Bersabar dalam ketaatan Nov20

Tags

Related Posts

Share This

Bersabar dalam ketaatan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr, wb,

Ustadz, yang saya ketahui, diantara bentuk sabar itu adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Apakah bentuk sabar dalam ketaatan itu ustadz? Dan bagaimanakah caranya kita dapat bersabar dalam ketaatan kepada Allah SWT. itu ustadz?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Para ulama membagi kesabaran itu kepada tiga macam, yaitu kesabaran dalam melakukan ketaatan, kesabaran dalam meninggalkan maksiat dan kesabaran dalam menghadapi musibah dan takdir Allah SWT. yang tidak disukainya. Dan sebagian ulama menegaskan bahwa jenis sabar yang paling tinggi adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. karena melakukan ketaatan itu lebih utama dari meninggalkan maksiat, karena itu bersabar dalam melakukan ketaatan itu lebih utama daripada bersabar untuk meninggalkan maksiat. Allah SWT. berfirman:

رَّ‌بُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ‌ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam [19]: 65).

Sabar dalam ketaatan itu mencakup sabar sebelum melakukan ketaatan dengan meluruskan niat untuk ikhlas hanya karena Allah SWT., sabar ketika melakukan ketaatan itu dengan melakukannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. dan sabar setelah melakukan ketaatan dengan tidak bersikap ujub membanggakan ibadah yang telah dilakukan yang belum tentu diterima Allah SWT.

Imam Syafi’i berkata, “Di Madinah saya melihat 4 hal aneh, salah satunya adalah saya melihat seorang kakek yang sudah berumur 90 tahun sepanjang hari berkeliling berjalan kaki tanpa alas kaki mengunjungi para penyanyi wanita untuk diajarkannya bernyanyi, namun ketika datang waktu sholat ia sholat dengan cara duduk. Hal ini menunjukkan betapa beratnya melakukan ketaatan itu bagi mereka yang tidak diberikan taufiq oleh Allah SWT.

Di antara jalan yang ditunjukkan Allah SWT agar kita bisa bersabar dalam ketaatan adalah dengan selalu bersama orang-orang yang taat. Allah SWT. berfirman:

وَاصْبِرْ‌ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَ‌بَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِ‌يدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِ‌يدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِ‌نَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُ‌هُ فُرُ‌طًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. al-Kahfi [18]: 28).

Dalam ayat ini, Allah SWT. menjelaskan bahwa perilaku orang taat kepada Allah itu didominasi oleh dua hal. Pertama, di awal pagi dia selalu berharap dan berdoa kepada Allah SWT. agar hari ini mendapatkan taufiq bersatunya keinginan dia dan kehendak Allah SWT. agar keseluruhan harinya dapat diisi dengan beribadah hanya karena Allah SWT. Kedua, di akhir siang dan awal malam dia senantia beristighfar, mengevalusai segala apa yang dijalaninya pada hari ini, dan mengakhirinya dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Dan agar kita dapat bersabar dalam melakukan ketaatan, Allah SWT. memerintahkan kita untuk selalu bersama orang-orang yang taat, bersabahat dan mencari teman yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW. bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawanmu. (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Dalam ayat di atas, Allah juga mengingatkan kita agar jangan sampai memalingkan wajah kita dari orang-orang taat itu hanya karena menginginkan kesenangan dunia yang bersifat fana ini. Jangan sampai kita menjauhi orang-orang yang melakukan ketaatan itu hanya karena melihat mereka miskin, tidak punya apa-apa.

Kesenangan dunia ini di sisi Allah SWT. tidaklah lebih berharga daripada satu sayap nyamuk. Rasulullah SAW. menjelaskan itu:

عن سهل بن سعد الساعدى قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Dari Sahl bin Sa’d al-Sa’idi ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Kalau dunia itu sebanding dengan sayap nyamuk di sisi Allah SWT, pasti Allah tidak akan memberi minum seteguk air minum pun untuk orang kafir.” (HR. Bukhari).

Dan untuk menjaga konsistensi kita dalam beribadah kepada Allah SWT, Allah juga mengingatkan kita untuk tidak mengikuti orang-orang yang dilalaikan hatinya oleh Allah SWT. sehingga mereka lupa berdzikir kepada Allah dan lupa kepada kehidupan akhiratnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dan pada akhirnya segala urusannya akan berakhir dengan kesia-siaan. Meskipun kelihatannya mereka punya harta dan punya kekuasaan, tetapi semua itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan baginya di dunia, tidak menenangkan hatinya dan tidak akan mendatang kebahagiaan baginya di akhirat.

Semoga kita terrmasuk yang diberi taufiq oleh Allah SWT. sehingga mampu bersabar bersama hamba-hamba-Nya yang selalu melakukan ketaatan kepada-Nya..amienn.

Wallahu a’lam bish shawab..