Mentauhidkan Allah dalam Kepemimpinan Jun20

Tags

Related Posts

Share This

Mentauhidkan Allah dalam Kepemimpinan

alhakamAQL Islamic Center - Tauhid Al-Hakimiyah adalah bagian dari tauhid Uluhiyah. Tauhid Al-Hakimiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kepemimpinan dan mentauhidkan Allah dalam hukum dan peraturan. Tauhid ini sudah banyak dilupakan, terutama ditengah gencarnya demokrasi yang sedang di dewa-dewakan.

Dalam islam, ada istilah amar ma’ruf nahi mungkar, yang mana ini bagian dari tauhid. Amar ma’ruf adalah memerintah, menyuruh, mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik. Sementara nahi mungkar adalah, melarang dan mencegah kemungkaran dengan tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Jadi orang yang bersikap amar ma’ruf nahi mungkar itu bersifat gentleman. Misalnya ketika dia akan berhadapan dengan pemimpin yang zhalim, ada aturan main yang diterapkannya, tidak amburadul dan main demo begitu saja. Sebab salah satu jihad besar adalah, berdiri dan berbicara lantang di hadapan pemimpin zhalim atau jahat, dengan mengajak kembali pada kebenaran dan mencegahnya dari kemungkaran serta kezhaliman yang dilakukannya.

Dalam memilih pemimpin ada kaidah-kaidah, ada ilmu yang harus di pegang, ada tauhidnya, sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan. Berikut ini akan dijelaskan tentang kaidah dan ilmu mentauhidkan Allah dalam hukum dan aturan. Kaidahnya seperti ini;

اِفرادالله تعالى وحده فى الحكم والتشريع

Mentauhidkan Allah ta’ala sebagai satu-satunya penegak hukum dan syari’at/aturan.

Segala sesuatu didunia ini adalah milik Allah. Sebagaimana firman Allah;

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “kepunyaan Allah-lah segala kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali-Imran: 189)

Ini adalah aturan Allah yang pertama di bumi ini. Yang kedua adalah;

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Artinya: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-A’raf: 54)

Siapa yang menciptakan, dialah yang berhak membuat aturan. Ini sudah ketentuan dan aturan main dari Allah yang tidak bisa berubah. Misalnya, sebuah buku yang ditulis oleh seseorang, dan buku itu sudah mendapatkan hak cipta, maka yang berhak mengubah isi buku itu hanyalah penulisnya dan orang lain tidak boleh ikut merubahnya. Apalagi dalam kehidupan di alam ini. Hanya Allah yang menentukan aturan. Contohnya, badan kita yang menciptakan adalah Allah, jadi yang paling berhak mengatur adalah Allah, yang paling tahu pakaian terbaik untuk menutup aurat adalah Allah, karenanya jangan jadikan orang barat sebagai pengatur kita dalam berbusana.

Sampai orang tua pun tidak berhak membuat aturan untuk anaknya yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Dalam Al-Qur’an, Allah sangat tegas menjelaskan;

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya” (QS. Lukman: 15)

Seandainya orang tua yang menyayangi kita menyuruh berbuat syirik, maka kita tidak berhak mentaatinya. Sebab ketundukan itu bukan pada aturan orang tua, melainkan kepada peraturan Allah.

Seperti bumi Indonesia misalnya, yang menciptakan adalah Allah, berarti aturan yang berhak untuk diterapkan adalah aturan yang menciptakannya. Bukan aturan Amerika. Kita tidak bisa sesuka hati dalam berbuat. Karena itu bisa mendatangkan murka Allah. Inilah yang namanya tauhid  Al-Hakimiyah. Jadi apapun yang berkaitan dengan kekuasaan dan perbuatan, baik yang berkaitan dengan public sampai kepada urusan rumah tangga, kita harus selalu mentauhidkan Allah SWT dalam hukum dan pertaturan.

Asma’ul Husna dari Allah yang Maha Menentukan hukum adalah; Al-hakamu Al-‘Adlu. Dalam hadits nabi yang shahih disebutkan;

اِن الله هو الحَكمُ و اِليه الحُكمُ

Artinya: “sesungguhnya Allah itu Al-Hakam, yang Maha menentukan hukum dan semua hukum harus berinduk pada hukum Allah SWT.

Kalau kita perhatikan Pancasila yang dibuat oleh pendiri bangsa ini, sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu bisa terwujud setelah melewati perjuangan melawan para plurasme. Namun sekarang ada lagi yang mau menggantinya. Tidak lagi ketuhanan Yang Maha Esa.

Ada perbedaan mendasar Antara bertuhan dan berketuhanan. Orang yang sekedar bertuhan, sama seperti Iblis yang tidak mau taat pada aturan Allah. Bertuhan sama Allah tapi tidak mau bertuhan dengan aturan Allah. Sementara berketuhanan adalah, bertuhan sama Allah dan bertuhan dengan aturan Allah. Begitu pun dengan kalimat; Yang Maha Esa. Ini adalah tauhidullah, yang tafsirannya adalah;

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Tapi sekarang ini sudah mulai digeser-geser. Artinya ketuhanan saja, tidak mau Yang Maha Esa. Jadi di Negara kita ini sekarang, semua agama boleh, asal Tuhannya satu, mau batu, pohon, uang, penguasa atau apa saja yang penting bertuhan satu. Padahal kata-kata berketuhanan adalah Allah itu Maha Esa. Indonesia adalah sebuah bangsa yang sejak awal masyarakat dan bangsanya itu adalah berketuhanan yang tunduk kepada wahyu. Bukan bangsa Iblis yang tidak mau tunduk kepada wahyu.

Karenanya ketika kita berikrar;

لا اِله اِلاالله وحده لاشريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Maksudnya tidak ada yang disembah selain Allah, maknanya sesuai dengan tema ini adalah, tidak ada hukum selain hukum dan aturan yang lebih patut untuk di taati selain aturan Allah. Tidak ada yang boleh ikut campur bersama Allah dalam aturan dan hukum. Sebagaimana tidak ada yang ikut campur dengan Allah dalam menciptakan alam jagad raya ini.

Indonesia ini tidak akan bisa sampi pada puncak kejayaan kalau tidak mentauhidkan Allah.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf: 40)

Para sahabat nabi itu, obsesinya selalu ingin hidupnya pada agama yang lurus, bukan jadi polisi, dokter, insinyur, arsitektur. Dia ingin Bergama yang lurus, hidupnya untuk menegakkan agama Allah dan mati dalam keadaan menegakkan agama Allah. Begitulah orang yang berjiwa besar. Dan begitulah seharusnya kita menjalani hidup.

Sebagai penutup. Kita renungkan kembali surah Al-Maidah: 55 berikut ini;

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya penolong/pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (QS. Al-Maidah: 55)

Inilah pemimpin kita yang sesungguhnya. Allah dan Rasul-Nya serta orang beriman yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan shalat bersama orang-orang yang shalat.