Sistem Pembagian Zakat Dalam Islam Jul23

Tags

Related Posts

Share This

Sistem Pembagian Zakat Dalam Islam

الزكاةPertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, pada bulan Ramadhan ini biasanya umat Islam beramai-ramai menunaikan zakat hartanya karena disamping melaksanakan kewajiban zakatnya, umat Islam juga mengharapkan keberkahan bulan Ramadhan dimana segala amal kebaikan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya. Namun ada fenomena yang selalu berulang yang sangat memiriskan hati kita setiap muslim yang mempunyai sedikit empati kepada sesama saudara seiman dan sebangsa ini, yaitu fenomena kericuhan dan saling rebut dalam pembagian harta zakat yang biasanya dibagikan oleh orang-orang kaya negeri ini. Bahkan demi uang zakat yang mungkin hanya sebesar 15 ribu, 20 ribu, 50 ribu atau mungkin sampai 100 ribu saudara-saudara kita rela mengikuti antrian yang sangat panjang, yang kemudian ketika pembagian dilakukan mereka menjadi tidak peduli lagi nasib saudara di belakang, di depan maupun di sampingnya. Hal itu tidak jarang menyebabkan korban jiwa ustadz. Tentunya Islam tidak menginginkan hal itu terjadi ustdaz. Sebenarnya bagaimana sistem pembagian zakat itu dalam Islam ustadz? Mohon penjelasanya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Allah SWT. dan Rasul-Nya menegaskan bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam yang dengannya dibangun keislaman seorang muslim. Zakat adalah salah satu kewajiban dalam Islam yang harus dilaksanakan bagi mereka yang sudah memenuhi ketentuan wajib zakatnya. Di mana barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka berarti ia telah kafir, dan barangsiapa yang enggan atau tidak mau menunaikannya berarti ia telah fasiq dalam beragama dan Allah SWT. telah menjanjikan azab yang pedih baginya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرً‌ا مِّنَ الْأَحْبَارِ‌ وَالرُّ‌هْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ فَبَشِّرْ‌هُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣٤﴾ يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ‌ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُ‌هُمْ ۖ هَـٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. Al-Taubah [9]: 34-35).

Rasulullah SAW. juga menjelaskan tentang siksaan bagi orang-orang yang enggan menunaikan zakat hartanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ ، مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي شِدْقَيْهِ ، ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ، ثُمَّ تَلَا : وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ سورة آل عمران آية 180

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka harta itu akan dijelmakan baginya pada hari kiamat berupa seekor ular botak yang memiliki dua taring. Ular itu akan melilit tubuhnya pada hari itu kemudian ia akan mengigit orang itu dengan kedua sisi mulutnya seraya berkata, “Aku adalah hartamu, aku adalah harta yang kamu simpan”, kemudian Rasulullah membacakan ayat 180 dari surat Ali ‘Imran yang artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. (HR. Bukhari).

Dan sebagai hukuman duniawi bagi orang Islam yang enggan untuk menunaikan zakatnya Rasulullah SAW. menjelaskan:

عن بَهْزِ بْنَ حَكِيمٍ ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : فِي كُلِّ إِبِلٍ سَائِمَةٍ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ ابْنَةُ لَبُونٍ ، لا تُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا ، مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا فَلَهُ أَجْرُهَا ، وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ إِبِلِهِ عَزْمَةٌ مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا ، لا يَحِلُّ لآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ

Bahz bin Hakim meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Pada setiap 40 ekor unta yang dilepas mencari makan sendiri, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya memasuki tahun ketiga. Tidak boleh dipisahkan anak unta itu untuk mengurangi perhitungan zakat. Barangsiapa memberinya karena mengharap pahala, ia akan mendapat pahala. Barangsiapa menolak untuk mengeluarkannya, kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Dan tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu pun dari zakat itu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Dan jika umat Islam yang enggan menunaikan zakat itu berkolompok dan menentang pemerintah yang memungut zakat itu dari mereka maka mereka boleh diperangi sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar terhadap umat yang mengaku Islam tapi enggan menunaikan zakatnya kepada Abu Bakar setelah Nabi SAW. meninggal.

Pada dasarnya zakat itu tidak hanya sebagai rukun Islam yang wajib ditunaikan saja, tetapi zakat juga merupakan sistem ekonomi dan sistem sosial dalam Islam untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan yang terlalu lebar antara yang miskin dan kaya dalam suatu negara muslim sehingga tidak terjadi di mana orang kayanya hidup berfoya-foya dengan segala kemewahannya yang terkadang kesusahan untuk menghamburkan kekayaannya dan terpaksa menimbunnya, sedangkan tetangga disebelahnya bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari dari makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak harus mengais dari tempat sampah dan menghinakan dirinya dengan meminta-minta.

Oleh karena itu, zakat bukan merupakan bentuk belas kasihan atau pemberian secara sukarela orang kaya kepada mereka yang miskin, dan juga bukan bentuk penghinaan diri orang fakir miskin. Karena pada dasarnya zakat itu dipungut dan didistribusikan oleh pihak pemerintah atau penguasa dalam sistem pemerintahan dalam Islam sehingga pemerintah disini menjadi wakil bagi fakir dan miskin untuk mengumpulkan zakat dari yang kaya. Allah SWT. berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُ‌هُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 103).

Dalam ayat ini Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi SAW. selaku pemimpin dan penguasa untuk memungut zakat dari mereka yang telah wajib menunaikannya. Dan itulah yang dilakukan oleh Nabi SAW. dan para khalifah setelahnya, di mana mereka mengirim para petugas ke seluruh pelosok wilayah Islam untuk mengumpulkan zakat sesuai dengan aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Nabi SAW. yang tidak menzalimi para wajib zakat dan tidak mengurangi hak fakir miskin. Kemudian, para petugas itu mendistribusikan hasil zakat yang dikumpulkan itu kepada fakir miskin dan mereka yang termasuk ke dalam asnaf yang berhak menerima zakat di daerah atau wilayah zakat itu dikumpulkan. Baru jika ada kelebihannya akan dibawa ke pemerintahan pusat untuk didistribusikan lagi secara merata.

Dan dalam haditsnya Rasulullah SAW. menegaskan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ : إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ ، فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda kepada Mu’az bin Jabal ketika mengutusnya ke negeri Yaman, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika engkau datang kepada mereka, serulah mereka kepada persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasulullah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Dan jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT. telah mewajibkan kepada mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka kemudian dikembalikan kepada orang-orang fakir diantara mereka. Dan jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka. Jagalah dirimu dari doa pihak yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa ada beberapa sebab kenapa Islam menjadikan sistem pengumpulan dan pendistribusian zakatnya ini ada ditangan penguasa atau pemerintah, di antaranya adalah:

-   Tidak semua orang Islam itu taat dan mempunyai hati yang berempati untuk menunaikan zakat sehingga kalau hal itu diserahkan kepada individu maka tidak akan terjamin hak fakir miskin.

-   orang miskin yang mengambil haknya melalui pemerintah itu dan bukan lansung dari si kaya, akan dapat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada yang berharta.

-   Membiarkan sistem distribusi zakat itu kepada tiap individu akan menyebabkan pendistribusian zakat itu menjadi kacau dan tidak tepat sasaran.

-   Orang yang berhak menerima zaka itu tidak hanya fakir dan miskin, tetapi ada pihak dan golongan lain yang juga berhak menerimanya. Dan diantaranya adalah untuk kepentingan umat Islam secara umum yang tidak bisa dilihat atau diperhatikan oleh individu-individu tapi harus dilakukan oleh pemimpin umat seperti untuk golongan muallaf qulubuhum (yang ingin dilunakkan hatinya) dan untuk fi sabilillah.

Di negara kita sistem pengumpulan dan pendistribusian zakat ini tidak dilakukan oleh negara dan bukan merupakan keharusan. Tetapi dengan adanya lembaga-lembaga zakat yang bergerak di bidang itu, maka bagi umat Islam yang telah berkewajiban menunaikan zakat hartanya maka hendaknya menyalurkan zakatnya melalui lembaga-lembaga zakat tersebut yang menurutnya dapat dipercaya. Karena dengan menyalurkannya melalui lembaga-lembaga itu kita dapat berharap pendistribusian zakat umat Islam di negara kita ini dapat lebih merata dan mencakup semua asnaf yang berhak menerima zakat tersebut. Dan kalau bisa dan kita berharap agar lembaga-lembaga zakat yang ada di negara kita ini menyatukan potensi mereka sehingga dapat mencakup semua lapisan umat di seluruh pelosok wilayah negeri ini.

Dan jika kita mau mendistribusikan zakat itu sendiri pun, maka hendaknya kita menjauhi cara-cara yang dapat menyakitkan dan menghinakan saudara-saudara kita sesama muslim. Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِ‌ئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَ‌ابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَ‌كَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُ‌ونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِ‌ينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

Maka bagi yang mau membagikan zakatnya sendiri, mungkin bisa mendata mereka yang berhak menerima zakat di daerahnya, kemudian meminta sebagian di antara mereka atau mengupah orang untuk mengantarkan dan mendistribusikan zakat hartanya itu kepada mereka yang berhak menerimanya. Hal itu di samping kita menjaga harga diri dan kehormatan mereka, kita juga mendidik rakyat bangsa kita ini untuk tidak menjadi peminta-minta. Dan berita tentang pembagian zakat yang ricuh dan memakan korban nyawa tidak kita dengar lagi.

Wallahu a’lam bish shawab..