Hukum Talak Orang Yang Sedang Mabuk Jun18

Tags

Related Posts

Share This

Hukum Talak Orang Yang Sedang Mabuk

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, saya mau bertanya tentang seorang suami yang dalam keadaan mabuk, mengucapkan kata menceraikan istrinya. bagaimana hukumya? apakah sah ucapannya? apakah telah jatuh talak kepada istrinya? Mohon penjelasannya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Permasalahan ini sudah menjadi pembahasan ulama kita sejak lama. Dan ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum talak yang diucapkan oleh seorang suami yang dalam keadaan mabuk ini. Jumhur ulama seperti Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafi’i dalam satu perkataannya, Sa’id bin al-Musayyab, Hasan al-Basri, Ibrahim al-Nakh’i, al-Zuhri, al-Sya’bi, al-Auza’i dan al-Tsauri mengatakan bahwa talak orang mabuk itu berlaku dan jatuh talaknya kepada istrinya.

Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa talak yang diucapkan oleh orang yang sedang mabuk itu tidak sah dan tidak berlaku. Ini merupakan pendapat Utsman bin Affan, Ibnu Abbas, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, pendapat Imam Syafi’i yang lama, pendapat beberapa tabi’in seperti ‘Atha`, Thawus, Ikrimah, al-Qasim dan Umar bin Abdul Aziz dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim.

Sebelumnya, perlu dijelaskan bahwa Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami  di India dalam satu seminarnya yang dihadiri ulama-ulama dari India dan luar India telah mengahasilkan keputusan dalam masalah ini. Berikut isi keputusannya:

1. Jika seseorang memakan/meminum sesuatu yang memabukkan dan haram, tetapi ia tidak mengetahuinya, lalu ia menceraikan istrinya dalam keadaan mabuk itu maka talaknya tidak berlaku.

2. Jika seseorang memakan/meminum sesuatu yang memabukkan dan haram untuk berobat setelah dokter muslim yang professional berpendapat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengobati penyakitnya kecuali dengan barang yang memabukkan itu. Atau ia memakan/meminum sesuatu yang memabukkan itu ketika dalam keadaan sangat lapar dan haus untuk menjaga hidupnya, sedangkan ia tidak menemukan sesuatu yang halal. Lalu ia mabuk dan mengucapkan kata talak kepada istrinya dalam keadaan ini, maka talaknya tidak sah dan tidak berlaku.

3. Jika seseorang dipaksa untuk meminum khamar atau sesuatu yang memabukkan lainnya dengan paksaan yang membuatnya boleh meminumnya, lalu ia menceraikan istrinya dalam keadaan mabuk itu maka talaknya tidak sah dan tidak berlaku.

4. Jika seseorang mabuk karena memakan sesuatu yang halal, lalu ia menceraikan istrinya dalam keadaan mabuk itu, maka talaknya tidak dianggap.

5. Jika seseorang sengaja memakan/meminum sesuatu yang memabukkan dan haram, lalu ia mabuk tapi masih pada tahap awal, dimana ia belum kehilangan akal dan kesadarannya, dan ia masih memahami perkataannya, kemudian ia menceraikan istrinya maka dalam keadaan ini talaknya sah dan berlaku.

6. Jika ia mabuk karena sebab sebagaimana yang disebutkan di atas (no. 5) dan ia hilang akal dan kesadaran total, dan kemudian mengucapkan kata talak kepada istrinya, para ulama peserta seminar berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian besar ulama peserta berpendapat bahwa talak seorang suami dalam keadaan seperti ini tidak sah dan tidak berlaku.

Jadi yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama itu adalah pada kondisi yang terakhir ini, dimana seseorang yang mabuk karena sengaja meminum sesuatu yang memabukkan dan diharamkan, sudah kehilangan akal dan kesadarannya sehingga tidak lagi menyadari apa yang diucapkan dan dilakukannya.

Adapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa talak orang mabuk itu sah dan berlaku adalah:

a. Hal itu merupakan hukuman baginya atas dosa yang telah dilakukannya dengan pilihan dan kemauannya sendiri.

b. Hadits Nabi SAW. yang mengatakan:

عَنْ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ ‏‏قَالَ ‏: ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏: ” ‏ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ : النِّكَاحُ ، وَالطَّلَاقُ ، وَالرَّجْعَةُ

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda, “Ada tiga perkara, yg sungguh-sungguhnya menjadi sungguhan, dan candanya juga menjadi sungguhan; Nikah, Talak, dan Ruju’ (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Disini Nabi SAW. memberikan konskwensi kepada ucapan seseorang dalam tiga masalah di atas meskipun diucapkan dalam keadaan bercanda tanpa diniatkan, maka begitu juga dengan keadaan mabuk.

Sedangkan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa talak orang mabuk itu tidak sah dan tidak berlaku adalah:

a. Karena orang mabuk yang sudah tidak lagi mengetahui dan menyadari ucapannya, tidak mempunyai niat atau tujuan yang benar seperti orang yang sehat. Padahal Nabi SAW. menegasakan dalam haditsnya bahwa setiap amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya.

b. Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan cerita dimana Hamzah paman Nabi SAW. menyembelih onta milik Ali, lalu beliau dibawa ke hadapan Nabi SAW. dimana Nabi kemudian memberi peringatan kepadanya. Namun karena berada dalam keadaan mabuk, beliau berkata, “Bukankah kalian semua hanyalah hamba bapakku”. Perkataan ini kalau diucapkan ketika tidak dalam keadaan mabuk merupakan perkataan kekufuran. Tetapi Nabi SAW. mengetahui bahwa paman beliau, Hamzah sedang mabuk, maka beliau pun tidak melakukan apa-apa terhadap Hamzah. Maka hal itu menunjukkan bahwa orang yang sedang mabuk tidak dihukum atas apa yang diucapkannya waktu ia mabuk.

c. Ustman bin Affan mengatakan, “Orang yang gila dan orang mabuk tidak mempunyai talak” atau talaknya tidak sah dan tidak berlaku.

d. Dalam hadits Nabi SAW. tentang Ma’iz bin Malik al-Aslami yang mengaku berzina kepada Nabi SAW. dan meminta untuk ditegakkan hukuman terhadapnya, maka di antara pertanyaan Rasulullah SAW. kepadanya adalah apakah ia telah meminum khamar, sehingga seorang sahabat mencium aroma dari mulutnya untuk memastikan apakah ia meminum khamar atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa jika ia sedang mabuk maka perkataannya atau dalam hal ini pengakuannya tidak dianggap. Begitu juga dengan talaknya jika itu dilakukan dalam keadaan mabuk.

e. Orang yang mabuk ini tidak sah ibadahnya seperti sholat sebagaimana firman Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَ‌بُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَ‌ىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan..(QS. al-Nisa` [4]: 43).

Maka orang yang batal ibadahnya karena hilang akalnya, tentu batalnya transaksi dan perbuatannya lebih utama.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka mayoritas ulama zaman ini memilih pendapat kedua yang mengatakan bahwa orang yang sedang mabuk dimana akal dan kesadaran sedang hilang, maka talak atau ucapan cerainya kepada istrinya tidak sah dan tidak berlaku.

Tetapi, disini perlu ditekankan bahwa meminum khamar (minuman yang memabukkan lainnya) adalah termasuk dosa besar yang sangat dibenci Allah SWT. sehingga sebagai seorang muslim kita harus menjauhkan diri dan keluarga kita dari barang haram tersebut.

Dalam hadits Nabi SAW. disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ ، أَنَّ رَجُلًا قَدِمَ مِنْ جَيْشَانَ وَجَيْشَانُ مِنْ الْيَمَنِ فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَرَابٍ يَشْرَبُونَهُ بِأَرْضِهِمْ مِنَ الذُّرَةِ يُقَالُ لَهُ الْمِزْرُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَوَ مُسْكِرٌ هُوَ ؟ ” ، قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ ، إِنَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ ” ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ ؟ ، قَالَ : ” عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ

Jabir ra. meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang dari Jaisyan (Jaisyan itu daerah di Yaman) lalu ia bertanya kepada Nabi SAW. tentang minuman di daerah asal mereka yang terbuat dari jagung yang dinamakan al-mirzu. Maka Nabi SAW. bertanya, “Apakah ia memabukkan?” Laki-laki itu menjawab, “Iya”. Maka Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap yang memabukkan itu haram, sesungguhnya pada Allah ‘Azza wa Jalla ada janji (ancaman) bagi orang yang meminum yang memabukkan (maka kelak di akherat) akan diminumkan kepadanya minuman dari thinatil khabal. Lalu para sahabat bertanya,Ya Rasulallah, apakah thinatul khabal itu? Beliau menjawab: “Keringat penghuni neraka atau nanah penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Wallahu a’lam bish shawab..