Berpuasa pada hari-hari tasyriq Oct06

Tags

Related Posts

Share This

Berpuasa pada hari-hari tasyriq

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, benarkah bahwa boleh bagi jamaah haji yang melaksanakan haji secara tamattu atau qiran dan tidak mampu melakukan penyembelihan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq? Bukankah kita diharamkan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq itu ustadz? Mohon penjelasannya.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari ‘idul adha yaitu hari-hari tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah dalam tahun hijriyyah. Hari-hari tasyriq inilah yang dimaksudkan dengan hari-hari yang ditentukan (ma’dudaat) dimana kita disuruh untuk memperbanyak berzikir kepada Allah SWT. pada hari-hari itu yang dijelaskan dalam ayat 203 surat al-Baqarah:

وَاذْكُرُ‌وا اللَّـهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ‌ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّـهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُ‌ونَ

Dan berzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan (Tasyriq). Maka barangsiapa yang ingin cepat (berangkat dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa atasnya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan, maka tiada dosa pula atasnya bagi orang yang bertaqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 203).

Memang banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa haram hukumnya berpuasa pada hari-hari tasyriq. Bahkan berdasarkan hadits-hadits itu, jumhur ulama berpendapat bahwa haram hukumnya berpuasa pada hari tasyriq itu meskipun demi untuk membayar hutang puasa di bulan Ramadhan atau pun berpuasa karena nazar. Di antaranya hadits Nabi SAW. yang menunjukkan hal itu adalah:

عَنْ عُقْبَةَ بنِ عَامِرٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: “Rasululllah saw. bersabda: Hari Arafah, hari Nahr (penyembelihan), dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kita orang Islam, hari makan-makan dan minum-minum.” (HR. Ahmad, Tirmizi, Abu Daud, Al-Nasa`i, Baihaqi, Hakim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban. Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan:

عَنْ نُبَيْشَةَ الهُذَلِّيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Dari Nubaisyah al-Hudzalli, ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. Muslim). Dan dalam riwayat Ahmad dan al-Nasa`i ditambahkan bahwa hari-hari tasyriq adalah hari untuk berzikir kepada Allah SWT.

Dan Imam Ahmad juga meriwayatkan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةََ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حُذَافَةَ يَطُوفُ فِي مِنًى أَنْ : لَا تَصُومُوا هَذِهِ الْأَيَّامَ , فَإِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. mengutus Abdullah bin Hudzafah berkeliling Mina dan menyerukan, “Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini (hari-hari tasyriq) karena sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan, minum dan berzikir kepada Allah SWT.” (HR. Ahmad).

Maka haram bagi kita untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq tersebut, baik puasa sunnah, puasa qadha` atau pun puasa nazar. Tetapi, Nabi SAW. kemudian menjelaskan bahwa bagi jamaah haji yang melaksanakan ibadah haji secara tamattu atau qiran dan tidak mempunyai kemampuan untuk menyembelih hewan, serta belum sempat berpuasa sebelum hari Idul Adha, maka dibolehkan baginya untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالا : لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

Dari Aisyah dan Ibnu Umar, mereka berkata, “Tidak dibolehkan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq kecuali bagi yang tidak mampu untuk menyembelih hadyun. (HR. Bukhari).

Maka bagi jamaah haji yang melaksanakan hajinya secara tamattu dan qiran dan tidak mempunyai kemampuan untuk menyembelih hewan, dibolehkan baginya untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq tersebut agar ia tidak melewatkan kewajiban harus berpuasa tiga hari pada masa haji sesuai dengan firman Allah SWT.:

فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَ‌ةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ‌ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَ‌جَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَ‌ةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِ‌ي الْمَسْجِدِ الْحَرَ‌امِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]; 196).

Wallahu a’lam bish shawab..