Menggunakan kata “akhi” (saudaraku) kepada non muslim Sep10

Tags

Related Posts

Share This

Menggunakan kata “akhi” (saudaraku) kepada non muslim

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,

Ustadz, saya sering mendengar para tokoh agama dan intelektual kita mengatakan ungkapan “saudara kita yang non muslim”. Apakah sebagai seorang muslim kita dibolehkan mengucapkan “saudaraku” kepada orang non muslim ustadz? Padahal kan Allah SWT. menegaskan bahwa yang bersaudara itu adalah orang beriman. Mohon pejelasannya ustadz..

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan hubungan sosial yang baik antara sesama manusia, baik itu antara muslim dengan muslim lainnya, maupun antara muslim dengan non muslim yang mungkin adalah kerabatnya, tetangganya, sebangsanya. Bahkan, Islam juga mengajarkan dan mengatur akhlak dan perilaku muslim terhadap alam dan lingkungannya yang diciptakan Allah SWT demi untuk kebaikan dan kemakmuran umat manusia itu sendiri.

Tapi di antara semua hubungan itu, Islam melalui al-Qur`an dan sunnah Nabi SAW. menegaskan bahwa hubungan yang paling kuat dan suci serta yang harus selalu diutamakan adalah hubungan persaudaraan dalam akidah tauhid mengesakan Allah SWT., di mana setiap mukmin yang beriman kepada Allah SWT. dan rasul-Nya adalah saudara bagi mukmin lainnya yang harus dicintainya, dijadikan sahabat karib dan dibantunya dalam segala hal tanpa melihat suku, bangsa, ras, warna kulit dan negaranya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُرْ‌حَمُونَ

 Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 11).

Rasulullah SAW. bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh mendzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh. Dan siapa yang berusaha memenuhi kebutuhan  saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hair kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman seorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari).

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. وشبك بين أصابعه

Orang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” Lalu Beliau SAW. menautkan antar jari-jemarinya. (HR. Bukhari dan Muslim).

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Janganlah kalian saling hasad, saling berbuat najasy (menawar lebih tinggi untuk mengecoh pembeli), saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah salah seorang di antara kalian menjual barang yang sudah terjadi transaksi jual beli oleh orang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya (tidak peduli padanya) dan menghinanya. Taqwa tempatnya di sini, -beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali-. Cukuplah seseorang itu dikatakan telah berbuat kejelekan manakala telah merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain itu haram darahnya, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

Di samping hubungan persaudaraan berdasarkan keimanan, Islam juga mengakui hubungan persaudaraan berdasarkan nasab antara seorang muslimin dengan kerabatnya yang non muslim meskipun mereka menentang Allah SWT. dan Rasul-Nya, tapi al-Qur`an melarang adanya rasa kasih sayang terhadap mereka:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَ‌تَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadalah [58]: 22).

Nabi Ibrahim as. juga memanggil bapaknya dengan sebutan “ya abati” yang menunjukkan penghormatan meskipun bapaknya adalah seorang yang kafir:

وَاذْكُرْ‌ فِي الْكِتَابِ إِبْرَ‌اهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا ﴿٤١﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ‌ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا

Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19]: 41-42).

Al-Qur`an juga menyematkan ungkapan saudara terhadap kerabat meskipun hubungan nasabnya jauh, sebagaimana dalam kisah para nabi yang diutus kepada kaumnya, di sini al-Qur`an menegaskan hubungan persaudaraan antara para nabi dengan kaumnya yang kafir.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. (QS. Al-A’raf [7]: 85).

وَلَقَدْ أَرْ‌سَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (QS. Al-Naml [27]: 45).

Bahkan diungkapkan ungkapan saudara antara Nabi Luth dan kaumnya meskipun Nabi Luth bukan berasal dari daerah dan suku kaumnya tersebut karena beliau adalah keponakan Nabi Ibrahim yang beriman bersama beliau dan hijrah bersama ke daerah Syam. Allah SWT. berfirman:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?”. (QS. Al-Syu’ara` [26]: 161).

Persaudaraan disini maksudnya adalah pertemanan atau persaudaraan berdasarkan kemanusiaan atau saudara sesama manusia makhluk Allah SWT.

Tapi jika penyebutan ungkapan saudara itu menimbulkan dugaan akan keikutsertaan dalam kebatilan yang dilakukan orang kafir itu maka ungkapan saudara itu tidak disebutkan sebagaimana dalam kisah Nabi Syu’aib, di mana di sebagian ayat Allah SWT. menyebutnya sebagai saudara kaum Madyan, namun ketika mereka disandarkan kepada pohon Aikah yang mereka sembah maka Allah SWT. tidak menyebutkan Syu’aib sebagai saudara kaum Madyan.

كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْ‌سَلِينَ ﴿١٧٦﴾ إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul. ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?. (QS. Al-Syu’ara` [26]: 176-177).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka pendapat yang kuat adalah bolehnya menggunakan ungkapan “saudaraku” atau “saudara kita” bagi non muslim selama hal itu dilakukan dalam konteks dakwah, ajakan dan usaha untuk melembutkan hati agar dapat menerima hidayah dan agama Allah SWT. tapi harus tetap memperhatikan kaedah al-wala` wal al-bara` di dalam hati kaum muslimin dan tidak menimbulkan dugaan ikut serta dalam kebatilan mereka. Dan dilarang untuk mengunakan ungkapan “saudaraku” atau “saudara kita” jika diucapkan dalam konteks menghilangkan perbedaan antara kaum muslimin dengan umat lainnya dan menganggap remeh tali ikatan iman yang paling kuat yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Wallahu a’lam bish shawab..