Karyawan yang diwajibkan memakai atribut Natal Dec09

Tags

Related Posts

Share This

Karyawan yang diwajibkan memakai atribut Natal

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, bagaimanakah hukumnya karyawan yang bekerja di mall, restoran, toko dan perusahaan lainnya yang mewajibkan karyawannya untuk memakai topi sinterklas dan atribut-atribut Natal lainnya?

Hamba Allah.

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Umat Islam harus memahami apa itu perayaan Natal bagi umat Nasrani. Natal adalah hari rayanya umat Nasrani dan termasuk bagian dari ritual dan prinsip-prinsip dasar keyakinan mereka. Mereka meyakini di hari Natal inilah (25 Desember) Yesus Kristus dilahirkan, meskipun ada perdebatan panjang tentang hari kelahiran Yesus itu sendiri. Pada hari itu umat Nasrani berkumpul untuk mengingat dan merayakan hari kelahiran Kristus yang menurut keyakinan mereka adalah anak tuhan atau salah satu unsur dari tuhan.

Dalam perayaan Natal itu umat Nasrani mempunyai tradisi dan simbol-simbol yang menegaskan identitas dan keyakinan mereka. Di antara tradisi dan simbol-simbol itu adalah saling tukar menukar hadiah/kado, pohon Natal dan tokoh Sinterklass. Tokoh legenda ini berhubungan dengan Santa Nikolas yang menurut keyakinan mereka adalah seorang uskup gereja yang pada usia 18 tahun sudah diangkat sebagai pastor dan terkenal dengan sikap belas kasihan, selalu membela dan membantu fakir miskin. Orang Amerika kemudian menggambarkannya sebagai orang tua yang periang selalu tertawa, bertubuh gendut, berjanggut putih, memakai baju merah dan topi.

Dalam masalah perayaan Natal ini, para ulama pada umumnya sepakat mengharamkan umat Islam untuk ikut serta merayakannya, baik dengan ikut serta secara lansung dalam perayaan itu atau tidak lansung dengan ikut memeriahkan perayaan itu seperti dengan menjual atau memakai simbol-simbol Natal tersebut. Bahkan Ibnu al-Qayyim meriwayatkan dalam kitabnya Ahkam ahli al-Dzimmah ijma’ ulama mengenai haramnya mengucapkan selamat pada orang kafir untuk perayaan hari raya mereka. Hanya dalam masalah mengucapkan selamat kepada orang kafir di hari raya mereka ini saja ada perbedaan pendapat para ulama kontemporer antara yang mengharamkan dan yang membolehkan dengan syarat dan ketentuan yang ketat.

Islam mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk selalu berbuat baik kepada umat lain jika mereka tidak memerangi dan tidak mengusir umat Islam dari tanah airnya, tapi itu tidak berarti harus mengikuti mereka dalam gaya hidup, ritual ibadah dan kayakinan mereka.
Di Indonesia, pengharaman itu ditegaskan oleh fatwa MUI pada tahun 1981. Para ulama melandaskan pengharam itu kepada dalil-dalil berikut:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ‌ وَإِذَا مَرُّ‌وا بِاللَّغْوِ مَرُّ‌وا كِرَ‌امًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS. Al-Furqan [25]: 72).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ulama-ulama Abu al-‘Aliyah, Thawus, Ibnu Sirin, al-Dhahhak, Rabi’ bin Anas dan yang lainnya menfasirkan al-Zuur dalam ayat di atas dengan hari raya dan hari besar kaum musyrikin. Hal litu bermaksud kalau kita ikut serta merayakan hari raya orang kafir itu berarti kita mengakui dan ridho dengan kesesatan dan kekafiran mereka meskipun kita tidak menginginkan kekafiran itu bagi diri kita sendiri.

Rasulullah SAW. juga bersabda:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، أنه قال: قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ، ولهم يومان يلعبون فيهما ، فقال: ما هذان اليومان ؟ قالوا : كنا نلعب فيهما في الجاهلية ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما : يوم الأضحى ويوم الفطر

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ketika Rasulullah SAW. datang di Madinah, penduduk Madinah mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada hari itu. Nabi SAW. lalu bertanya: “Ada apa dengan dua hari itu? Mereka menjawab: “Kami biasanya menjadikan kedua hari itu sebagai hari bermain-main pada masa jahiliyyah”. Maka Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah SWT. telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu Iedul fitri dan Iedul Adha. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Nasa`i).

Disini Nabi SAW. telah menentukan hari raya yang seharusnya dirayakan oleh umat Islam yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Hari raya dalam Islam merupakan bagian dari ritual ibadah yang tidak boleh dicampur-adukkan dengan ritual dan hari raya orang-orang kafir.

Dan Rasulullah SAW. juga melarang umat Islam untuk menyerupai dan meniru-niru orang kafir, terutamanya dalam hal yang berkaitan dengan gaya hidup, ritual ibadah dan keyakinannya. Beliau bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Daud).

Jelaslah bagi kita bahwa memakai simbol-simbol Natal yang merupakan hari raya bagi umat Nasrani tidak dibolehkan bagi umat Islam. Maka seorang karyawan yang bekerja di perusahaan, toko atau mall yang mewajibkan kepada para karyawannya untuk memakai topi atau pakaian yang merupakan tradisi dan simbol umat Nasrani dalam perayaan Natal, harus berusaha menjelaskan secara baik kepada atasannya bahwa agamanya melarang dia untuk melalukan itu.

Dan seharusnya atasan yang memahami dan menerapkan teloransi antar umat beragama tidak akan memaksakan hal itu kepada bawahannya yang berbeda keyakinan denganya. Tapi kalau tidak diizinkan dan akan dipecat kalau tidak melakukannya maka dalam keadaan seperti ini karyawan ini dibolehkan untuk memakai atribut itu dikarenakan darurat atau dengan keterpaksaan dalam hati disertai dengan istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Tapi dia wajib berusaha mencari kerja atau tempat kerja lain yang memberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan dan mengamalkan agama dan keyakinannya, karena kalau tempat bekerjanya sudah tidak memungkinkan ia untuk menjalankan ajaran agamanya, maka tempat itu jauh dari keberkahan. Lebih baik mencari pekerjaan yang memungkinkan kita untuk menjalankan kewajiban agama kita meskipun gajinya sedikit, daripada pekerjaan yang gajinya banyak, tapi menghalangi kita untuk tunduk dan patuh pada aturan Allah Subhanallahu ta’ala.

Allah Subhanallahu ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَ‌سُولُهُ أَمْرً‌ا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَ‌ةُ مِنْ أَمْرِ‌هِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab [33]: 36).

Wallahu a’lam bish shawab..