Keutamaan bulan Muharram Oct27

Tags

Related Posts

Share This

Keutamaan bulan Muharram

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, kita kan baru memasuki bulan Muharram yang merupakan awal bulan dalam tahun Islam, apakah keutamaannya bulan Muharram ini dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya Ustadz?

Hamba Allah.

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam sistem penanggalan umat Islam yang dinamakan dengan tahun hijriyyah memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya adalah:

1. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang diagungkan dalam Islam. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.(QS.al-Taubah: 36).

Dan dalam haditsnya, Rasulullah SAW. menjelaskan apa saja empat bulan haram yang disebutkan dalam ayat di atas.

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Abu Bakrah meriwayatkan dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhirah) dan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa ketika menafsirkan kata (فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ) Qatadah menjelaskan bahwa berbuat zalim pada bulan-bulan haram ini dosanya lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Meskipun berbuat zalim itu pada umumnya adalah dosa besar, tetapi Allah SWT. mengagungkan suatu perkara sesuai dengan kehendak-Nya. Sesungguhnya Allah SWT. memilih di antara makhluk-Nya yang dikehendakinya, Allah mengutamakan di antara malaikat sebagai utusan-Nya kepada para nabi dan Rasul, mengutamakan nabi dan rasul di antara manusia sebagai utusan-Nya kepada umat manusia, mengutamakan dzikir di antara perkataan, mengutamakan masjid di antara tempat-tempat di bumi, mengutamakan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lainnya, mengutamakan hari Jum’at di antara hari-hari lainnya, mengutamakan malam qadar di antara malam-malam lainnya, maka agungkanlah apa yang diagungkan Allah SWT. Karena yang agung itu adalah apa yang diagungkan Allah SWT.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT. khusus menyebutkan empat bulan haram ini, dan melarang berbuat zalim di bulan-bulan itu adalah untuk menunjukkan kemuliaan bulan-bulan haram tersebut, meskipun perbuatan zalim itu dilarang sepanjang waktu.

2. Rasulullah SAW. menisbatkan bulan Muharram ini kepada Allah SWT. dengan menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), dan sesuatu yang dinsibatkan kepada Allah menunjukkan bahwa ia sesuatu yang agung dan mulia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. Berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam. (HR. Muslim).

Adapun kenapa hanya bulan Muharram saja yang dinisbatkan kepada Allah, Imam Suyuthi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim menjelaskan bahwa hanya bulan Muharram saja yang namanya Islami sedangkan bulan-bulan lainnya adalah nama-namanya yang berasal dari zaman jahiliyyah sebelum Islam datang. Adapun nama Muharram pada masa jahiliyyah adalah Shafar al-awwal, ketika Islam datang Allah menamakannya dengan bulan Muharram.

3. Berpuasa pada bulan Bulan Muharram ini adalah sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan. Karena itu sangat dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram ini, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits di atas:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. Berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam. (HR. Muslim).

4. Pada bulan Muharram ini juga ada suatu hari yang kita umat Islam sangat dianjurkan untuk berpuasa, yaitu hari ‘Asyura, bahkan sebelum puasa Ramadhan diwajibkan maka terlebih dahulu umat Islam diwajibkan puasa hari ‘Asyura. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram.

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَأَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ ، فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa umat jahiliyyah berpuasa pada hari ‘Asyura dan Rasulullah SAW. bersama kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ‘Asyura adalah hari dari hari-hari Allah maka barangsiapa yang ingin berpuasa pada hari itu maka berpuasalah dan brangsiapa yang yang tidak ingin puasa maka tidak apa-apa meninggalkannya (HR. Muslim dan Ahmad).

Kita dianjurkan berpuasa pada hari ‘Asyura karena pada hari itulah Allah SWT. menyelematkan Nabi Musa AS. berserta kaumnya dari Fir’aun dan bala tentara.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ ؟ ” ، فَقَالُوا : هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ، فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW. datang ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka Rasulullah SAW. bertanya kepada mereka: “Hari apakah yang kalian puasakan ini? Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung, dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai tanda kesyukuran, lalu kami pun berpuasa pada hari ini”. Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian (kaum Yahudi)”. Maka Rasulullah SAW. pun berpuasa dan menyuruh umat Islam untuk  berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

Keutamaan berpuasa pada hari ‘Asyura ini adalah dihapuskannya dosa setahun yang lalu. Dalam hadits Nabi SAW. dijelaskan:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa hari Arafah sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).

Dan Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Nabi SAW. sangat perhatian dan bersemangat untuk berpuasa pada hari ‘Asyura ini.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW. benar-benar perhatian dan bersemangat untuk berpuasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan daripada puasa pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura` dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

Puasa ‘Asyura ini boleh dilakukan hanya pada hari kesepuluh bulan Muharram, tapi disunnahkan untuk berpuasa juga pada hari kesembilan (9 Muharram) untuk membedakan kita dengan kaum Yahudi, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi SAW.

عن عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، يَقُولُ : حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ” ، قَالَ : فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW. berpuasa pada hari ‘Asyura dan menyuruh umat Islam untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu hari yang diagungkan oleh kaun Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah SAW. bersabda: “jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan (9 Muharram)”. Ibnu Abbas berkata, “Belum datang tahun depan, tapi Rasulullah SAW. telah wafat.” (HR. Muslim).

Wallahu a’lam bish shawab..