Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat Sep01

Tags

Related Posts

Share This

Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, bagaimana akhlak para sahabat Nabi SAW. dalam menyikapi perbedaan pendapat diantara mereka, mengingat banyaknya firqah/kelompok Islam yang terkadang saling menghujat satu sama lain? Mohon penjelasannya ustadz.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Perbedaan pendapat dalam masalah dan perkara ijtihadiyyah (yang berdasarkan ijtihad para ulama) adalah hal yang wajar dan sangat lumrah terjadi dalam umat Islam. Bahkan kita mungkin dapat mengatakan bahwa perbedaan pendapat dan pemahaman terhadap suatu masalah dalam agama adalah suatu keharusan. Karena itu adalah konsekwensi dari kita yang tidak ma’shum (terjaga dari segala kesalahan), dan tidak ada yang ma’shum kecuali Rasulullah SAW., maka ketika beliau sudah tiada berarti sudah tidak ada lagi yang ma’shum dan semua orang bisa dan mungkin melakukan kesalahan. Allah SWT. berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَ‌بُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. (QS. Hud [11]: 118).

Bahkan perbedaan itu sudah terjadi di kalangan para sahabat semenjak Nabi SAW. masih hidup, seperti perbedaan para sahabat dalam menyikapi perintah Nabi SAW. pada waktu perang Ahzab untuk tidak sholat Ashar kecuali di Bani Quraizhah, di mana sebagian mereka masih di perjalanan ketika masuk waktu Ashar. Maka sebagian mereka berpendapat bahwa mereka tidak akan sholat Ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah sesuai dengan perintah Nabi SAW. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa mereka harus sholat karena mereka memahami perintah Nabi SAW. itu bertujuan agar mereka mempercepat jalannya agar bisa sholat Ashar di Bani Quraizhah, bukan harus sholat di tempat itu. Tetapi, perbedaan pendapat di kalangan para sahabat pada zaman Nabi SAW. itu semuanya dikembalikan kepada Beliau, dimana dalam masalah ini Nabi SAW. membenarkan kedua pendapat tersebut.

Dan tentunya setelah wafatnya Nabi SAW. perbedaan pendapat itu semakin banyak dan beragam, seperti perbedaan pendapat di kalangan sahabat tentang siapa yang diangkat sebagai khalifah Nabi SAW., perbedaan pendapat tentang hukum memerangi mereka yang enggan menunaikan zakat dan masalah-masalah lainnya.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah agama disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah perbedaan dalam memahami suatu teks baik dari al-Qur`an maupun hadits, sebagian teks hadits sampai kepada sebagian ulama, sedangkan sebagian ulama lain tidak mengetahuinya, perbedaan dalam menilai keshahihan suatu hadits, adanya dua dalil yang saling bertentangan sehingga memerlukan pemahaman dan pengetahuan akan asbab nuzul atau asbab wurudnya, dan mungkin juga karena tidak adanya teks tentang suatu masalah sehingga memerlukan ijithad dari masing-masing ulama dalam menetapkan hukum masalah tersebut.

Tetapi, yang harus menjadi perhatian dan renungan kita adalah bahwa perbedaan pendapat di kalangan para sahabat itu tidak pernah menjadikan mereka pecah atau menimbulkan kebencian di antara mereka. Karena mereka mengetahui dan mendapat pelajaran dari Rasulullah SAW. bahwa perpecahan itu akan menyebabkan kehancuran.

عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَجُلًا قَرَأَ آيَةً ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ خِلَافَهَا فَجِئْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ ، وَقَالَ : ” كِلَاكُمَا مُحْسِنٌ وَلَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata, “Saya mendengar seseorang membaca suatu ayat, dan saya mendengar Nabi SAW. membaca ayat itu berbeda dengan bacaannya, maka saya membawa orang itu kepada Nabi SAW. dan memberitahukan kepadanya. Saya melihat rasa tidak senang di wajah Nabi SAW. dan beliau bersabda: “Kamu berdua benar (dalam hal bacaan ayat) dan janganlah berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu selalu berselisih sehingga mereka binasa.” (HR. Bukhari).

Dengan mengkaji dan membaca sejarah para sahabat, kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk menjaga agar jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyyah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di kalangan mereka, ada hal-hal yang menjadi pegangan dan perhatian mereka dalam berbeda pendapat itu, di antaranya adalah:

-   Para sahabat selalu berusaha sedapat mungkin untuk tidak berbeda pendapat, maka mereka tidak memperbanyak pembahasan masalah atau membahas masalah yang belum terjadi. Mereka hanya membahas masalah yang terjadi dalam kerangka ajaran Nabi SAW.

-   Ketika perbedaan itu terjadi juga setelah berusaha menghindarinya maka mereka segera mengembalikan masalah itu kepada al-Qur`an dan Sunnah Nabi SAW. sehingga perbedaan itu cepat berlalu.

-   Mereka selalu cepat tunduk dan patuh secara total terhadap hukum dan ketentuan Allah SWT. dan Rasul-Nya.

-   Mereka selalu komitmen dalam ketaqwaan dan menjauhi hawa nafsu sehingga mereka hanya menjadikan kebenaran sebagai tujuan tanpa melihat dari siapa datangnya kebenaran itu, apakah dari dirinya atau dari saudaranya yang berbeda pendapat dengannya. Sehingga mereka tidak malu untuk mengakui bahwa mereka salah.

-   Mereka selalu mengedepankan ukhuwwah Islamiyyah yang mereka anggap sebagai salah satu asas dalam ajaran Islam

-   Mereka selalu berpegang teguh dengan adab dan akhlak Islam dalam mengeluarkan pendapat seperti selalu memilih kata dan kalimat yang baik, menjauhi perkataan dan perbuatan yang dapat menyakiti lawan bicaranya dan selalu mendengarkan dengan baik perkataan dan pendapat lawan bicaranya.

-   Mereka menganggap masukan dan kritikan yang disampaikan oleh saudaranya sebagai nikmat dan pertolongan kepadanya bukan aib yang harus ditolak.

-   Mereka tidak suka bertele-tele dan berdebat yang tidak ada ujung pangkalnya. Mereka selalu serius dan berusaha mengkaji masalah yang dibahas secara mendalam sehingga masing-masing pihak yang berbeda pendapat menghormati pendapat lawan bicara, bahkan mungkin menerimanya.

Semua hal itu menjadikan perbedaan pendapat di kalangan para sahabat tidak mempengaruhi hubungan persaudaraan mereka sebagai umat yang satu. Mereka tetap saling mencintai karena Allah SWT., mereka tetap saling membela, saling menyapa, saling mengunjungi dan saling memberi hadiah dan mereka tetap masih sholat di belakang yang lain.

Semoga kita bisa meneladani para sahabat Nabi SAW., generasi terbaik umat ini agar kita bisa bersatu dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Wallahu a’lam bish shawab..