Hak Waris Cucu Perempuan Oct15

Tags

Related Posts

Share This

Hak Waris Cucu Perempuan

Assalamu’alaikum

Ustadz, kami dua saudara , satu laki-laki dan satu perempuan. Kakak saya yang laki-laki telah wafat mendahului ayah kami, ia meninggalkan istri dan satu anak perempuan.  (alhmadulillah masalah waris telah diselesaikan secara Islam). Sekarang ayah kami wafat, meninggalkan istri (ibu saya), anak perempuan (saya sendiri), cucu perempuan  (anak perempuan dari kakak laki-laki saya) dan saudara laki-laki kandung (paman saya). Serta seorang mantu (yaitu; istri dari kakak laki-laki). Berapakah bagian masing-masing? Apakah cucu perempuan mendapatkan hak waris dari kakeknya?

Hamba Allah

 

Wa’alaikumsalam

Semoga Allah selalu memberikan kesabaran kepada kita dalam melaksanakan ketaatan kepadaNya.

Cucu (lk/pr) yang berhak mendapatkan hak waris dari kakek atau neneknya adalah cucu dari jalur anak laki-laki, sedangkan cucu (lk/pr) dari jalur anak perempuan termasuk kategori dzawil arham.

Merujuk pada kasus diatas, yang menjadi ahli waris adalah: istri (ibu anda), anak perempuan (anda sendiri), cucu perempuan  (keponakan anda), dan saudara laki-laki kandung (paman anda). Sedangkan mantu tidak mendapatkan hak waris.

Istri mendapatkan 1/8 karena pewaris memiliki keturunan, anak perempuan mendaptkan ½ karena sendiri, cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki) mendapatkan 1/6 dan sisanya untuk saudara laki-laki kandung.

Ahli waris

Bagian

24

Keterangan

Istri

1/8

3

3/24 x harta waris

Anak Pr

½

12

12/24 x harta waris

Cucu Pr

1/6

4

4/24 x harta waris

Sdr Lk Kdg

Sisa

5

5/24 x harta waris

 

Ada 5 kondisi hak waris yang dimiliki oleh cucu perempuan, yaitu;

Kondisi pertama;

Cucu perempuan terhijab oleh anak laki-laki si mayit (baik sebagai ayahnya atau sebagai pamannya ). Begitu juga terhijab oleh dua anak perempuan atau lebih kecuali cucu perempuan tersebut bersama mu’ashibnya yaitu cucu laki-laki.

Contoh kasus1:

Seorang pewaris meninggalkan dua anak perempuan, cucu perempuan dan saudara laki-laki kandung. Dua anak perempuan mendapatkan 2/3 dan sisanya untuk saudara kandung, adapun cucu perempuan  terhijab oleh jamak dari anak perempuan.

Contoh kasus 2:

Seorang pewaris meninggalkan dua anak perempuan, cucu laki-laki, cucu perempuan dan saudara laki-laki kandung. Dua anak perempuan mendapatkan 2/3 dan sisanya untuk cucu laki-laki dan cucu perempuan, adapun saudara laki-laki kandung  terhijab oleh cucu laki-laki. Dalam hal ini, cucu laki-laki menyelamatkan cucu perempuan, karena tanpanya maka cucu perempuan tersebut akan terhijab oleh jamak dari anak perempuan.

Kondisi kedua dan ketiga;

Cucu perempuan mendaptkan ½ jika sendiri dan atau 2/3 jika dalam keadaan jamak. Dengan syarat:

  1. Tidak ada anak-anak si mayit (baik anak laki-laki ataupun anak perempuan)
  2. Tidak bersama mu’ashibnya (yaitu cucu laki-laki yang sederajat dengannya)

Contoh kasus 1:

Pewaris wafat meningalkan istri, cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki) dan paman kandung. Maka istri mendapatkan 1/8, cucu perempuan mendapatkan ½ dan sisanya untuk paman kandung.

Contoh kasus 2:

Pewaris wafat meningalkan istri, tiga cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki) dan paman kandung. Maka istri mendapatkan 1/8, tiga cucu perempuan mendapatkan 2/3 dan sisanya untuk paman kandung.

Kondisi keempat;

Cucu perempuan mendapatkan 1/6 untuk satu orang atau lebih jika bersama dengan satu anak perempuan (yang dalam kondisi mendapatkan 1/2). Bagian 1/6 ini sebagai pelengkap dari 2/3. Dengan syarat:

  1. Tidak ada yang menghijabnya
  2. Tidak bersama mu’ashibnhya.

Pada dasarnya, bagian untuk dua ahli waris perempuan atau lebih adalah 2/3, namun jika dua ahli waris perempuan  tidak satu derajat maka perempuan yang derajatnya lebih tinggi mendapatkan bagian asalnya. Misalkan pewaris meninggalkan anak perempuan dan cucu perempuan, maka anak perempuan mendapatkan ½ dan sisa dari 2/3 yaitu 1/6 (2/3 – ½ = 1/6) diberikan kepada cucu perempuan sebagai pelengkap bagian 2/3. Lihat contoh kasus diatas.

Kondisi kelima;

Cucu perempuan mendapatkan ‘ashabah bilghair jika bersama dengan mua’shibnya dan tidak ada yang menghijabnya.

Wallah a’lam bi shawab