Tags

Related Posts

Share This

Fatimah Al-Fihri

pic 1AQL Islamic Center – Tak pernah kita sangka, bahwa pendiri Universitas pertama di dunia merupakan seorang muslimah. Dialah Fatima Al-Fihri, seorang muslimah asal Maroko yang mencetuskan pendirian Universitas yang ditujukan untuk pentransferan ilmu pengetahuan kepada semua orang. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Fatima Al-Fihri (800- 880 M) mendapat julukan Oum Al-Banine (artinya “Ibu dari Anak-Anak”) merupakan putri dari Muhammad Al-Fihri, yang bermigrasi ke Fes, Maroko dari Qairawan (terletak di wilayah Tunisia). Fatima Al-Fihri pindah bersama  dengan keluarganya pada awal abad ke sembilan, di masa Pemerintahan Idrees II, seorang penguasa saleh dan taat yang pernah berdoa sembari menangis. ”Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.” Do’a tersebut direalisasikan oleh Fatima Al-Fihri.

Kota Fès saat itu merupakan sebuah kota metropolis yang ramai “Muslim Barat”, (dikenal sebagai al-Maghrib), dan menjadi salah satu kota Muslim paling berpengaruh. Fès menunjukkan kombinasi kekayaaan dan kemakmuran antara agama dan kebudayaan tradisional dan kosmopolitan, keluarga besar Fatima kemudian tinggal di kota tersebut hingga akhirnya Fatima menikah.

Bagi Mohammad bin Abdullah Al-Fihri,, Fes adalah daerah yang sangat baik untuk melanjutkan bisnis keluarga. Setelah menjalani perjuangan dan kerja keras di awal kepindahannya, keluarga Fatima akhirnya diberkati dengan kemakmuran. Ayahnya, kemudian menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses.

Namun, setelah kematian suami Fatima dan Ayahnya dalam waktu yang berdekatan, Tinggallah Fatima dan Mariam (Umm Al-Qasim) satu-satunya saudara perempuan Fatima. Keduanya merupakan wanita saleh dengan kepribadian yang menunjukkan rasa  cinta yang besar terhadap agama Islam, Ilmu Pengetahuan dan  bidang arsitektur. Keduanya  menerima harta warisan cukup besar, akan tetapi para saudari ini bertekad untuk mendedikasikan semua kekayaan mereka untuk memakmurkan masyarakat sekitar.

Melihat  bahwa masjid lokal di Fès tidak bisa mengakomodasi peningkatan populasi masyarakat muslim, (kebanyakan merupakan pengungsi muslim dari Spanyol), Mariam membangun Masjid Andalusia yang menakjubkan di  tahun 245 Hijriah /859 Masehi. Sementara Fatima merencanakan pembangunan masjid lain yang disebut Al-Qarawiyyin yang dikatakan sebagai yang terbesar di Afrika Utara.

Di tengah-tengah pembangunan masjid dan Universitas dari Al-Qarawiyyin, disebutkan bahwa Fatima sengaja berpuasa setiap hari dalam usahanya menjadi lebih dekat kepada Allah SWT selama sekitar dua tahun pembangunan gedung universitas tersebut. Dengan proyek tersebut secara tidak langsung Fatima mempionirkan dunia akademik berjenjang pertama di dunia. Jami’ah Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan, kawah candra dimuka bagi para ilmuwan.  

Sejarah mencatat bahwa Fatima mengawasi secara langsung proses konstruksi dengan sangat rinci, Hal tersebut tentunya menjadi bukti dedikasinya yang sangat besar, meskipun ia tak memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.

Cikal Bakal Universitas Al-Qarawiyyin

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid tersebut, sebagian besar masyarakatnya merupakan pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia, kota Fez. Diskusi tersebut digelar di emperan Masjid Al-Qarawiyyin. Layaknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka, namun juga menggunakan masjid tersebut sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik, yang lambat-laun berkembang menjadi pembahasan di berbagai bidang, tak hanya kajian Alquran dan Fikih saja, termasuk di dalamnya tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu mencuri perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu banyak. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seperti persyaratan bahwa seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Di antara beberapa risalah penting koleksi perpustakaan ini yang cukup terkenal adalah; ‘Mutta of Malik’, ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas ini di tahun 1602 M. Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul ‘Al-‘Ibar’, yang dihadiahkannya kepada perpustakaan ini di  tahun 1396 M.

Untitled

Sumbangsih Universitas Al Qarrawin terhadap Lahirnya para Cendikiawan Dunia.

Universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi (wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi – yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki. Ada juga Geografer dan kartografer (pembuat peta)  Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-‘Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Di lain pihak Peradaban Barat pun tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez. Juga lahirnya sejumlah para ilmuwan dunia antara lain filsuf dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M- 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M – 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas tersebut. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Warisan Fatima Al-Fihri

Hingga saat ini, Fatima Al-Fihri sangat dihormati dan menjadi teladan bagi para wanita Maroko karena kebijakan, kepedulian dan kebaikan hatinya. Pengorbanan personalnya lah yang menjadikan dirinya sebagai inspirasi bagi setiap wanita.

Al Qur’an dan Hadits (As-Sunnah) mengilhami setiap pria dan wanita untuk menuntut ilmu. Sejarah mengenai Fatima Al-Fihri telah memberi penjelasan tentang peran dan kontribusi perempuan Muslim terhadap peradaban Islam. Peran penting ini diharapkan mampu menepis stigma buruk para cendikiawan Barat terhadap peran wanita muslim. Fatima telah menunjukkan kepada kita bahwa berabad abad dahulu, telah hadir seorang wanita muslim taat yang memilki kecerdasan tak kalah hebatnya dengan wanita modern saat ini.

Daftar Pustaka:

1.      http://en.wikipedia.org/wiki/Fatima_al-Fihri#cite_note-0

2.      http://theurbanmuslimwomen.wordpress.com/2008/08/04/fatima-al-fihri-founder-of-the-oldest-university-in-the-world/

3.      http://daralnicosia.wordpress.com/2011/06/19/fatima-al-fihri-founder-of-the-qarawiyyin/

4.      http://barkidzki.multiply.com/journal/item/125/Universitas?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem.


[ Aql Islamic Center/ Penulis : Asqarina Hasby ]