Zakat Profesi Sep09

Tags

Related Posts

Share This

Zakat Profesi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. Wb,

Ustadz saya ingin bertanya tenantg zakat profesi PNS yang gajinya langsung di potong 2,5%. Di beberapa instansi ada yang memberlakukan zakat profesi ini tanpa nisab dan haul, jadi semua gaji pegawai langsung dipotong 2,5% untuk zakat. Apakah hal tersebut dibenarkan dalam Islam? bukankah syarat harta yang wajib dizakati itu ialah sampai haul, sampai nishab,melebihi kebutuhan pokok, dan bebas dari hutang? Lalu bagaimana hukum Islam tentang zakat profesi yang saat ini marak diberlakukan di berbagai instansi tanpa memperhatikan hal tersebut? Mohon penjelasannya ustadz.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. Wb,

Islam yang datang dengan penuh keadilan dan kemudahan sangat tidak mungkin untuk membebankan kepada umatnya sesuatu yang membuat mereka kesusahan dan mengalami kesulitan untuk menjalan apa yang diperintahkan Allah SWT. Termasuk di sini dalam kewajiban membayar zakat. Allah SWT. hanya mewajibkan zakat bagi mereka yang mempunyai harta yang melebihi kebutuhan asasinya sehari-hari bagi dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya.

Karena bagi mereka yang kekurangan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya akan sulit untuk mengeluarkan sebagian dari hartanya untuk dizakatkan karena mereka membutuhkannya, bahkan hasil dari pengumpulan zakat itu akan diberikan kepada mereka.

Oleh karena itu Rasulullah SAW. menegaskan bahwa zakat itu hanya diambil dan diwajibkan bagi mereka yang kaya yang mempunyai kelebihan harta yang mencapai nisab yang telah ditentukan. Rasulullah SAW. bersabda:

عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ:  إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Sesungguhnya ketika Rasulullah SAW.  mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, Beliau SAW. berkata, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Karena itu, jika engkau menjumpai mereka, serulah mereka kepada syahadat, bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka mentaati engkau dalam hal itu, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari- semalam. Dan jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagi-bagikan kepada para faqir miskin dari mereka. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka dan bertaqwalah dari doa-doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang darinya dengan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Beliau juga menegaskan:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنما الصدقة عن ظهر غنىً

“tidak ada kewajiban zakat kecuali terhadap orang yang kaya.” (HR. Ahmad)

Beliau juga SAW. bersabda:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang takarannya kurang dari lima wasaq.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib, Beliau juga bersabda:

فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَىْءٌ – يَعْنِى فِى الذَّهَبِ – حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ

Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikit pun –maksudnya zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar, dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari (nishab) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu.”  (HR. Abu Daud).

Semua hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang baru diwajibkan mengeluarkan zakat dari hartanya jika dia telah mempunyai harta kekayaan yang mencapai nilai yang telah ditentukan yaitu nisab setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sehari-hari, sehingga dia bisa digolongkan kepada mereka yang telah mampu dan berkecukupan sehingga harus mengeluarkan zakat yang merupakan hak bagi mereka yang tidak mampu.

Oleh karena itu, zakat penghasilan itu diambil dari pendapatan bersih seseorang setelah dikurangi  dengan pengeluaran dia untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya serta pembayaran hutangnya. Adapun yang mengatakan bahwa zakatnya itu dikeluarkan dari pendapatan kotornya, maka hal itu diberlakukan bagi mereka yang memang pendapatannya sangat besar, dimana jika pendapatannya selama setahun diakumulasikan maka akan jauh melebihi nisab yang sudah ditentukan.

Adapun, mengenai nisab harta penghasilan/profesi ini ada dua pendapat yang berkembang dalam pembahasan zakat penghasilan ini. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa nisab zakat penghasilan ini dianalogikan dengan zakat hasil pertanian yaitu senilai 653 kg gabah atau 524 kg beras dan tidak disyaratkan haul (dalam masa setahun). Hal itu adalah karena gaji dari pekerjaan dan profesi merupakan hasil dan buah lansung dari pekerjaannya, maka ia dianalogikan kepada zakat hasil pertanian. ini adalah pendapat Syaikh Muhammad al-Ghazali dan ini yang dipakai oleh BAZNAS (Badan Zakat Nasional).

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa nisab zakat penghasilan ini dianalogikan kepada zakat harta perdagangan atau emas dan perak yaitu senilai 85 gram emas, karena gaji dan harta profesi itu biasanya dalam bentuk uang maka ia dianalogikan kepada zakat emas dan perak. Dan jumlah itu diakumulasikan dalam masa setahun, yang berarti bahwa jika penghasilannya selama setahun setelah dikeluarkan biaya untuk kebutuhan hidup dirinya serta keluarganya itu mencapai senilai 85 gram emas maka dia wajib mengeluarkan zakatnya setiap dia menerima penghasilan tersebut, ini adalah pendapat Syaikh Yusuf al-Qaradawi penulis buku Fiqh al-Zakat.

Sedangkan kadar yang wajib dikeluarkan menurut kebanyakan ulama sekarang adalah sebesar 2,5% dengan menganalogikannya kepada zakat emas dan perak.

Zakat itu hanya wajib bagi mereka yang mempunyai harta yang melebihi kebutuhan asasinya sehari-hari bagi dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya, yang dalam hal ini ditentukan bagi mereka yang mempunyai harta yang sampai nisabnya. Oleh karena itu harus menjadi perhatian instansi-instansi yang melaksanakan zakat profesi kepada semua pegawai di intansinya agar jangan sampai mewajibkan zakat kepada mereka yang belum diwajibkan berzakat ke atasnya karena harta mereka belum sampai nisab yang sudah ditentukan karena itu akan memberatkannya tanpa dasar dan dalil syar’i.

Wallahu a’lam bish shawab..