Hak Waris Ayah (bagian 2) Oct21

Tags

Related Posts

Share This

Hak Waris Ayah (bagian 2)

Assalamu’alaikum

Semoga Allah swt selalu memberikan keberkahan kepada Ustadz dan keluarga. Pada edisi sebelumnya, ustadz menyebutkan bahwa ayah tidak bisa dihijab oleh ahli waris lainnya. Pertanyaan saya, siapakah diantara ahli waris yang terhijab oleh ayah? Misalkan kasusnya: seorang pewaris wafat meninggalkan ayah, kakek (ayahnya ayah), saudara laki-laki kandung dan paman kandung. Siapakah diantara mereka yang terhijab oleh ayah? Jazakumullah.

Hamba Allah

Wa’alaikumsalam

Sebagian ‘Ulama berkata: “haram bagi seseorang untuk berfatwa dalam waris jika tidak mengetahui system hijab menghijab”. (Al-A’zdbu Al-Fai`dh, Vol 1 Hal 93)

Al-Hajbu  dalam istilah ilmu kewarisan Islam adalah terhalangnya hak seorang ahli waris karena adanya ahli waris yang lebih dekat darinya, atau ada hal yang menggugurkan haknya.

Al-Hajbu ada dua macam; al-hajbu karena sifat dan al-hajbu karena adanya seseorang.

Pertama; alhajbu karena sifat yaitu adanya sifat atau hal yang menggugurkan hak waris, seperti pembunuhan, beda agama dan perbudakan. (dalam istilah ilmu waris disebut mawani’ul irtsi). Ahli waris yang tersifati oleh salah satu dari ketiga sifat diatas disebut mahrum.

Jika ada ahli waris yang mahrum, maka adanya dia sama dengan tidak ada (wujuduhu ka’admihi). Ia tidak bisa mempengaruhi hak ahli waris yang lain.

Contoh:

Pewaris meninggalkan istri, anak laki-laki (murtad) dan saudara laki-laki kandung. Dalam kasus ini, anak laki-laki si mayit disebut mahrum, karena beda agama. Maka istri mendapatkan ¼ (bukan 1/8) meskipun pewaris memiliki anak. Adapun sisanya untuk saudara laki-laki kandung.

Kedua, al-hajbu karena adanya seseorang yang lebih dekat. Pada kategori ini, ada dua macam al-hajbu;

a. Hajb Nuqshan; yaitu berkurangnya bagian seorang ahli waris dari bagian yang besar ke bagian yang kecil.

Contoh; berkurangnya bagian istri dari ¼ ke 1/8 karena pewaris memiliki anak. Atau berkurangnya bagian ibu dari 1/3 ke 1/6 karena pewaris memiliki anak.

b. Hajb Hirman; yaitu terhalangnya seorang ahli waris dari haknya karena ada ahli waris lainnya yang lebih kuat darinya, baik karena kedudukan maupun kekerabatan. Dalam hal ini, ahli waris yang terkena hajb hirman disebut “mahjub”.

 Contoh; terhijabnya seorang kakek oleh ayah karena ayah lebih dekat kepada si mayit. Atau terhijabnya paman oleh keponakan karena keponakan lebih dekat kedudukannya kepada si amyit dari pada paman.

 Catatan penting:

Mahrum; tidak mempengaruhi bagian ahli waris lainnya. Sedangkan mahjub dapat mempengaruhi bagian ahli wris lainnya.

Contoh:

Pewaris meninggalkan ayah, ibu dan tiga saudara kandung. Dalma kasus ini, saudara kandung terhijab oleh ayah, maka mereka disebut mahjub. Tetapi ketiga saudara tersebut dapat mempengaruhi bagian ibu, dari 1/3 menjadi 1/6 walaupun saudara-saudara tadi dalam keadaan mahjub.

Sebagaimana firman Allah swt: “Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (QS. An-Nisa [4]: 11)

Ada tiga kelompok yang tidak akan terhijab hirman, yaitu; suami – istri, ayah – ibu dan anak laki-laki – anak perempuan. Adapun selain mereka maka terhijab.

Setelah kita mengetahui gambaran system hijab menghijab, maka pertanyaan diatas dapat kita jawab bahwa ayah menghijab kakek, saudara, keponakan, paman dan sepupu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Berilah ahli waris hak-haknya, dan sisanya untuk kerabat laki-laki yang terdekat” (HR. Bukhori dan Muslim)”

Wallahu a’lam bi shawab