menggali ilmu.

“Kalian jangan pulang ke Indonesia sebelum menyelesaaikan S-3. Jangan menikah dahulu. Nanti saja setelah S-2,” harapnya.

Kepada para pendidik (asatidz) di Pesantern AQC, Ust. Bachtiar memberi apresiasi dengan mendo’akan  agar Allah SWT  senantiasa menambahkan rahmatNya. “Apa yang kalian lakukan sudah sangat mulia. Karenanya jangan mengukur diri kalian dengan profesi pengajar yang di luar pesantren sana,” ujarnya.

Sebab, lanjut Ust. Bachtiar, “kalian sesungguhnya sudah tahu apa yang disebut dengan orang-orang yang bergengsi di mata Allah. Inilah jihad kalian, dan mudah-mudahan para asatidz disini mendapat surga yang paling tinggi di hadapan Allah”.

>Abu Lanang