Indonesia Lebih Membutuhkan Jihad Harta Sep27

Tags

Related Posts

Share This

Indonesia Lebih Membutuhkan Jihad Harta

AL IRSYAD#3

Ust. Bachtiar Nasir memberikan materi dalam Kajian Bulanan Masjid Al Irsyad, Surabaya (Jum’at, 26/9/2014)

AQL Islamic Center, Surabaya — Meski Umat Islam di Indonesia sedang dalam kondisi tidak diuntungkan secara politis dan sosial dengan isu-isu “sebagai agama teroris”, namun yang lebih dibutuhkan dunia dakwah Islam di Tanah Air, bukanlah melakukan tindakan anarkis atas nama jihad nyawa, melainkan aksi nyata dalam berjihad harta.

Demikian ditegaskan Sekjend Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ust. Bachtiar Nasir di Masjid Al Irsyad Surabaya dalam dua kesempatan berbeda, yakni Khutbah Jum’at (26/9/2014) bertema “Bahagia Sebagai Islam” dan Kajian Rutin Bulanan Ba’da Magrib bertema “Komitmen dan Loyal Bersama Islam”.

Menurut Ust. Bachtiar yang juga Pimpinan AQL Islamic Center, dunia dakwah Islam di Nusantara saat ini sedang tidak diuntungkan dengan isu-isu terorisme yang dihembuskan musuh-musuh Islam atas nama gerakan kelompok liberalisme, pluralisme, dan komunisme baru. Karena itu, katanya, dibutuhkan kesadaran baru di kalangan ulama, da’i, dan umat Islam sendiri dalam mempertahakan aqidah Islam yang sedang dirusak secara struktural.

Yang dibutuhkan dunia dakwah Islam saat ini, tambah Ust. Bachtiar, kesadaran untuk menumbuhkan kembali semangat jihad yang tidak boleh hilang dalam jiwa umat Islam. “Karena Rasullah Muhammad SAW telah mencontohkan kepada kita, bahwa Islam bisa tumbuh, berkembang, dan menang bukan lewat jalur politik, melainkan lewat berdakwah dan berjihad,” tandasnya.

Kendati demikian, lanjut penggagas “Pertemuan Cikini” ini, semangat jihad yang dibutuhkan dewasa ini bukan jihad nyawa, karena negara Indonesia saat ini bukan termasuk wilayah medan perang. “Yang lebih dibutuhkan dunia dakwah Islam di Indonesia ini, adalah jihad bil maal atau jihad harta,” ungkap Ust. Bachtiar.

Sembari mengutip pernyataan Ketua Ulama Internasional Syeihk Yusuf Qardhawi dalam Konfrensi Ulama Dunia baru-baru ini bahwa para ulama Islam saat ini sedang hidup “miskin” di tengah umatnya yang sangat kaya, ini menunjukkan dunia dakwah Islam telah gagal dalam menanamkan pemahaman pentingnya berjihad harta daripada berjihad nyawa.

“Orang yang masih enggan berjihad harta, hampir pasti akan susah jika diajak berjida nyawa,” ujar Ustadz Bachtiar yang ikut hadir dalam Konfrensi Internasional Ulama Dunia di Istanbul, Turki, pertengahan Agustus 2014 lalu.

MASJID AL IRYAD#2Lebih jauh dalam mengingatkan peran pemuda Islam dalam berdakwah, Ust. Bachtiar memberi ilustrasi tentang salah kaprahnya sekelompok pemuda Islam di Indonesia dalam memahami dan mempraktekan kata jihad. “Apakah dibenarkan kita meledakkan bom untuk membunuh sejumlah orang yang sedang bermaksiat di sebuah pub atau di diskotik? Tentu tidak!” katanya.

Lalu Ketua Lembaga Tadabbur Qur’an Indonesia ini  menceritakan sebuah kisah diskusi antara seorang ulama dengan muridnya seorang pemuda sholeh yang taat beragama dan bermental dakwah yang kuat. Sang ulama itu, tutur Ust. Bachtiar, bertanya kepada pemuda itu: ” Wahai pemuda, bagaimana menurutmu jika ada seseorang melakukan pengeboman terhadap sebuah diskotik yang di dalamnya banyak orang bermaksiat?!”

Sang pemuda spontan menyetujui tindakan itu. Lantas sang Ulama kembali bertanya: “Apakah orang-orang yang meninggal di dalam diskotik tersebut akan masuk surga atau neraka?”

“Tentunya saja masuk neraka!” kata si pemuda. Lantas sang Syeikh melanjutkan pertanyaannya: “Iblis itu mengajak manusia ke surga atau ke neraka?”

“Pastinya masuk neraka,” lanjut si pemuda, yang langsung disambut pernyataan sang ulama: “Kalau begitu, perbuatan pengeboman di diskotik itu, sama saja kamu telah bekerjasama dengan Iblis untuk memasukkan manusia kedalam neraka”.

Hikmah dari dialog antara ulama dan muridnya itu, lanjut Ust. Bachtiar, menjelaskan bahwa setiap kegiatan yang kerap datasnamakan dakwah tetapi justru membawa manusia yang menjadi obyek dakwah justru masuk neraka, maka perbuatan itu bukanlah berdakwah.

Dalam berdakwah, lanjut Ust. Bachtiar, tidak cukup dengan menghancurkan, menyesatkan, membid’ahkan, kemudian obyek dakwah ditinggalkan tanpa upaya mengajak manusia untuk kembali kepada Allah, Indahnya Islam, serta mulianya akhlak Rasulullah. “Intinya, tujuan dari berdakwah adalah mengajak manusia ke Surga,” tandasnya.

Oleh: Abu Syakira/Abu Lanang | Foto: Zulferi