demokrasi Jul13

Tags

Related Posts

Share This

demokrasi

AQL Islamic Center – Bangsa Indonesia baru saja melaksanakan tahapan lain dari pesta demokrasi, yaitu gelaran pemilihan presiden secarademo langsung untuk priode lima tahun ke depan. Hasilnya, untuk sementara, seperti yang kita ketahui, masing-masing dari kedua kubu yang terlibat telah mengklaim kemenangan berdasarkan perhitungan cepat yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga survey. Itulah sebuah drama lain di panggung demokrasi.

Saudara2 seiman yang dimuliakan Allah!

Dalam system demokrasi penentu kemenangan pihak-pihak yang terlibat dalam persaingan adalah suara mayoritas. Karena di antara prinsip demokrasi itu adalah kekuasaan di tangan mayoritas. Saudara2! Inilah di antara sumber permasalahannya. Yaitu ketika kelompok mayoritas tersebut didominasi oleh pemilih yang tidak memahami betul siapa pigur yang pantas mereka pilih, maka yang terjadi tentunya pilihan mereka pun sesuai dengan kualitas mereka. Tak heran apabila pemilih yang perpendidikan tinggi kalah suara dari kelompok pemilih yang perpendidikan rendah; ketika kelompok pemilih yang cerdas harus menerima kenyataan karena kalah suara dari kelompok pemilih yang gampang sekali dipengaruhi oleh pencitraan; bahkan bisa jadi ketika golongan penegak kebenaran harus menelan pil pahit karena dikalahkan oleh golongan penebar kebatilan. Ini tentu saja sebuah ironi, yakni ironi yang diciptakan oleh demokrasi.

Dalam demokrasi suara mayoritas diidentikan sebagai suara rakyat. Karena itu mereka yang terpilih biasanya mengatakan kami dipilih oleh rakyat, padahal tidak semua rakyat. Dalam demokrasi suara mayoritas dicitrakan seakan-akan suara kebenaran. Karena itu, pemujanya biasanya mengatakan suara rakyat adalah suara tuhan. Padahal kata-kata ini sesat dan menyesatkan dan saya yakin kata-kata ini tidak akan keluar dari mulut orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Karena merupakan pernyataan tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. Bighairi ilmiw wala hudaw wala kitabim munir.

Saudara-saudara jamaah jum’at yang dimuliakan Allah! Ini yang hendak khatib soroti pada kesempatan khutbah kali ini.

Menanggapi hal di atas, mari kita tadabburi, kita renungi secara mendalam ayat berikut ini! Yaitu surat al-An’am ayat 116 yang berbunyi:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini dengan beberapa ayat lainnya, antara lain ash-Shaffat: 71

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الأوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka mayoritas orang-orang terdahulu.”

Dan Yusuf: 103

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman –walaupun kamu sangat menginginkannya-.”

 

Ayat di atas dan juga ayat-ayat menafsirkannya, selain merupakan keterangan bahwa mayoritas tidak selamanya berada dalam kebenaran, juga menerangkan, bahwa pernyataan suara rakyat adalah suara tuhan hanyalah prasangka belaka, yang sumbernya adalah hawa nafsu, tidak ada baginya keterangan nyata. Laisa lahum min sulthanim mubin.

Kalau sudah demikian akibatnya bagi orang yang berpikiran seperti di atas adalah

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (Al-Qashash: 50)

 

Ikhawatil Kiram!

Kebenaran tidak boleh tunduk kepada hawa nafsu, tetapi hawa nafsulah yang harus mengikuti kebenaran. Dan, berhati-hatilah kalau kebenaran dipaksakan untuk tunduk mengikuti hawa nafsu, maka tunggu saja kehancuran!

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ     المؤمنون: 71

“Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi, serta semua yang ada di dalamnya.”

 

Saudara2 kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Demokrasi bukanlah segalanya dalam memilih pemimpin. Demokrasi hanya salah satu sarana dalam menentukan siapa yang bakal berkuasa. Demokrasi, terutama demokrasi liberal, mungkin ideal bagi suatu bangsa, tetapi belum tentu untuk bangsa yang lain. Sebab, demokrasi jenis ini baru dikatakan ideal di kalangan umat Islam khususnya, seandainya mayoritas pemilihnya adalah mereka-mereka yang cerdas dalam menentukan pilihannya. Yaitu mereka yang tidak mudah dibuai dengan janji-janji, mereka yang tidak digampang dikelabui melalui pencitraan, mereka yang tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi mereka adalah golongan yang benar-benar mengerti siapa pigur yang memang layak menjadi pemimpinnya?

 

Ikhwatil Iman!

Kembali kepada masalah pemilihan presiden yang baru saja kita lalui, kita tentu yakin siapa pun yang terpilih berarti dialah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala untuk memimpin kita. Sebab, jabatan dan kekuasaan adalah pemberian Allah kepada orang yang Dia kehendaki, firman-Nya:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (آل عمران:26)

“Katakanlah, wahai Tuhan Yang Mempunyai kekuasaan, Engkau beri kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.”

Akan tetapi tidak semua yang Tuhan kehendaki, berarti Dia ridhai. Para tirani yang berkuasa adalah contoh yang Dia kehendaki, tetapi tidak Dia ridhai.

Harapan kita sebagai muslim hanyalah semoga yang Dia kehendaki untuk kita adalah yang Dia ridhai pula! Amin!

(khutbah jum’at, ust. Syarifuddin. Lc di AQL)

Abu Mujahid