Tahun Baru Dec17

Tags

Related Posts

Share This

Tahun Baru

t bAQL Islamic Center –  Seiring berjalannnya waktu  tanpa terasa, tahun akan kembali berganti, itu artinya tahun demi tahun telah kita lalui dengan begitu cepatnya, berarti usia kita semakin bertambah namun umur kita semakin berkurang dari yang telah di tetapkan Allah untuk kita.

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” HR. Muslim no. 2669.

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”  HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269).

***

Menjelang tahun baru, banyak hal yang perlu kita renungkan sebagai bentuk intropeksi diri dari waktu yang telah kita lalui, di antaranya; apa sajakah yang telah kita perbuat dalam satu tahun ini? Apakah amalan baik kita lebih banyak ketimbang amal buruk kita, atau malah sebaliknya? Dari hidup yang sangat singkat ini, apa yang telah kita persembahkan untuk islam? Apa yang telah kita perbuat untuk agama ini? Apakah selama ini kita masih mempersembahkan  sisa-sisa untuk islam? Sisa-sisa dari harta, sisa-sisa dari waktu, dan sisa-sisa dari tenaga kita? Ataukah mungkin tidak ada sama sekali?. Kalau demikian, lalu kapankah kita mempersembahkan yang terbaik untuk islam dari waktu, harta dan tenaga yang telah Allah amanahkan kepada kita dan kelak akan di mintai pertanggung jawabannya? Bukankah untuk memperoleh yang terbaik dari Allah adalah setelah memberikan yang terbaik yang kita miliki di jalan-Nya? Kenapa untuk islam sebagai agama yang kita cintai dan menjadi wasilah jalan keselamatan kita di dunia dan di akhirat, begitu berat kita berkorban? Justru terkadang, bahkan sering kali kita lebih mementingkan dan memprioritaskan waktu kita untuk hal yang belum jelas, harta kita untuk hal yang  syubhat dan tenaga kita untuk suatu hal yang sia-sia? Astagfirullah Al-Azhim. Semoga Allah mengampuni segala khilaf dan kealpaan kita.

Bebicara tentang tahun baru, berarti tidak lepas dari berbagai bentuk ucapan dan perayaan yang terjadi di belahan dunia ini. Ironisnya, umat islam tidak sedikit yang menjadi korban perayaan tahun baru ini, padahal sudah jelas agama kita yang hanif ini tidak mensyari’atkannya. Yang lebih parahnya lagi, dari perayaan ini mendatangkan hal yang bernilai negatif bahkan merusak moral, generasi dan bangsa ini. Jutaan bahkan milyaran uang habis untuk sebuah acara yang nilai akhirnya hanya nol besar, bahkan kerugian besar yang di akibatkan dampak buruk dari perayaan tahun baru ini.

Tahun baru kerap kali menjadi ajang berhuru hara, berpesta pora, bercanda ria, dan menghambur-hamburkan uang. Acara-acara konser  yang mengumbar aurat dan mengundang syahwat pun di gelar di mana-mana yang di hadiri oleh ribuan massa khususnya muda-mudi, acara seperti ini juga sering kali menelan korban jiwa, menyebabkan perkelahian, pertikaian, permusuhan dan mengakibatkan terjadinya banyak hal yang tidak di inginkan, seperti ikhitilah, bercampur baurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat dan dalam suasana setengah sadar, berjoged bersama, yang akhirnya menyebabkan terjadinya perzinahan, hamil di luar nikah dan  berujung pada aborsi. Lengkaplah sudah penderitaan dan dosa besar yang di timbulkan olehnya.

Kaum muslimin yang di rahmati Allah. Sudah saatnya kita mengikihiri semua ini, cukuplah sudah tahun-tahun lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, betapa merayakan tahun baru itu sama sekali tidak mendatangkan faedah, manfaat, apalagi berkah dan rahmat dari Allah swt. Justru sebaliknya, malah mudharat dan murka Allah yang datang bertubi-tubi silih berganti menimpa bangsa kita ini akibat tidak mengindahkan pesan-pesan Allah dalam ayat-ayat-Nya serta senantiasa melampaui batas di atas bumi-Nya ini. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum: 41;

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوالَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan karena akibat ulah tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan azab dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”

Di akhir tahun ini, marilah kita senantiasa menjadikan ajang untuk bermuhasabah, mengevaluasi  dan mengintropeksi diri, semoga kesalahan-kesalahan masa lalu tidak lagi terulangi di tahun yang akan datang, mari kita jadikan tahun baru untuk selalu memperbaharui lagi niat kita, memperbanyak do’a, ibadah dan istighfar serta menata ulang program dan target positif yang akan kita capai dalam rangka menjadi hamba yang beriman, menyandang gelar al-Muttaqin yang kelak akan memperoleh surga dan ridha-Nya insyaAllah. Amin yaa rabbal alamin. Karena tujuan penciptaan kita sesungguhnya adalah beribadah, seperti firman Allah berikut ini;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku” (QS. Adz-zariyat: 56). Wallahu a’lam bis shawab.

Abu Faqih