Keutamaan Zikir Pagi Petang#1 Dec07

Tags

Related Posts

Share This

Keutamaan Zikir Pagi Petang#1

zikir pgAQL Islamic Center – Di balik zikir-zikir pagi yang kita baca itu ternyata mengandung motivasi dan power yang luar biasa. Ada energy positif dari sudut pandang spiritual islam. Misalnya ketika kita memulai pagi dengan membaca ayat kursi, itu adalah ayat yang paling agung didalam Al-Qur’an, kenapa dikatakan paling agung? Sebab yang pertama; ayat ini dimulai dengan Asma Allah yang agung dan Al-hayyul Al-Qayyuum. Kedua, dalam satu ayat ini, nama Allah di ulang-ulang sebanyak tujuh belas kali lima disebutkan secara langsung dan dua belas dengan dhamir. Ada banyak riwayat yang bersumber dari Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau yang menginformasikan tentang keagungan ayat ini. Ubaiy bin Ka’ab misalnya, sahabat Nabi ini menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepadanya:

Ayat apakah yang paling agung dalam al-Qur’an?

Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” ujar Ubaiy.  Kalimat ini diulang-ulang oleh Ubaiy, sampai ia kemudian berkata, bahwa ayat yang paling agung adalah ayat Kursi. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasulullah. Begitulah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam riwayat al-Hakim, Ubaiy juga menguraikan dalam kesempatan lain, bahwa ia pernah bertemu dengan jin dan bertanya kepadanya. “Apakah bacaan yang dapat menjauhkan manusia dari gangguan jin?” Sang jin menjawab, “Ayat kursi“. Ketika informasi tersebut disampaikan Ubaiy pada Rasulullah, beliau menjawab, “Benar (informasi) si jahat itu”.

Kita bisa bayangkan kalau orang itu mengawali paginya dengan membuat setting commitment seperti itu. Hampir semua kalimat-kalimat dalam ayat ini mengandung penegasan-penegasan terhadap Allah yang Maha Agung. Ketika orang itu mendoktrin pikirannya, menanamkan keyakinannya dengan apa yang terkandung dalam ayat kursi, tentu disertai dengan pemahaman, maka akan memperoleh kedahsyatan yang luar biasa. Coba kita kembali merenungkan ayat yang agung ini kalimat demi kalimat;

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

 

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Baqarah: 255). bersambung…

> Abu Faqihah