Tags

Related Posts

Share This

Ibrahim Astal kehilangan 10 anggota keluarganya

Ibrahim AstalAQL Islamic Center | Aljazeera.net: Ibrahim al-Astal (48 tahun), sudah berlutut di depan mayat ketiga anaknya. Sementara di sebelahnya lagi, tujuh anak-anak dari saudara dan sepupunya, semuanya tewas dalam serangan Israel di Diwan (ruang tamu) saat mereka tidur di sana. Peritia itu terjadi setelah mereka meninggalkan kediamannya menuju ke rumah kerabat perempuan mereka.

Sejumlah sasad korban agresi militer Israel yang berada di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, kebanyakan dalam kondisi yang menyedihkan dan mengejutkan bagi orang yang melihatnya. Namun mereka lebih tabah dengan menahan air matanya.

Dan ini adalah bentuk pesan kepada masyarakan Internasional atas apa yang terjadi di Jalur Gaza akibat serangan pasukan Israel. Menurut Ibrahim Astal, orang tua mereka tampak lebih koheren dan mengunci air mata mereka, dalam pesan pembangkangan dan kemarahan terhadap pendudukan Israel, sementara dunia internasional hanya diam.

Dalam wawancaranya dengan Aljazeera.net, Astal bertanya-tanya, “Mengapa dunia diam pada pembantaian ini, yang ada di sini dan di wilayah lainnya di Jalur Gaza? Apakah pasukan Israel tidak membayangkan bahwa yang mereka bunuh adalah orang-orang yang tidak berdosa?”

Dia melanjutkan, “Kami telah ditakdirkan untuk hidup di tanah ini, dan Kami akan bersabar atas apa yang menimpa kami. Dan kami akan ditakdirkan untuk mengalahkan para pembunuh tersebut, baik dunia internasional mendukung kami, atau kami berjuang sendirian.

Oleh: Khoirul Masmu | Sumber: Aljazeera.net