Ganteng Ganteng Syuhada Nov23

Tags

Related Posts

Share This

Ganteng Ganteng Syuhada

qgen

AQL Islamic Center – “Ganteng Ganteng syuhada” adalah tema pengkajian Q-Gen minggu ini. Dibawakan oleh ustadz Bendri Jaisyurahman, suasana begitu hangat. Peserta yang hadirpun lebih banyak dari biasanya.

Pada kajian ini, ustadz Bendri membawakan konten dengan membeberkan kisah salah satu seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah dan tidak asing lagi kemasyhurannya. Beliau ini tidak saja memiliki banyak kelebihan fisik dan mental, tapi juga ganteng. Dialah Mush’ab bin Umair, merupakan jajaran pertama yang masuk ke dalam agama Allah ketika itu.

Ustadz Bendri tentunya memiliki alasan kenapa memilih Mush’ab bin Umair pada ceramahnya. Selain sesuai dengan tema, beliau juga ingin memberantas pemikiran bahwa ketika seseorang diberi kelebihan fisik oleh Allah bukan berarti dia harus sombong dan memicu diri dengan popularitas sebagaimana terjadi sekarang ini, tapi justru sebaliknya, harus menjadi contoh tauladan bagi akidah orang disekelilingnya seperti sahabat yang menjadi utusan pertama ke luar Mekkah ini.

Mus’ab bin Umair, siapa yang tak tahu beliau. Keturunan bangsawan, kaya raya, berakhlak baik dan ganteng. Tapi beliau memilih untuk meninggalkan kenyamanan yang ia miliki demi cintanya kepada yang maha Mencipta. Beliau mengorbankan segalanya tanpa berfikir bahwa popularitasnya akan jatuh, dijauhi teman sepermainannya, karib kerabatnya bahkan dihapuskan dari nasab oleh ibunya. Setelah keislamannya, orang bahkan banyak yang memandang dia aneh, “ganteng ganteng kok Islam.” Kenapa begitu? Karena di saat itu ketika seseorang masuk Islam, maka dia dianggap sebagai pembangkang nenek moyangnya, leluhur dan adat budaya thagut yang sudah mengakar hingga ke tulang sumsum.

Sedikit cerita dibocorkan oleh ustadz Bendri tentang kisah perjalanan rohani Teuku Wishnu. Setelah beliau memutuskan untuk kaffah dalam berislam, popularitasnya menurun. Tidak ada lagi kamera yang membidiknya terlebih menyebarkannya di media massa. Tapi Teuku Wishnu tak bergeming, ia tetap dengan pendiriannya bahkan terus memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Yang lebih mengharukan, ia berusaha menjalankan sunnah semampu yang ia bisa lakukan, papar ajo Bendri.

Lalu, ustadz yang masih muda ini menyisipkan sebuah nasihat untuk jama’ah bahwa begitulah seharusnya kita hidup. Terutama anak muda, harus memiliki semangat juang dan ketuhanan yang tinggi seperti halnya Mush’ab bin Umair yang tidak takut ditinggalkan oleh wanita-wanita cantik yang pernah mengaguminya. Ia bahkan tidak takut ibunya tidak memberinya harta. Penghapusan nasab artinya penghapusan daftar nama dari jatah warisan. Tanpa dinar dan dirham dari rumahnya, ia tetap melaju dengan akhlak dan imannya menuju syahid. Wallahualam…