Sholat Tahajjud Setelah Sholat Tarawih dan Witir di Malam Ramadhan Jul17

Tags

Related Posts

Share This

Sholat Tahajjud Setelah Sholat Tarawih dan Witir di Malam Ramadhan

التهجدPertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, bagi kita yang sudah melaksanakan sholat witir setelah sholat tarawih berjamaah bersama imam, Apakah dibolehkan jika kita bisa bangun di malam hari untuk melakukan sholat tahajud? Dan jika diperbolehkan apakah harus kita tutup dengan witir lagi atau cukup dengan witir pada waktu sholat tarawih saja ustadz? Mohon penjelasannya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr wb,

Rasulullah SAW. menganjurkan kepada kita umat Islam untuk menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan ini dengan segala macam bentuk amal ibadah, khususnya sholat malam (tarawih, witir dan tahajjud), membaca al-Qur`an dan berzikir karena di bulan suci ini dilipatgandakan pahala bagi segala macam amal ibadah. Dalam hadits beliau ditegaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ ، إِيمَانًا ، وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Qiyamullail di bulan Ramadhan ini bisa dalam bentuk sholat tarawih, yang dalam istilah ulama adalah sholat sunnah yang dilakukan setelah sholat Isya pada awal malam dan biasanya dilakukan dengan ringan dan tidak memperpanjang bacaan, dan dinamakan dengan tarawih karena orang yang melakukannya banyak beristirahat yang biasa dilakukan setelah 4 rakaat.

Juga bisa dengan sholat tahajjud yang dalam arti bahasanya adalah sholat setelah tidur terlebih dahulu, tetapi para ulama kemudian menjelaskan bahwa waktu sholat malam itu adalah mulai setelah Isya hingga waktu terbit fajar, jadi boleh dilakukan pada awal malam, pertengahan malam atau pada akhir malam, meskipun mereka menegaskan bahwa waktu terbaik sholat malam adalah sepertiga akhir malam sesuai dengan hadits Nabi SAW.

Pada dasarnya sholat tarawih dan tahajjud itu adalah satu yaitu sholat malam (Qiyamullail), dan munculnya perbedaan penyebutan itu hanya terjadi pada saat bulan Ramadhan, dimana sholat malam setelah Isya disebut tarawih dan sholat malam setelah tidur disebut tahajjud. Sedangkan pada malam-malam selain Ramadhan semuanya disebut sholat malam atau tahajjud.

Adapun tentang waktu sholat witir, para ulama menjelaskan bahwa bagi orang yang menduga bahwa dia tidak akan bangun pada waktu akhir malam maka yang terbaik baginya adalah sholat witir sebelum tidur, sedangkan bagi yang yakin akan bangun pada waktu akhir malam maka waktu sholat witir yang terbaik baginya adalah pada waktu akhir malam itu.

عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ ، فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ ، فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam itu masyhudah (disaksikan) dan itu lebih baik.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW. juga menganjurkan agar sholat witir menjadi sholat terakhir kita pada malam hari sebagaimana yang dijelaskan dalam hadistnya:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang sholat malam, maka Rasulullah SAW. menjawab: “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Ibnu Umar meriwayatkan dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda: “Jadikanlah sholat witir sebagai akhir sholatmu pada waktu malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi perintah di atas hanyalah sebagai anjuran bukan kewajiban karena dalam riwayat lain beliau melakukan sholat sunat dua rakaat setelah melaksanakan witir.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ ، عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ : ” كَانَ يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ يُوتِرُ ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Abu Salamah meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Aisyah tentang sholat Rasulullah SAW., maka ia menjawab, “Rasulullah SAW. sholat sebanyak tiga belas rakaat, dimana beliau sholat delapan rakaat kemudian beliau sholat witir. Lalu beliau sholat dua rakaat dengan cara duduk Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri lalu beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim).

Jadi bagi yang mau melaksanakan sholat tahajjud di malam hari setelah sholat tarawih dan witir bersama imam, hal itu dibolehkan dan hendaknya dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi SAW. di atas tentang cara sholat malam termasuk tarawih. Tetapi setelah tahajjud ia tidak lagi melakukan sholat witir karena tidak ada dua witir dalam satu malam, sesuai dengan hadits Nabi SAW.

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

Dari Qais bin Thalq bin Ali dari Ayahnya, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad, tirmizi, Abu Daud, al-Nasa`i dan Ibnu Khuzaimah).

Tapi dibolehkan juga bagi yang yakin akan bangun pada malam hari untuk mengakhirkan witirnya pada waktu sholat tahajjud di akhir malam. Boleh dengan tidak mengikuti sholat witir bersama imam, tapi para ulama menjelaskan bahwa sebaiknya dia tetap ikut bersama imam sampai selesai tapi ia menambahkan satu rakaat lagi. Jadi ketika imam melakukan salam untuk rakaat terakhir witir, ia tidak ikut salam tapi hendaknya berdiri lagi dan menambah satu rakaat hingga tidak menjadi witir. Kemudian melaksanakan witir setelah melaksanakan tahajjud pada akhir malam.

Hal itu dilakukan agar ia tidak dianggap berpisah dari imam dan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan qiyamullail sepanjang malam karena ketika diminta untuk sholat sunat bersama para sahabat di sisa malam Ramadhan, Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Seorang laki-laki yang sholat bersama imam sampai selesai maka ia pahalanya dihitung seperti orang yang melakukan qiyamullail sepanjang malam.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Tirmizi dan al-Nasa`i).

Wallahu a’lam bish shawab..