Sok tidak Islami Aug27

Tags

Related Posts

Share This

Sok tidak Islami

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, sekarang ini ada fenomena aneh di kalangan sebagian umat Islam dan tokoh-tokoh Islam di negara kita tercinta ini. Ada sebagian mereka yang takut dianggap sebagai tokoh yang kuat dan teguh berpegang pada prinsip dan nilai-nilai Islam. Mereka tidak mau dianggap sebagai tokoh yang terlihat terlalu “islami” sehingga mereka tidak mau menggunakan istilah dan ungkapan-ungkapan yang menurut sebagian orang terlalu islami. Bahkan ada juga yang dari segi penampilannya tidak mau memakai atribut-atribut yang akan membuat orang lain menganggap mereka sebagai “tokoh yang alim”. Bagaimana kita menyikapi fenomena itu ustadz? Mohon pencerahannya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumalam wr. wb,

Mungkin di sini lah kita lihat salah satu keberhasilan musuh-musuh Islam dalam menjauhkan umat Islam dari agamanya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang tokoh zionis Samuel Zwimmer bahwa tujuan misi yang diperjuangkan bangsa Yahudi bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tujuannya adalah mengeluarkan umat Islam dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir lagi mempertahankan agamanya. Tidak lagi bangga dengan nikmat keimanan dan keislamannya. Allah SWT. berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُ‌ونَ كَمَا كَفَرُ‌وا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُ‌وا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. (QS. Al-Nisa` [4]: 89).

Mereka propagandakan umat Islam yang berpegang teguh kepada ajaran dan prinsip agamanya sebagai kaum fundamentalis, radikalis, ekstrimis dan label-label negatif lain sehingga umat Islam merasa takut untuk taat dan istiqamah dalam melaksanakan ajaran dan perintah agama mereka.

Propaganda label-label negatif dan memojokkan umat Islam itu, yang sayangnya juga diikuti dan dilakukan oleh sebagian media massa kita, membuat sebagian umat Islam kehilangan kepercayaan diri dan identitasnya sebagai umat terbaik yang Allah SWT. ciptakan bagi umat manusia dengan syarat melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar dan keimanan kepada Allah SWT. Sebagian umat Islam tidak lagi bangga dengan keislamannya, tidak lagi mau dianggap sebagai orang alim yang taat beragama karena takut nanti dianggap sebagai orang fundamentalis atau radikal.

Musuh-musuh Islam juga selalu menginginkan dan berusaha agar umat Islam berlaku lunak dan lemah lembut terhadap mereka dengan mengorbankan ajaran dan prinsip-prinsip Islam. Allah SWT. menegaskan:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. Al-Qalam [68]: 9).

Adapun makna mudahanah dalam ayat di atas sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir antara lain: Ibnu Abbas dan al-Dhahhak mengatakan bahwa maksudnya jika kamu kafir maka mereka akan semakin bertambah kafir. Ibnu Abbas dalam pendapat lainnya menjelaskan bahwa maksudnya adalah Jika kamu melonggarkan prinsip agamamu maka mereka (kaum kafir) juga akan melonggarkan prinsip agama mereka.

al-Fara` dan al-Kalbi mengatakan bahwa maksudnya adalah jika kamu bersikap lunak maka mereka juga akan bersikap lunak kepada kalian. Hasan al-basri menjelaskan bahwa maksudnya adalah jika kamu berpura-pura dalam agamamu terhadap mereka maka mereka juga akan berpura-pura kepada kalian dalam agama mereka. al-Rabi’ bin Anas mengatakan bahwa maksudnya adalah jika kamu berbohong maka mereka juga akan berbohong. Dan Mujahid menjelaskan bahwa masudnya adalah jika kamu bersandar kepada mereka dan meninggalkan kebenaran agamamu maka mereka akan mendukungmu.

Mereka melakukan segala macam cara untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam. Dan tentunya lebih berbahaya lagi jika yang terkena penyakit kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap Islam (al-izzah bi al-Islam) serta sikap mudahanah itu adalah yang dianggap pemimpin atau tokoh umat di tengah masyarakat karena pengaruh besar mereka terhadap masyarakat umum yang menganggap mereka sebagai pemimpin dan menokohkan mereka. Sebagai pemimpin dan tokoh Islam di tengah masyarakat, seharusnya merekalah yang membangkitkan kesadaran dan kebanggaan umat terhadap Islam, bukannya malah terbawa propaganda dan permainan musuh-musuh Islam yang memang selalu berusaha menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya.

Sebagai muslim kita tidak meragukan bahwa Islam adalah agama yang sangat toleran dan cinta akan kedamaian dan keselamatan umat manusia, dan itu harus kita amalkan dalam kehidupan kita sehingga tidak menjadi sekedar slogan. Sebagaimana telah dipraktekan dan diamalkan selama sejarah panjang umat Islam dari kehidupan Nabi SAW, para sahabat Nabi dan generasi-generasi umat Islam berikutnya.

Tetapi itu tidak berarti mengorbankan ajaran dan aturan Islam demi diterima oleh kalangan non muslim, atau demi dianggap sebagai seorang muslim moderat dan inklusif. Seharusnya yang menjadi standar dan tujuan utama kita sebagai muslim adalah keridhoan Allah SWT. bukan penilaian dan penerimaan manusia.

Kita harus bangga dan percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Perlihatkan kepada semua orang dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam”. Kita tidak boleh ragu mengatakan bahwa kita muslim dan Islam adalah agama yang lurus dan benar. Jangan hiraukan mereka yang mendiskreditkan Islam dan umat Islam meskipun dari kalangan umat Islam sendiri. Allah SWT. berrfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushshilat [41]: 33).

Kebanggaan akan Islam itulah yang telah dirasakan dan ditunjukkan oleh generasi awal Islam dari zaman sahabat dan tabi’in karena mereka telah merasakan manisnya nikmat iman dalam hati mereka. Ketika menerima kunci Baitul Maqdis, Umar bin Khattab mengungkapkan perkataanya yang terkenal:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَـزَّناَ اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ، فَمَهْمَا اِبْتَغَيْناَ الْعِزَّةَ فِيْ غَيْرِهِ أَذَلَّناَ اللهُ

“Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah SWT. dengan Islam. Maka, jika kita mencari kemuliaan itu pada selain Islam, niscaya Allah SWT. akan menghinakan kita.”

Wallahu a’lam bish shawab..