Ikhtilat Menurut Ibnu Qayyim Oct28

Tags

Related Posts

Share This

Ikhtilat Menurut Ibnu Qayyim

ikhtilat5

AQL Islamic Center – Dalam bukunya, al Thuruq al Hukmiyyah fi al Siyasah al Syar’iyyah tepatnya pada hal 407-408, sebagaimana dalam terbitan Mathba’ah al Madani Kairo, Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidaklah diragukan bahwa memberi kesempatan kepada para perempuan untuk ikhtilat atau bercampur baur dengan para laki-laki adalah pangkal segala bala dan kejelekan.”

Beliau juga menambahkan, “Ikhtilat itu termasuk sebab yang paling penting untuk turunnya hukuman Allah yang bersifat merata sebagaimana ikhtilat adalah di antara sebab kerusakan masyarakat dan individu.”

Sungguh, kehidupan pria dan wanita yang terpisah (infishal) telah dimanifestasikan secara praktis dan bersifat massal oleh masyarakat Islam pada masa Rasulullah saw. dan pada seluruh kurun sejarah Islam.

Namun demikian, Allah telah memberikan ketetapan yang membolehkan wanita melakukan beberapa urusan dalam kehidupan umum (melakukan yang wajib, yang mandub, dan ataupun melakukan yang mubah) dan melakukan interaksi (khultah) diantara keduanya.

Untuk menunaikan perkara-perkara tersebut, seorang wanita selanjutnya harus menyesuaikannya dengan hukum-hukum syariat yang menyangkut tata pergaulan (ijtima’) atau sistem interaksi pria dan wanita (khultah).

1. Urusan yang tidak memerlukan berkumpulnya (ijtima’) diantara laki-laki dan perempuan bersama-sama atau interaksi sosial (khultah) diantara mereka. (khultah atau interaksi sosial adalah berkumpul dan bercakap-cakap bersama).

Contohnya seperti berjalan di jalan-jalan, pergi ke masjid, berjalan ke sekolah, ke kampus, kedai, bertamasya dan perkara-perkara yang seumpamanya. Wanita tidak dibolehkan untuk bercampur dengan lelaki ketika melakukan urusan-urusan tersebut, karena hukum asal laki-laki dan wanita di dalam Islam adalah terpisah (infishal).

Dan selama pelaksanaan apa-apa yang dibolehkan Syari’ah bagi wanita tidak memerlukan interaksi sosial (khultah) dan berkumpul antara laki-laki dan wanita (ijtima’), maka hukumnya adalah tetap, terpisah (infishal).

2. Urusan yang memerlukan berkumpulnya (ijtima’) diantara laki-laki dan wanita.

Contohnya seperti berjual-beli, sewa-menyewa, pengobatan dan perawatan, belajar-mengajar, memberi kuliah ilmiah umum, mengembangkan harta dengan pertanian atau perindustrian.

Dalam keadaan semacam ini, maka seorang laki-laki dibolehkan berinteraksi dengan kaum wanita karena memang aktivitas tersebut mengharuskan adanya interaksi. Aktivitas tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa adanya interaksi. Hanya saja, tatkala seorang laki-laki melakukan interaksi dengan seorang wanita dalam aktivitas-aktivitas yang memerlukan berkumpulnya (ijtima’) diantara laki-laki dan wanita tersebut di atas, ia harus membatasi dirinya pada hal-hal yang hanya berhubungan dengan aktivitas tersebut.

Ia dilarang (haram) melakukan interaksi dengan wanita tersebut di luar konteks perbuatan tersebut atau hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan interaksi tersebut. Semisal bertanya dalam masalah-masalah pribadi. Wallahualam…

Dikutip: Dari berbagai sumber.