Hikmah perbedaan redaksi tentang satu peristiwa dalam al-Qur`an Nov14

Tags

Related Posts

Share This

Hikmah perbedaan redaksi tentang satu peristiwa dalam al-Qur`an

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, kalau kita perhatikan dalam al-Qur`an, ada beberapa peristiwa atau kejadian yang diceritakan dalam beberapa surat dalam al-Qur`an dengan redaksi yang berbeda-beda, padahal kejadiannya satu, seperti kisah tentang Nabi Musa dan Fir’aun, juga tentang peristiwa pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS. Apakah hikmah dibalik perbedaan redaksi itu ustadz?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Sebelumnya perlu dipahami bahwa semua yang ada dalam al-Qur`an merupakan kalamullah, bukan perkataan para makhluk. Adapun perkataan para makhluk yang disebutkan dalam al-Qur`an itu hanyalah dari segi maknanya saja, sedangkan lafadznya adalah dari Allah SWT. yang menceritakan tentang umat-umat terdahulu atau tentang peristiwa yang akan datang dengan gaya bahasa dan kalimat dari Allah SWT. Jadi perkataan-perkataan makhluk yang ada dalam al-Qur`an itu hanya makna dan subtansinya yang dinisbatkan kepada yang mengatakannya, sedangkan lafadznya bersumber dari Allah SWT.

Allah SWT. berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـٰذَا الْقُرْ‌آنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.(QS. Yusuf [12]: 3).

Gaya bahasa cerita atau kisah merupakan salah satu gaya bahasa al-Qur`an, dan salah satu gaya bahasa cerita dalam al-Qur`an adalah pengulangan suatu cerita atau situasi yang sama dalam beberapa surat, dan dalam setiap pengulangan itu berbeda redaksinya dan dan konteks cerita itu disebutkan yang membuka makna baru dan manfaat yang berbeda.

Para ulama menjelaskan bahwa adanya perbedaan redaksi dan susunan kata tentang suatu peristiwa yang diceritakan dalam al-Qur`an itu merupakan bentuk ketinggian bahasa dan sastra al-Qur`an sebagai mukjizat yang diberikan Allah SWT. kepada Rasulullah SAW. yang tidak dapat ditandingi oleh para pujangga Arab yang terkenal dengan ketinggian bahasa dan sastra mereka.

Di samping sebagai bentuk ketinggian bahasa al-Qur`an, para ulama juga menyebutkan bahwa faedah dan manfaat lain dari pengulangan suatu peristiwa dalam al-Qur`an dengan redaksi yang berbeda antara lain adalah:

- Menghilangkan kebosanan ketika membaca cerita yang disebutkan dalam al-Qur`an itu karena dengan bahasa dan ungkapan yang baru dan berbeda dengan ayat dalam surat lain itu akan menarik perhatian pembaca dan menghilangkan kebosanannya.

- Menyesuaikan dengan masalah yang sedang dibahas dalam surat al-Qur`an yang cerita itu disebutkan, juga dengan konteks cerita itu dikisahkan. Di mana mungkin konteks dan masalah yang sedang dibahas dalam surat itu mengharuskan menyebutkan sisi yang belum disebutkan dalam surat lain.

- Penegasan tantangan al-Qur`an bagi orang-orang musyrik Arab untuk mendatangkan atau membuat satu ayat atau satu surat seperti yang ada dalam al-Qur`an. Dan hal itu semakin menegaskan ketidakmampuan mereka untuk membuat seperti yang terdapat dalam al-Qur`an meskipun mereka adalah kaum yang ahli dalam bahasa dan sastranya.

- Menambahkan beberapa aspek dalam kisah yang belum disebutkan dalam surat-surat lainnya sehingga kisah itu menjadi utuh dan lengkap sebagai suatu kisah.

- Menunjukkan dan mengingatkan akan pentingnya cerita tersebut sehingga perlu diulang-ulang dalam beberapa surat agar manusia dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita yang disebutkan dalam al-Qur`an tersebut.

Itulah sebagian dari hikmah dan faedah dari pengulangan suatu kisah dalam al-Qur`an di beberapa surat dengan redaksi dan gaya bahasa yang berbeda. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa al-Qur`an yang demikian indah dan sempurna bahasa dan gaya bahasa adalah wahu dan kalam Allah SWT, dan tidak mungkin dibuat dan dikarang oleh seorang manusia yang ummi (tidak bisa tulis baca).

Wallahu a’lam bish shawab..