Wasiat dalam Islam Sep18

Tags

Related Posts

Share This

Wasiat dalam Islam

Para ulama telah bersepakat bahwa pemberian wasiat kepada ahli waris adalah haram, dan melanggar ketentuan Allah, karena wasiat itu akan memberikan tambahan kepada sebagian ahli waris, Abu Umamah r.a, berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إن الله قد أعطى كل ذي حق حقه ولا وصية لوارث

 ”Sungguh, Allah telah memberikan hak kepada setiap yang berhak. Oleh karena itu, tidak ada wasiat bagi orang yang mendapatkan warisan (ahli waris)”. (HR al-Khamsah, kecuali an-Nasa’i)

Para ulama juga bersepakat bahwa jika seluruh ahli waris sepakat untuk memberikan wasiat kepada salah seorang ahli waris, maka wasiat itu bisa dilaksanakan. Demikian pula jika salah seorang atau mereka sepakat untuk tidak memberikan wasiat, maka wasiat menjadi gugur . Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

حدثنا علي بن إبراهيم بن عيسى نا أحمد بن محمد الماسرجسي نا عمرو بن زرارة نا زياد بن عبد الله نا إسماعيل بن مسلم عن الحسن عن عمرو بن خارجة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة

” Wasiat tidak boleh ditujukan kepada salah satu ahli waris, melainkan  bila semua ahli waris menghendakinya. ” (HR.ad-Darquthni) .

 Wasiat untuk selain ahli waris, hukumnya boleh dan sah, dengan jumlah maksimal sepertiga dari harta waris atau kurang dari sepertiga, sesuai dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,

حدثنا علي بن محمد . ثنا وكيع عن هشام بن عروة عن أبيه عن ابن عباس قال وددت أن الناس غضوا من الثلث إلى الربع . لأن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ( الثلث كبير ( أو كثير ).

 ”Jikalau manusia mengganti sepertiga menjadi seperempat bagian, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, sepertiga, sebab sepertiga itu sudah banyak,’ ” (HR Muttafaq ’alaih).

 Jika ahli waris membolehkan wasiat melebihi dari ketentuan dari sepertiga bagian, maka jumlah tersebut boleh dan sah untuk dilaksanakan

Pendapat Seputar Pelaksanaan wasiat

  • Kalangan Hanabilah berpendapat bahwa pelaksanaan wasiat setelah kematian. Namun sebagian dari kalangan Hanabilah berpendapat bahwa pelaksanaan wasiat setelah kematian juga sah .
  • Malikiyyah berpendapat yang selanjutnya dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul qoyyim bahwa, bila wasiat dilaksanakan pada waktu orang yang mewariskan dalam kondisi sakit keras, maka pelaksanaannya adalah sah. Dalam hal ini pendapat malikiyyah dianggap paling kuat .
  • Ulama bersepakat untuk mendahulukan pelaksanaan hutang daripada pelaksanaan wasiat, karena hutang merupakan kewajiban mayit sedangkan wasiat adalah tabarru’  ( sedekah ) darinya . Padahal di dalam Al-Quran penyebutan wasiat lebih didahulukan daripada hutang ” setelah diambil untuk wasiat yang diwasiatkan atau sesudah dibayar utangnya.”
  • Para ulama menyimpulkan bahwa hikmah di balik penyebutan wasiat lebih didahulukan daripada hutang – Wallahu A’lam – . Hutang merupakan kewajiban dan wasiat adalah sedekah. Para ahli waris kemungkinan menganggap remeh sedekah, bahkan berat menunaikannya sehingga enggan. Berbeda halnya dengan suatu kewajiban, seperti hutang
  • Az-Zamakhsari berkomentar, bahwa ” wasiat dan hutang ditampilkan dalam satu kalimat dan keduanya menuntut persamaan, sehingga keduanya sama-sama menjadi perkara yang perlu diperhatikan, sekalipun salah satunya ada yang didahulukan.”

wallahu a’lam bishshawab