Haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya Oct16

Tags

Related Posts

Share This

Haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, kalau tidak salah ada hadits Nabi SAW. yang mengatakan bahwa barangsiapa yang melaksanakan haji dan ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dosanya akan diampuni sehingga ia menjadi seperti orang yang baru dilahirkan kembali. Ustadz, apakah kalau kita telah melaksanakan ibadah haji dan merasa dapat melaksanakannya dengan benar, kita harus merasa optimis bahwa Allah SWT. telah mengampuni dosa-dosa kita yang lalu, atau kita selalu mengingat dosa-dosa tersebut sehingga kita selalu memohon ampun kepada Allah SWT.?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Rasulullah SAW. bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ ، فَلَمْ يَرْفُثْ ، وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berhaji ke rumah ini (Ka’bah) lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Nabi SAW. di atas menunjukkan bahwa ini merupakan balasan bagi haji yang mabrur. Para ulama menjelaskan bahwa haji mabrur itu maksudnya adalah ibadah haji yang dilakukan dengan harta yang halal, menjauhi perbuatan fasik, kata-kata kotor dan berbantah-bantahan, melaksanakan ibadah haji sesuai sunnah Nabi SAW., ikhlas dalam berhaji bukan karena ingin dipuji dan diberi gelar haji dan selalu menjaga dirinya agar tidak jatuh kepada dosa dan maksiat setelah melaksanakan ibadah haji.

Tentunya bagi yang melaksanakan ibadah haji dengan harta yang haram, tidak memurnikan keikhlasan ibadah kepada Allah SWT. atau banyak melakukan hal-hal yang dilarang dalam ibadah haji seperti berkata kotor atau berbantah-bantahan, maka hajinya tidak akan menjadi haji mabrur.

Ibnu Abdul Bar menjelaskan dalam kitabnya al-Tamhid lima fi al-muwaththa` min al-ma’ani wa al-asanid bahwa dikatakan haji mabrur itu adalah haji yang tidak ada riya` dan sum’ah di dalamnya, tidak ada perbuatan dan perkataan kotor, tidak ada perbuatan fasik dan dilaksanakan dengan harta yang halal.

Dan haji yang kita lakukan tidak dapat menghapuskan atau menjatuhkan hak-hak yang wajib kita lakukan baik hak Allah SWT. seperti kaffarat, nazar, zakat yang belum kita keluarkan atau hutang puasa yang belum kita kerjakan, maupun hak manusia yang lain seperti hutang.

Sebagai muslim yang dikaruniakan nikmat oleh Allah SWT. sehingga mampu melaksanakan ibadah haji seharusnya kita selalu merasa takut dan khuwatir amal ibadah kita tidak diterima Allah SWT. bukan berarti kita putus asa terhadap rahmat Allah, tetapi agar kita tidak merasa bangga dan merasa sudah banyak beribadah kepada-Nya. Dan agar kita selalu berdo’a dan berharap kepada Allah SWT. agar menerima segala amal ibadah kita serta tambah bersemangat untuk berbuat amal sholeh yang lain karena kita selalu merasa kurang dan khuwatir amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT. Allah SWT. berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَ‌بِّهِمْ رَ‌اجِعُونَ ﴿٦٠﴾ أُولَـٰئِكَ يُسَارِ‌عُونَ فِي الْخَيْرَ‌اتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ﴿٦١

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. Al-Mukminun [23]: 60-61).

عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ:  سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ : وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ سورة المؤمنون آية 60 ، قَالَتْ عَائِشَةُ : أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ ؟ قَالَ : ” لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang ayat ini (surat al-Mukminun ayat 60) apakah mereka itu yang meminum khamar dan mencuri? Rasulullah menjawab: “Bukan wahai anak perempuan al-Siddiq (Abu Bakar) tetapi mereka adalah orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah tetapi mereka selalu merasa takut amal ibadah mereka tidak diterima, mereka itulah yang selalu bersegera dalam berbuat kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (HR. Tirmizi).

Jadi kekhuwatiran seorang mukmin itu tidak menjadikannya putus asa terhadap rahmat Allah SWT. tetapi ia harus menyatukan kekhuwatiran itu dengan rasa pengharapan (ar-raja`) terhadap Allah SWT. dan persangkaan baik terhadap-Nya bahwa Allah SWT. akan membalas dan memuliakannya.

Ibnu al-Qayyim dalam kitab Madarij al-salikin menjelaskan bahwa jika seorang mukmin itu khuwatir maka itu dimaklumi. Hal itu karena dua hal, yaitu pengakuan akan kelalaian dan kekurangan diri serta kecintaan yang mendalam terhadap Allah SWT. Seorang pecinta sejati akan selalu mendekatkan diri kepada yang dicintanya dengan segenap kemampuannya, dan meminta maaf kepadanya serta merasa malu karena menghadap kepadanya dengan kondisi seperti itu padahal ia merasa mampu melakukan yang lebih baik.

Jadi yang perlu kita perhatikan dalam masalah ini adalah kita tidak boleh menganggap dosa kita terlalu besar sehingga tidak mungkin diampuni Allah SWT. tapi kita khuwatir akan kelalaian dan kekurangan kita dalam bertaubat dan beramal sholeh sehingga perasaan khuwatir itu menambah semangat kita untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas amal kita agar bisa diterima Allah SWT. Dan kita harus selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT. dan selalu berharap terhadap ampunan, kamulian dan rahmat-Nya yang luasnya meliputi segala sesuatu.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : ” أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatkan diri kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dalam keadaan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bish shawab..